oleh

Ditengah Pandemi Covid-19 Omzet Penjualan Kue Lebaran Turun 50 Persen

KabarBanyuwangi.co.id – Meski sudah mendekati lebaran, geliat warga untuk membeli kebutuhan lebaran seperti kue kering masih tidak terlalu ramai dibanding tahun lalu. Seperti yang terjadi di rumah industri kue kering “ANISA” di Desa, Lemambang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi ini, sejak awal ramadan hingga mendekati lebaran, permintaan kue kering untuk lebaran tahun ini masih cenderung sepi.

Menurut kererangan pemilik rumah industri kue kering, Kurnia Dwi Lestari, sepinya pembeli kue kering akibat banyak pelangganya yang tidak bisa mudik ke kampung halaman imbas dari wabah pandemi Covid-19 yang saat ini masih belum ada tanda-tanda akan berakhir. Padahal jika pada kondisi normal, pada pertengahan ramadan hingga mendekati lebaran seperti sekarang, pesanan kue lebaran membanjir hingga kewalahan melayani.

“Kalau dibandingkan tahun lalu sangat jauh sekali. Biasanya pertengah ramadan seperti sekerang ini pesanan kue sudah membludak sampai kewalahan melayani. Tapi tahun ini belum ada pelanggan saya yang pesan. Paling hanya warga sekitar yang beli kue lebaran,” keluh Kurnia.

Wanita berhijab yang sudah menekuni usaha kue kering hampir sepuluh tahun ini menambahkan, sepinya pembeli secara otomatis pendapatan menjadi turun drastis yaitu mencapai 50 persen dibanding tahun lalu. Untuk menekan biaya operasional seiring menurunya produksi kue, dirinya juga telah merumahkan sebagaian pegawainya.

“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu penurunan omset penjualan sampai 50 persen. Tapi tetap kita syukuri saja. Mangkanya biar tidak rugi terlalu besar pegawai sebagaian saya rumahkan. Kalau ini tidak diantisipasi dengan pengurangan pegawai, kerugaian akan semakin besar. Sebenernya saya kasihan sama pegawai, tapi bagaimana lagi?,” kisah Kurnai.

Sementara itu, untuk tetap bertahan ditengah pendemi Covid-19, usaha kue kering “ANISA” selain mengandalkan pelanggan warga sekitar, penjualan secara online juga terus dimaksimalkan. Para pengusaha kue rumahan berharap, pandemi Covid-19 segera berlalu agar usahanya bisa kembali normal seperti biasanya.

Kurnia juga akan terus berjuang ditengah wabah pandemi Covid-19. Sebab usaha yang digeluti ini adalah warisan dari keluarganya yang harus tetap dipertahankan.

“Kami pengusaha kue memohon agar pandemi ini cepet selesai, dan saya akan terus bertahan ditengah wabah ini. Karena usaha yang saya rintis ini peninggalan orang tau yang hurus saya pertahankan sampai kapan pun,” pungkas Kurnia.

Hari raya Idul Fitri atau lebaran identik dengan sajian kue kering khas lebaran seperti, opak gulung, kue bolu tape, kue grem, kue senyum, pia kacang dan liannya. Selain dijadikan sajian lebaran, kue kering juga dijadikan oleh-oleh bagi para perantau yang akan kembali mudik ke tempat kerjanya di luar kota setelah lebaran.

Harga kue kering yang ditawarkan sangat bervariatif, mulai dari 10 hingga 25 ribu rupiah, tergantung jenis kue. Satu bungkus opak gulung dijual 10 ribu rupiah, kue bolu tape 17 ribu rupiah, dan kue grem dijual 25 ribu rupiah. Selain harga yang sangat terjangkau untuk kalangan orang bawah, rasanya pun juga enak.

“Ini belanja kue kacang sama kue bolu untuk lebaran, setiap tahun beli disini dekat dengan rumah saya. Harganya juga murah, rasanya enak dan bisa melihat langsung proes pembuatan kue,” jlentreh Ibu Sofi, pembeli kue. (eko)

_blank