oleh

“Akademi Madang Maning” (AMM), Wadah Orang Banyuwangi di Malang

KabarBanyuwangi.co.id – Sejak Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Malang kurang aktif, para sesepuh Ikawangi Malang terus menggelar pertemuan sebagai ajang silaturahmi sesama warga asal Banyuwangi. Pertemuan yang dihadiri tidak lebih dari 50 anggota sesepuh Ikawangi Malang ini, selain arisan juga makan-makan, hingga akhirnya tercetus memberi nama “Akademi Madang Maning” (AMM).

“Sebetulnya, AMM ini lahir akibat vakumnya kegiatan Ikawangi Malang selama dua tahun lebih. Teman-teman senior Ikawangi, tetap ingin menghidupkan oragnisasi sambil mencari solusi terbaik untuk menghidupkan kembali Ikawangi Malang yang pengurusnya kebanyakan adalah Mahasiswa,” kata Mohamad Ilham, Ketua AMM yang asli Kepatihan Rogojampi.

AMM memang didominasi para akadamesisi asal Banyuwngi, maka dari itu ada nama akademinya. Kalau makan-makan, sudah menjadi tradisi orang Banyuwangi yang suka. Sering juga mengusung makanan khas Banyuwangi, karena di daerah tersebut sulit didapat.

“Anggota ini syaratnya harus aktif, sehingga dibuatlah arisan sebulan sekali. Anjangsana ke anggota, tiga bulan sekali. Terus Padhang Ulanan setahun sekali,” tambah Ilham yang tinggal di Malang sejak 1984.

AMM juga memiliki Sanggar Seni Jagapati, sebagai wadah melestarikan Kesenian Banyuwangi di Malang.
AMM juga memiliki Sanggar Seni “Jagapati”, sebagai wadah melestarikan Kesenian Banyuwangi di Malang. (Foto: dok AMM)

Humas AMM, Abdul Basit menambahkan, AMM tetap di bawah Induk Ikawangi Malang Raya. Mengingat di Malang Raya, Mahasiswa juga mengunakan wadah Ikawangi dan setiap Kampus namanya beda-beda.

“AMM ini sebagai wadah para senior Ikawangi, sedangkan Ikawangi di Malang Raya banyak pengurusnya para mahasiswa. Jadi antara Ikawangi Malang Raya dan AMM saling mengisi,” tambah Basit asli Penataban ini.

IMM mempunya motto: “Isun dulur rika. Rika dulur Isun” (Saya saudara Anda. Anda saudara saya). Ini sebagai wujud kedekatan antara AMM dalam menjalin hubungan sosial dengan saudara sesama asal Banyuwangi.

“Tradisi asal Banyuwangi yang diusung ke Malang adalah “Endog-Endogan”, yaitu pada bulan Maulud memperingati lahir Nabi Muhammad SAW. “Kembang Endog” kita datangkan langsung dari Banyuwangi, pelaksana lapangan melibatkan anak-anak Ikawangi”, tambah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang ini.

AMM setiap tahun juga menggelar "Endog-Endogan" seperti di Kampung Asalnya Banyuwangi. (Foto: dok AMM)
AMM setiap tahun juga menggelar “Endog-Endogan” seperti di Kampung Asalnya Banyuwangi. (Foto: dok AMM)

Banyuwangi sebagai daerah yang mempunyai ragam budaya dan kesenian, orang-orang juga mempunyai cinta yang tinggi terhadap keseniannya. Seperti AMM juga mempunyai Sanggar Seni Tari sendiri, namanya Jagapati.

“Pada saat acara Padhang Ulanan, kita pentas kesenian Banyuwangi. Baik oleh anggota Ikawangi dan AMM, kalau ada rejeki kita ngundang kesenian langsung dari Banyuwangi,” pungkas Basit.

Pengurus AMM, Ketua: Abah Ilham (Kepatihan, Rogojampi). Penasehat: Abah Sugiyanto Rasmudin (Wonorekso, Singojuruh), Abah Bandi (Garit, Singojuruh), Abah Bambang Sumargiono (Tukangkayu, Banyuwangi),Bambang Sutejo (Boyolangu, Giri). Humas: Abdul Basit (Penataban, Giri), Peltu Hariyadi (Songgon). Bendahara: Hj Mar’atin (Macan Putih, Kabat) Sekretaris: Bu Santi (non aktif/Lugonto), Bu Rita (Lugonto, Rogojampi). (sen)

_blank

Kabar Terkait