oleh

Demi Menyambung Hidup, Perajin Batik Khas Banyuwangi Terpaksa Jualan Sayur

KabarBanyuwangi.co.id – Dampak Covid-19 memupuskan harapan, Mohammad Adif Akromi (27), warga Desa Padang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, sebagai perajin Batik khas Banbyuwangi. Adif atau Romi, begitu ia akrab disapa, baru setahun menikah, setelah usaha kreatifnya membuat batik khas Banyuwangi mendapat respon positif dari warga Banyuwangi.

“Dua tahun saya menekuni kerajinan ini, setelah malang melintang sebagai pekerja di sejumlah tempat di Bali. Selain mempunyai keturunan sebagai pembantik, yaitu dari ayah asli Pekalongan Jawa Tengah, selama bekerja di Bali saya selalu main ke kawasan perajin batik saat libur kerja. Kebetulan keluarga dan kakak saya juga memproduksi stemp untuk batik cap, sehingga saya tidak asing lagi dengan dunia perbatikan,” ujar jebolan kelas dua SMK Negeri Ihya Ulumuddin, Desa Padang, Singojuruh Banyuwangi, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (13/9/2020).

Baca Juga: Batik Laras Pondoknongko, Menambah Khasanah Batik Khas Banyuwangi

Baca Juga: Meski Dihajar Pandemi, UMKM Mulai Bergeliat Bangkit

Baca Juga: Bangkitkan Ekonomi Lokal, Rumah Kreatif Geber Pendampingan UMKM

Setelah menekuni kerajinan batik, gayung bersambut, Adif menemukan tempat berjualan dan promosi, yaitu Pasar Wit-witan Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, setiap Minggu pagi. Dari promosi ini, karya Adif semakin dikenal luas, karena mereka yang datang ke Pasar Wit-witan bukan saja dari Banyuwangi, banyak diantaranya dari luar kota Banyuwangi.

“Alhamdulillah, setelah berjulan di Pasar Wit-witan, pesanan batik terus meningkat. Sehari bisa 20 hingga 40 lembar, baik perorangan atau lembaga. Batik yang saya produksi selain motifnya khas, juga harga terjangkau kisaran Rp. 100 ribu per lembar. Saya juga mengerjakan batik tulis, harganya tidak sampai Rp. 1 juta,” ujar suami Egar Puspita, asal Desa Bagorejo Kecamatan Srono Banyuwangi.

Batik Motif "Pupus Kelunthung", juga bisa dipakai Penari Gandrung Banyuwangi. (Foto: dok RMZPOTRET)
Batik Motif “Pupus Kelunthung”, juga bisa dipakai Penari Gandrung Banyuwangi. (Foto: dok RMZPOTRET)

Namun perjalan sukses Adif terhenti, sejak 6 bulan lalu, saat merebaknya virus corona. Bahkan penetapan pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas berjualan di Pasar Wit-witan, langsung mematikan omzet yang pernah diterimanya.

Saat itu, Adif dan karyanya sedang naik pamor, dengan diciptakannya motif khas Singojuruh, yaitu Pupus Kelunthung. Motif ini mengambil dari daun muda wadung sebagai bumbu khas masakan Geseng Menthok, dengan Kerupuk Kelunthung yang diolah pada menjelang lebaran.

“Saya senang sekali saat karya itu diapresiasi banyak orang, termasuk para pejabat di tingkat Desa, Kecamatan hingga Kabupaten. Tetapi saat akan mengembangkan, datang pandemi yang memupuskan rencana besar saya. Pesanan langsung terhenti, selama enam bulan terakhir. Saya tgerpkasa berjulan sayur di Pasar Bagorejo, tempat tinggal istri saya. Ini langkah cepat yang saya alami untuk bertahan hidup. Alhamdulillah, seminggu lalu sudah mulai ada pesanan meski sedikit dari Desa Kemiri,” ujar pemuda yang dikenal kreatif satu keluarga ini.

Keahlian Adif tidak saja dituangkan dalam karya-karya komersial, ia juga rajin memberi pelatihan membatik dari sejumlah desa yang ingin memproduksi batik khas desanya. Pelatihan itu meliputi merancang desain, cara membatik.

“Seperti Desa Kemiri, saat bingung menentukan dan memberi nama motif, saya mengusulkan nama ‘Sigar Kemiri’, ternyata warga menerima dengan bentuk hasil diskusi dari mereka.” kata Adif yang mengaku terus belajar dan menggali tradisi Banyuwangi sebagai bahan membuat motif baru dalam membatik.

Motif Batik "Pupus Kelunthung" karya Adif sebagai ikon Batik Singojuruh. (Foto: dok RMZPOTRET)
Motif Batik “Pupus Kelunthung” karya Adif sebagai ikon Batik Singojuruh. (Foto: dok RMZPOTRET)

Saat ini, Adif mengaku sedang mengembangkan motif asli karyanya, yaitu ‘Serngenge Wetan. Motif ini dibangun dengan tetap memperhatikan pakem batik khas Banyuwangi. Dalam motif ‘Serngenge Wetan’ tergambar peta wilayah Kaputen Banyuwangi, dengan keunggulan masing-masing wilayah.

“Saya pisahkan wilayah Banyuwangi sesuai keunggulan alamnya, seperti wilayah Barat saya beri gambar kopi. Wilayah Timur saya beri motif sisik ikan, sebagai kawasan pantai.  Wilayah selatan saya beri motif paras gempal, gambaran wilayah yang bertebing dan bebatuan. Sedangkan wilayah tengah saya beri motif sembur beras’ dan Gajah Oling, sebagai gambaran daerah pertanian yang subur,” tambah Adif yang mengaku lebih dominan darah Usingnya dalam berkarya.

Meski sekarang lebih banyak berkutat memproduksi batik cap, namun Adif mengaku bisa juga mengerjakan batik tulis dengan motif-motif khusus sesuai pemesan.

“Kalau batik cap itu nuruti selera pasar, pemutaran secara ekonomi juga cepat. Sementara batik tulis yang harganya relatif mahal, memang jarang yang memesan kepada saya. Makanya saya konsentrasi ke batik cap dulu, setelah ada rejeki lebih saya akan membuat batik tulis secara eksklusif. Saya jamin hasil harya saya lebih murah, meski kualitasnya tidak murahan,” pungkas Adif atau Romi ini. (sen)

_blank