oleh

DKB Akan Pertemukan Kalangan Seniman Tradisional Dengan Seniman Santri

KabarBanyuwangi.co.id – Dalam waktu dekat, Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dibawah kepemimpinan Hasan Basri, masih akan menuntaskan program yang ada. Seperti menjadwal pentas kelompok Kesenian Tradisional dan Sanggar Tari di sejumlah Hotel, serta kompetisi seni daring.

“Kita tuntaskan program-program yang sudah direncanakan, kemudian akan merevitalisasi kesenian-kesenian daerah Banyuwangi yang hampir mati, tidak punya kesempatan lagi tampil, hingga akhirnya hilang dengan sendirinya. kata Hasan Basri kepada kabarbanyuwangi.co.id, Jumat (25/9/2020).

“Salah satunya Rengganis, atau Umarmoyo yang terakhir ada di Cluring. Kita sudah menemukan kelompok masyarakat yang sedang menghidupkan kembali Umarmoyo, dan sudah ada yang sanggup ngundang tampil kalau mereka sudah siap,” imbuhnya.

Baca Juga: Seniman Berharap Ketua DKB Baru Bisa Mengayomi Semua Elemen Kesenian di Banyuwangi

Baca Juga: Hasan Basri Ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB)

Baca Juga: Disbudpar Atur Jadwal Pentas Sanggar Tari, Janger dan Jaranan Selama Pandemi

Hasan Basri yang juga Wakil Kepala SMPN 1 Banyuwangi menambahkan, pihaknya juga sedang mendata kesenian Banyuwangi asli lainnya, yang nanti akan dihidupkan dengan memanfaatkan generasi lama yang masih hidup. Kesenian yang dimaksud adalah Gembrung, Ahmad Kehamad, Mocoan Pacul Gowang dan lain-lainya.

“Masalah Mocoan, kita harus bangga terhadap keberadaan anak-anak Milenial yang rutin berlatih mocoan Lontar Yusuf. Kelompok ini bisa sebagai pintu masuk, untuk membaca lontar lain atau Babad khas Banyuwangi yang banyak ditemukan di sejumlah tempat. Babad-babad tersebut kebanyakan berupa tembang, tentu cengkok-cengkok tembang khas Banyuwangi ini bisa dipertahankan dan unik,” tambah pria asli Mangir, Rogojampi ini.

Pekerjaan rumah yang segera dilakukan DKB lainya, adalah mendekatkan kalangan seniman tradisional dengan kalangan santri. Menurut alumni IAIN Malang ini, kebanyakan kesenian tradisional Banyuwangi berbasis agama. Namun saat kesenian itu berkembang, senimannya terlihat menjauh dan bahkan ada gap antara seniman dan kalangan santri.

“Ambi contoh saat kesenian asli dari Pondok Pesantren kuntulan, kemudian dimodivikasi menjadi Kundaran (kuntulan Dadaran-red) oleh Pak Sahuni. Laju perkembangan Kundaran ini sangat pesat, bahkan sholawatan yang mengiringinya masih terus berkumdang. Namun lambat laun hilang, kemudian Kundaran itu seperti tercabut dari akarnya,” ucap pria yang akrab dipanggil Kang Son.

Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) yang baru. (Foto: istimewa)
Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) yang baru. (Foto: istimewa)

Belum lagi kesenian Gembrung, atau Burdah Using yang masih ada di daertah Mondoluko, Kemiren, Kecamatan Glagah. Kesenian ini sangat Islami dalam penampilannya, cengkok sholawat atau puji-pujian tehadap Nabi Muhammad SAW sangat khas Banyuwangi.

“Saya dan penngurus DKB, sudah merancang pertemuan dengan Ormas Islam seperti NU dan Muhamadiyah. Bahkan juga dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk membicarakan masalah kesenian yang islami ini. Apabila sudah bertemu dan ada dialog, mungkin kita dalam mengembangkannya tidak perlu ragu-ragu lagi,” imbuh Kang Son.

Kang Son mengakui, meskipun kegiatan kesenian tradisional Banyuwangi selama 10 tahun terakhir terlihat marak, namun justru menjauhkan subtasi dari kesenian itu sendiri.

“Makanya harus ada langkah kongrit, untuk mengimbangi perkembangan itu. Bila kita tidak sigap, tidak menutup kemungkan semua kesenian tradisional akan menjadi kesenian pop dan jauh dari nilai-nilai tradisi lagi,” pungkas Hasan Basri. (sen)

_blank

Kabar Terkait