oleh

Ipda Sundoro, Polisi Pelopor Pertanian Asli Banyuwangi

KabarBanyuwangi.co.id – Saat peristiwa Bom di Jakarta ramai akhir tahun 2016 lalu, ada seorang Polisi yang membuat gebrakan. Namun bukan pengungkapan dari pelaku Bom, melainkan menemukan Pupuk Tanaman dari bahan baku Bom. Berita positif atas kemajuan di bidang pertanian ini, sontak membuat heboh. Bahkah, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat itu, khusus menemui Aipda Sundoro (saat itu) yang bertugas di Polsek Jatiasih Kota Bekasi.

“Pembuatan pupuk terilhami saat saya bertugas sebagai anggota Anti Teror Bom (ATB) Polda Metro Jaya di 2.000. Kemudian saya minta mutasi ke Polsek Jatiasih Kota Bekasi, sambil berkebun kecil-kecilan. Pengalaman saat olah TKP saya catat betul, ternyata bahan baku bom sama dengan bahan baku pupuk, hanya beda fungsi,” ujar Ipda Sundoro

“Dan Itu saya terlusuri lewat Google, kemudian saya jadikan Pupuk Cair semi organik yang murah dan bisa membantu petani,” imbuh Bapak dua anak asli kelahiran Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Srono dan besar di Desa Mangir Kecamatan Rogojampi.

Sundoro, lahir 16 Desember 1972. Pendidikan SDN 1 Mangir, SMPN 1 Rogojampi dan SMA Sultan Agung Rogojampi. Kemudian pendidikan Polri Secaba Polri 1992/1993 SPN Lido Polda Metro Jaya. Pertama tugas Intelkam Polda Metro Jaya lanjut ATB Anti Teror dan Bom/ Densus 88 2000-2006.

Pupuk Cair Semi Organik Produksi IPDA Sundoro. (Foto: istimewa)
Pupuk Cair Semi Organik Produksi IPDA Sundoro. (Foto: istimewa)

Tahun 2007, pindah Polres Metro Bekasi Kota di Intelkam. Tahun 2018  di Polsek Jatiasih, kemudian Sekolah Perwira di Sukabumi tahun 2019. Selesai sekolah, pindah Polda DIY di Polres Kulon Progo. Sebagai anak petani, Sundoro masih bercita-cita menjadi pelopor pertanian. Tekadnya terus menggebu, sebagai upaya membantu para petani.

“Setelah saya pindah di Kulonprogo, sekarang mulai merintis pertenakan kambing. Tentu saja, saya tidak ingin seperti pertenak tradisional dengan makanan-makanan ternak yang konvensional. Ini sedang saya teliti, nanti kalau sudah berhasil akan saya publikasikan,” ujar suami Ety Mulyaningsih, seorang Anggota Polwan yang juga berdinas di Kulon Progo.

Bapak dua anak ini, memilih kedua anaknya dimasukan ke Pondok Pesantren. Meski awalnya sempat tidak tega, namun berkat pasrah dan selalu meminta bimbingan Allah SWT, kini Sundoro mengaku lebih tenang dalam berkarir, serta mengembangkan hobinya di bidang pertanian dan peternakan.

“Bagi saya yang tidak mempunyai waktu banyak untuk mengawal anak, serta kurang dalam pendidikan agama. Mondok adalah sebagai pilihan, karena selian kedisiplinan dan kemandirian secara umum diajari di Ponpes. Alhamdulillah, kedua anak saya di Ponpes Krapyah Yogyakarta. Bahkan yang pertama lulus rangking satu, langsung ditawari Beasiswa ke Cina, Malaysia dan UII, tapi anak saya memilih yang di UII,” kata Bapak yang sering puasa sunah Senin-Kamis ini.

Kresna (kanan), Putra Pertama IPDA Sundoro, lulusan Terbaik Ponpes Krapyah, Yogyakarta. (Foto: istimewa)
Kresna (kanan), Putra Pertama IPDA Sundoro, lulusan Terbaik Ponpes Krapyah, Yogyakarta. (Foto: istimewa)

Perjalanan karir di Kepolisian, sering disampaikan kepada saudara-saudara. Bahwa meski berasal dari Desa, kalau berusaha keras pasti akan ada hasilnya. Sundoro tidak menceritakan tentang enaknya, tetapi lebih banyak cerita tentang proses sehingga dia seperti saat ini.

“Kepada saudara-saudara di Banyuwangi, sedikit apapun bekal ilmu dari orang tua dan lingkungan, kalau ditekuni dan dikembangkan, Insyaalah akan ada hasilnya, seperti yang saya buktikan. Saya banyak mendengar dari petuah orang tua saya dan guru-guru saya. Apapun ikhtiar kita, harus diimbangi dengan doa,” pungkas Sundoro yang berdinas di bagian Shabara Polres Kulon Progo. (sen)

_blank