oleh

“Geseng Menthok”, Masakan Banyuwangi Kuno Peninggalan Kraton Wijenan

KabarBanyuwangi.co.id – Nama Wijenan dalam Babad Tawangalun, disebut pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Macanputih dalam waktu singkat. Wijenan yang sekarang manjadi hanya sebuah dusun, masuk Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, masih dikenal warganya ahli memasak khas Banyuwangi kuna.

Konon Nenek Moyang orang Wijenan, merupakan Juru Masak dari Kerajaan Macan Putih yang pernah pindah Ibu Kota di Wijenan. Salah satu olahan khas Dusun Wijenan  adalah “Geseng Menthok”, masakan sederhana dengan bahan enthok dan bumbu khas daun muda atau pupus wadung.

Menurut penuturan, Hudaya Wisatra (26) pemilik Warung Geseng Bu Tin warga Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Geseng ini awalnya hanya dimasak saat peringatan hari-hari besar Islam, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, peringatan Isro Mi’roj dan lain sebagainya.

“Mulai kecil saya sudah makan Geseng dan ikut mencabuti bulu mentok bersama orang tua, dengan tetangga sekampung bila ada acara keagaman. Masakan ini sudah lama sekali ada, secara turun temurun. Namun orang sekitar kampung tidak ada yang berani menjual masakan ini. Akhirnya saya buka warung, ternyata antusianya begitu besar dari orang luar kampung,” tutur Hudiya Wisastra, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Kamis (17/9/2020).

Baca Juga: “Bengahan Makwek”, Sedia Makanan-Minuman Jadul Dan Kekinian Secara Online

Baca Juga: Kangen Menu Makanan Using Jadul? Anda Bisa Pesan Lewat Online

Baca Juga: Pertama, Bilik Kuliner Steril Hadir di Kampung Mandar

Hudiya Wisastra yang akrab dipanggil Sastra ini, tidak bisa menjelaskan kenapa masakan khas ini dinamakan Geseng. Bahkan orang tuanya, Lamhatin (55) atau Bu Tin, juga tidak tau alasan diberi nama Geseng.

Setelah sukses membuka Warung Geseng Menthok di daerahnya, Sastra kemudian burusaha mengembangkan sayap bisnis dan mengenalkan masakan Geseng ini ke Banyuwangi kota. Namun akibat pademi Covid-19, warung yang beralamat di Jl. Jendral S Parman No 66 Sumberejo Kecamatan Banyuwangi, tutup untuk sementara waktu.

“Di Banyuwangi atau di manapun, Insyaallah belum ada masakan Geseng Menthok. Bumbu Geseng yang khas daun muda atau wadung, tanpa brambang bawang. Makanya kami berani mengembangkan ke Banyuwangi, karena ini masakan khas yang tidak dijual sebelumnya,” ujar Sastra

“Masakan Geseng mempunyai cita rasa pedas, ada sedikit kecut segar dari daun wadung. Insya`allah cocok dengan lidah orang Banyuwangi yang sebagian besar suka pedas,”imbuh suami Ima (27) tersebut.

"Geseng Menthok", masakan Kuno yang mulai dikenalkan kembali. (Foto: istimewa)
“Geseng Menthok”, masakan Kuno yang mulai dikenalkan kembali. (Foto: istimewa)

Pupus Wadung merupakan bahan bumbu yang mutlak harus ada, karena citra rasa dominan dari masakan “Geseng” adalah kecut dan segar. Bahkan bila barengan dengan musim hajatan hari-hari besar Islam, warga Wijenan sampai kesulitan mencari bahan pupus wadung. Mereka terpaksa membeli hingga ke luar desa, yaitu di Kecamatan Songgon.

“Saya rencana memasarkan Geseng, tetapi tidak meendapatkan pupus wadung, ya tepaksa gagal memasak Geseng. Masakan Geseng ini, konon adalah salah satu olahan yang disukai petingi Keraton Macanputih saat itu. Sebelum saya dan Ibu menjual, warga Wijenan mensakralkan dan mengolah hanya pada saat ada hajatan dan peringatan hari-hari besar agama,” tandas Sastra.

Apresiasi pertama  saat membuka Warung Geseng Menthok datang dari orang luar kampung, karena mereka merasa aneh.

“Setelah itu  saya posting di Facebook, akhirnya  banyak orang luar kecamatan datang. Apalagi setelah media rame-rame memberitakan, akhirnya masakan Geseng dikenal di mana-mama,” jelas Sastra.

Meskipun bumbu Geseng ini bisa untuk memasak Ayam dan Bebek, namun yang umum dan dirasa pas adalah dipakai memasak Menthok. Padahal kalau dimasak biasa, Menthok lebih keras, atau ‘alot’.

“Cara masaknya, bumbu dihaluskan terus bumbu dimasak bersama daging mentok, dan air putih, juga minyak sedikit dimasukkan ke dalam presto bersamaan pupus wadung yang telah diiris tipis-tipis,” pungkas  Sastra. (sen)

_blank

Kabar Terkait