oleh

Biar Tidak Berjubel, Panitia Blambangan Antik Expo Batasi Pengunjung

KabarBanyuwangi.co.id – Konsep Blambangan Antik Expo 2020 yang berlangsung di Kantor Kecamatan Banyuwangi, sejak awal didedikasikan sebagai proyek percontohan event saat 17-an. Membeludaknya pengunjung pameran, sudah diantisipasi panitia dengan membatasi maksimal 100 pengunjung dalam areal pameran, selebihnya dilarang masuk sebelum pengunjung yang ada di dalam keluar.

“Pengunjung pada malam minggu sampai membeludak, sehingga panitia harus menerapkan buka-tutup pintu pameran. Jumlah pengunjung di dalam maksimal 100 orang, selebihnya nunggu di luar hingga ada yang keluar. Ini langkah kami, agar pameran ini memang benar-benar sesuai standart protokol kesehatan dan bisa menjadi contoh bagi warga lain bila kelak menggeran acara,” tegas Novian Dharma Putra, Ketua Pemuda Etalase Banyuwangi, sekaligus panitia acara.

Kepada para pengunjung, Novian menyampaikan permohonan maaf akibat ketentuan yang diterapkan.

“Semua tujuannya sama, acara berlansung dengan ketentuan Protokol Kesehatan. Alhamdulillah, kesadaran mengenakan masker dan cuci tangan sebelum masuk areal pameran cukup bagus. Kendati demikian, panitia tetap mengingatkan bila ada pengunjung yang datang,” tambah Novian, Minggu (9/8/2020).

Baca Juga: Kantor Kecamatan Banyuwangi Kota Jadi Destinasi Barang Antik

Baca Juga: Bila Penyandang Tuna Rungu Mendapat Pelatihan Rosting Kopi

Baca Juga: Komunitas Pemuda Etalase Gelar Pasar Organik dan Benda Antik

Sementara itu. Moch. Lutfi, Camat Banyuwangi Kota menjelaskan, tujuan Pameran Barang Antik ini untuk memberi wadah anggota komunitas Barang Antik yang tidak ada pemasukan. Mereka akhirnya mau mengikuti saran panitia, asal bisa menggelar kegiatan.

“Ini wujud kami dalam memfasilitasi teman-teman komunitas Barang Antik, untuk recovery ekonomi di era pandemi. Mereka sama sekali tidak ada pemasukan, dengan ada kegiatan begini sedikit menggeliat ekonomi keluarga. Barang-barang langka yang dipamerkan, memang terasa murah bila dibandhing kolektor,” ungkap Lutfi.

Dari sekian barang yang dipamerkan, memang ada yang menyita perhatian pengunjung, yaitu keberadaan Dramaphone Victor, Piringan Hitam buatan tahun 1906. Barang buatan Eropa tersebut, ditawarkan oleh pemiliknya seharga Rp. 35 juta.

Gramaphon buatan Eropa tahun 1906, ditawarkan dengan harga Rp. 35 juta. (Foto: istimewa)
Gramaphon buatan Eropa tahun 1906, ditawarkan dengan harga Rp. 35 juta. (Foto: istimewa)

Para pengunjung anak muda, ternyata antusias sekali menyaksikan event yang baru pertama digelar di Banyuwangi. Bahkan mereka yang senang bermain sosial-media, sangat diuntungkan adanya event ini.

“Acara seperti ini, harusnya  lebih sering diadakan. Selain untuk pengenalan barang-barang antik, juga bisa dijadikan kontent untuk flog,” ujar Genta Noval, asal Kertosari Lingkungan Kramat.

Pengunjung lain, Ali Cik Nang dari Kelurahan Mojopanggung, keduanya sama seneng melihat acara pameran benda Antk. Acara ini sangat menarik dan baru pertama kali diadakan di Banyuwangi. Ini bisa menjadi distinasi sejarah, terkait barang-barang antik,” kata Ali

Pemuda lain yang datang ke pameran tidak bisa menyembuyikan rasa senangya, selain terus mengumbar senyum saat melihat benda-benda kuno, dia juga banyak bertanya kepada penjaga stand.

“Senang melihat barang antik, terutama kramik-keramik klasik seperti perabot makanan. Besar harapan saya, bisa terus diadakan dan ditambah lagi koleksi-koleksi barang antik yang dipamerkan,” kata Alvin seorang pemuda yang mengaku dari Srono. (sen)

_blank

Kabar Terkait