oleh

Harga Ayam Potong Melambung Tinggi, Pedagang Menanggung Rugi

KabarBanyuwangi.co.id – Hari Raya Lebaran Idul Adha atau Hari Raya Qurban masih kurang 28 hari lagi, namun harga kebutuhan pokok seperti ayam potong sudah mulai merangkak naik. Di pasar tradisional Banyuwangi, harga ayam potong yang sebelumnya hanya dikisaran Rp 33 ribu, saat ini naik menjadi Rp 42 ribu perkilonya.

Menurut pengakuan salah seorang padagang, kenaikan harga ayam potong sudah terjadi sejak semiggu lalu. Padahal usai Hari Raya Lebaran Idul Fitri, harga ayam potong sudah mulai stabil dikisaran angka Rp 33 ibu perkilonya.

“Habis Lebaran Idul Fitri kamirin sebenarnya harga ayam potong turun. Dari Rp 40 ribu, sedikit demi sedikit turun jadi Rp 33 ribu. Setelah itu sempat naik lagi Rp 38 ribu. Tapi mulai seminggu kemarin sampai sakarang harganya malah naik lagi jadi Rp 42 ribu perkilonya,” kata Sulistiyowati, padagang ayam potong, Sabtu (4/7/2020) pagi.

Sulistiyowati menambahkan, naiknya harga daging ayam potong lebih disebabkan minimnya pasokan dari luar daerah maupun lokal. Sebab sejak masa pendemi Covid-19 hingga saat ini banyak peternak ayam potong menutup kandangnya, alias bangkrut. Akibatnya, stok daging ayam potong di pasar menjadi berkurang drastis.

Selain itu, sulitnya ekonomi juga menjadi faktor utama menurunya daya beli masyarakat membeli daging ayam. Bahkan sejak awal pandemi Covid-19 harga daging ayam potong sempat turun drastis hanya Rp 15 rbu perkilonya.

“Penyebabnya peternak banyak yang tutup karena bangkrut. Kapan hari itu sampeyan kan tau sendiri, harga ayam sempat turun cuma Rp 15 ribu. Malah daging ayam potong sempat dibuang-buang karena nggak laku dijual. Tapi pas lebaran kemarin naik lagi jadi Rp 40 ribu,” tambah wanita yang keseharianya dipanggil Wati ini.

Sementara itu, naiknya harga daging ayam potong dikeluhkan oleh masyarakat utamanya para pemilik warung makan ataupun resto. Sebab dengan adanya kenaikan harga daging ayam potong yang sangat fantastis, dirasa sangat memberatkan beban masyarakat.

“Ya dengan masa pademi Covid ini semuanya harga semakin gila ya, kalau kita katakan. Kita sebagai penjual, kebetulan saya punya cafe dan resto. Dengan penjualan yang tidak menentu, tapi harga daging terus naik sepert ini kami rasa sangat susah dan berat,” ujar Ibu Swatika salah seorang pembeli sekaligus pemilik resto di Banyuwagi.

Baca Juga: Kiat Bertahan Saat Pandemi, Pemilik Cafe Harus Kreatif Bikin Menu Baru

Baca Juga: Pengusaha Kuliner: Menanggung Rugi di Tengah Pandemi

Baca Juga: Pedagang Food Court Marina Boom 90% Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Untuk menyiasati agar tetap bisa berjualan, para pemilik warung, cafe maupun resto terpaksa harus mengurangi pembelian daging ayam potong. Sebab jika dipaksakan membeli dengan jumlah banyak dikawatirkan akan menambah beban kerugian dampak menurunya daya beli konsumen untuk mengkonsumsi daging ayam potong di sejumlah warung makan.

“Yang jelas karena harganya terlalu mahal kita nggak berani nyetok banyak-banyak. Saya kan punya dua resto, biasanya beli 10 kilo, tapi sekarang ngurangi pembelian hanya 4 kilo saja. Yang sekarang ini karena kita sudah langganan dikasih harga Rp 40 ribu.Tapi kalau nggak langganan dikasih harga Rp 42 ribu,” keluh Ibu Swatika.

Mengantisipasi naiknya harga daging ayam potong, masyarakat maupun pedagang berharap kepada pemerintah setempat memberikan solusi agar harga kembali stabil seperti biasa. Sebab jika dibiarkan, diprediksi harga daging ayam potong yang dijual di pasaran akan terus merangkak naik.

“Ya kami sebagai pedagang minta solusinya kepada pemerintah. Kalau tetap dibiarkan, harga daging ayam potong ini kwatir akan bertambah naik. Kita akan menanggung rugi karena penjualan semakin sepi. Apalagi ini hampir Hari Raya Idul Adha, pastinya terus naik harganya,” pungkas Sulistiyowati. (man)

_blank