oleh

Adistya Mayasari, Masih Terus Berkaya Lewat Dunia Maya

KabarBanyuwangi.co.id – Penyanyi Pop Using Banyuwangi yang lagu-lagunya selalu boming di era tahun 1990-an, Adisya Mayasari, hingga saat ini ternyata masih tetap berkarya dengan media berbeda. Jika sebelumnya tampil dari panggung ke panggung, dan rekaman VCD (Video Compack Disc), namun sekarang lebih banyak berkarya lewat daring, atau dunia maya, yaitu dengan menyebarkan karyanya melalui Channel Youtube.

“Sebagai seniman, sulit meninggalkan dunia menyanyi. Kendati seharian saya sudah disibukan kerja di perbankan, dan harus mengasuh dua anak yang butuh perhatian. Untung  sekarang sudah era digital, dan serba online, sehingga saya bisa berkarya di dunia maya,” kata Adistya yang sekarang menjadi karyawan Bank Jatim, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Jumat (12/6/2020).

Menurut ibu dari dua anak laki, Adzan Khasmir Qolbi (8), dan Hadza Fadhilyn Saabry (4) ini, awalnya memang kerepotan membagi waktu antara bekerja, mengasuh anak untuk tetap menyalurkan hobby menyanyi profesional.

“Saya pernah rekrut asisten rumah tangga, tetapi akhirnya saya memilih mengasuh sendiri dengan dibantu orang tua saya. Apalagi semua proses menyanyi tidak pernah jauh dari rumah, termasuk pengambilan gambar untuk klip sederhana,” ujar istri Eko Budi Cahyono, atau Eko Bece ini.

Baca Juga: Mamet Ndut: “Mak Pon Itu Keras Kepala, Tapi Nurut ke Saya”

Penyanyi yang awalnya bergabung deang POB (Pop Osing Banyuwangi) dengan lagu andalannya “Sumebyar” karya Yon DD ini, juga pernah bergabung di Group Rolas dari Rogojampi, dan bersama Eko Bece menulis lagu “Kangen” yang akhirnya juga boming.

“Sampai sekarang, saya masih menulis sendiri lagu yang saya nyanyikan bersama Mas Eko Bece, suami saya. Lebih nyaman apabila menyanyikan karya sendiri, karena penjiwaannya lebih dapat,” ujar Sarjana Ilmu Politik alumni Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ini.

Selama mengisi Channel Youtube Adistya Mayasari Official dengan lagu-lagu lama yang didaur ulang, terkadang dirinya juga menyanyikan lagu berbahasa Indonesia yang sedang ngetop.

“Lagu Using Banyuwangi saat ini mendapat saingan keras dari Pop Jawa. Apalagi di Banyuwangi sendiri orangnya majemuk, banyak warna non Using. Populeritas lagu Jawa di tingkat Nasional, membuat seniman-seniman Banyuwangi harus bekerja keras untuk merebut jaman keemasan awal-awal tahun 2000 lalu,” ujar mantan Presenter JTV Banyuwangi tahun 2009-2013 ini.

Sementara itu, suami Adistya, Eko Bece sangat kolaboratif dalam berkesenian bersama istrinya. Ekolah yang membuatkan Channel Youtube sebagai media ekspresi istrinya. Bahkan dalam tayangan-tayangan di Youtube, banyak juga mereka yang komen adalah penggemar-pengemar lama yang sudah merindukan aktivitas Adistya di dunia tarik suara.

“Sebagai seniman yang memulai karir dari seni musik tradisional, arah tetep mempertankankan itu sangat kuat. Bahkan di Channel Youtube Adistya Mayasari Official, sangat terbuka untuk kolaborasi dengan musik-musik tradisional di Banyuwangi. Seperti musik Patrol, tentu dengan aransement yang dinamis,”ujar Eko Bece.

Adistya Mayasari, dan suami, Eko Budi Cahyono (Eko Bece), beserta kedua anaknya. (Foto: istimewa)

Saat ini, pemasaran lewat VCD sudah tidak menjamin bisa dibeli masyarakat, karena ada kecenderungan perkembangan IT, sangat mudah diakses mereka untuk mendengarkan, dan melihat video.

“Oleh sebab itu, mengikuti pasar adalah yang terbaik yaitu Youtube. Ini hampir dilakukan oleh 99% seniman Banyuwangi, jika mau mudah dilakukan dan tidak tergantung pada orang lain,” tambah Eko.

Baca Juga: Pelukis S Yadi K: “Gandrung Poniti itu Penguasa Panggung Pertunjukan dan Kehidupan”

Pekembangan IT mutlak direspon sebagai wujud mendekatkan diri dengan penggemar. Karena anak-anak muda sekarang mayoritas sudah pegang Androaid. Seniman yang responsif dalam berkarya, karena mendekati mereka, dan sekaligus menyelami apa yang ia mau.

“Kolaborasi gaya musik seniman Banyuwangi saat ini bervariasi, karena pasar di Youtube memang demikian adanya. Itu bukan berarti kita meninggalkan musik lokal, tetapi hanya menggiring dengan kolaborasi notasi musik, dan lagu agar musik lokal diterima, khususnya kaum milineal,” tambah Eko menunjukan kiat-kiatnya berkesenian di dunia maya.

Berasarkan hasil evaluasi Eko di Channel Youtube Adistya Mayasari Official, setiap postingan musik, ternyata kolaborasi lebih banyak ditonton. Sikap idealis juga masih diperlukan untuk mengenalkan budaya lokal.

“Saat ini, saya memberi porsi idealis dan pasar 50:50. Ini hitungan yang masuk akal, jika bisa bertahan dan bisa diterima gagasan-gagasan kesenian kita. Apalagi dalam realitas kehidupan sehari-hari, seniman Banyuwangi seperti orang asing di daerahnya sendiri. Banyak kegiatan besar, justru menghadirkan seniman dari luar. Bukan mengoptimalkan potensi yang ada, atau minimal memberi kesempatan yang proposional,” harap Eko.

Pada masa pandami Covid-19 ini, ternyata dampaknya juga sangat besar terhadap seniman yang berkarya di dunia maya. Padahal seharusnya mereka senang, karena banyak orang dianjurkan melakukan aktivitas di rumah.

“Namun kenyataannya tidak demikian, karena daya beli masyarakat menurun dan semua aktivitas sekolah anaknya harus dilakukan secara online. Otomatis mereka saat membeli paket data, banyak digunakan ana-anaknya belajar. Kesempatan memutar hiburan melalui Youtube berkurang”, pungkas Eko Bece yang selalu berkreasi dan berenovasi dalam berkesenian ini. (sen)

_blank