oleh

BMI: Bertahan Hidup Membuat Tempe Gembos, Saat Lockdown Di Hongkong

KabarBanyuwangi.co.id – Hidup sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hongkong, juga berdampak berat saat negeri beton ini menerapkan Lockdown yang kedua kalinya. Jika sebelumnya BMI yang bekerja di rumah tangga warga Hongkong hanya berkewajiban merawat anak atau orang tua manjikan, serta memasak dan membersihkan rumah.

Namun sekarang tugas itu bertambah berat, yaitu harus membersihkan kaca, handel pintu, serta rajin menyemprotkan disinfektan di sejumlah sudah rumah. Tugas ekstra tersebut, tidak berdampak ekstra ke penghasilan. Malah sebaliknya, banyak BMI yang lepas dari majikannya, setelah hasil rapid test dinyatakan reaktif, serta ditambah ada yang terkonfirmasi positif setelah swab.

Tentu perasaan BMI bak disambar petir di siang bolong, karena karus menjalani karantina dan melepaskan pekerjaannya. Covid-19 dan lockdown memang telah mengubah tatanan kehidupan sosial, terutama di Hongkong sebagai negara modern. Larangan demi larangan, sudah diterapkan begitu ketap kepada seluruh warga yang tinggal di Hongkong. Tidak hanya penduduk asli, tetepi buruh mingran juga mendapatkan pengawasan yang sama.

Baca Juga: Liburan Di Tengah Lockdown Hongkong Kedua

Baca Juga: Ini Kisah Hidup BMI Asal Banyuwangi di Hongkong Saat Lockdown Kedua

Meski sudah memenuhi protokol kesehatan, mulai mengenakan masker, cuci tangah setiap datang dan bepergian, namun banyak majikan melarang BMI keluar dari rumah. Kondisi sekarang ini dirasakan BMI yang lama tinggal di Hongkong, lebih berat dibanding saat virus Sars melanda. Stres dan kalut tidak hanya dirasakan majikan, namun para pekerja perusahaan juga sama.

Mereka tidak boleh kerja di perusahaan, tetapi semua harus dilakukan di rumah. Tentu bertambah beban kerja rumah bagi BMI, malah tidak sedikit BMI yang diputus kontrak, akibat kondisi ekonomi sang majikan bermasalah. Berkaitan berita seorang BMI yang positif terkofriamsi positif covid-19, saat ini tengah dirawat di sebuah rumah sakit.

Tempe gembos hasil produksi BMI saat Lockdown di Hongkong. (Foto: istimewa)
Tempe gembos hasil produksi BMI saat Lockdown di Hongkong. (Foto: istimewa)

Menurut berita yang beredar, BMI tersebut hendak mencari majikan baru di Agen HLC home. Namun hingga saat ini belum mendapatkan job baru. Teman BMI tersebut, sempat mengeluh tidak enak badan. Sebelumnya sempat tinggal satu boarding house dengan dua puluh delapan BMI lain, termasuk dari negara Philipina.

Di tengah wabah yang kian menyebar, saya menyempatkan diri bertanya pada seorang cece (BMI) asal Malang Jawa Timur, tentang covid-19. Dia berharap wabah segera berakhir. Kelak dia berangan-angan membuka lapangan pekerjaan sendiri saat berada di tanah air. Cukup sebagai ibu rumah tangga, sekaligus pedagang tempe dan tempe gembos.

Baca Juga: Hongkong Lockdown Lagi, dan Larangan Sholat Idul Adha

Makanan favorit orang Indonesia itu, tetap dicari meskipun ada di luar negeri. Saya mendukungnya dan sempat belajar cara membuat tempe. Dari kehidupan sederhananya, saya bisa memetik keteguhan dan kekuatan hatinya dalam menaklukkan sakit yang diseritanya. Dalam kerasnya kehidupan di Hongkong, dia berjuang sekuat tenaga demi dollar dan keluarga di Indonesia.

Srikandi ini banyak mengajarkan saat berinteraksi dengan banyak orang, ketika hidup sebagai seorang BMI yang stay out. Menjalani karantina, sebelum benar-benar masuk rumah majikan yang baru. Srikandi ini masih bergulat dengan bahan makanan tempe, katanya sengaja dibuat untuk dimakan bersama teman-teman satu boarding house yang juga sama-sama dalam masa karantina.

Dalam satu boarding, saya hidup bersama sepuluh orang. Dalam dua atau tiga hari ke depan, mereka akan diambil majikan masing-masing. Di boarding house yang kami tempati, sementara waktu tidak mengizinkan anak luar tinggal selama covid-19. Selain yang tengah proses ganti majikan, di ruang karantina ada juga yang menunggu visa turun.

(Penulis: Tirto Arum, BMI asal Banyuwangi di Sai Wanho, Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait