oleh

“Janger Cilik Pasinan” Bangkit, Saat Anak-Anak Jenuh Akibat Covid-19

KabarBanyuwangi.co.id – Pasinan adalah nama dusun, masuk Desa Singojuruh, Kecamatan Singojuruh. Pasinan merupakan Kampung Using tua, karena sejumlah kesenian Using seperti Angklung Caruk, Janger dan Rengganis ada di Pasinan.

Bahkah sekitar awal tahun 1980-an, Pasinan punya dua Group Janger anak-anak, atau Janger Cilik yang mengikuti kelompok Janger Dewasa. Janger Pasinan Kulon dan Pasinan Wetan saat itu, kerap diundang hingga keluar Desa.

Setelah 40 tahun berlalu, Selasa (13/10/2020) malam, telah resmi didirikan Janger Cilik dengan nama ‘Siswo Karyo Budoyo’. Tradisi persemian sebuah kelompok kesenian, menurut orang Using ‘diperas’. Pementasan perdana ini, mendapat sambutan meriah dari warga Pasinan Kulon. Bahkan tidak sedikiti diantara penonton ada yang datang dari luar Pasinan.

Bedanya dengan Janger Cilik era 1980-an, sekarang ini murni gagasan anak-anak yang haus hiburan selama Pendemi Covid-19. Awalnya mereka main “Janger-Jangeran” dengan perlatan seadanya. Sampur atau selendang, serta kelambu atau tirai rumah sebagai keber panggung. Namun kegiatan itu akhirnya diwujudkan dengan membentuk Group Janger cilik secara serius.

Baca Juga: Panjak Muda Mengapresiasi Pendokumentasian Gending dan Musik Gandrung Klasik Banyuwangi

Baca Juga: Komposisi Musik Banyuwangi, “Damar Suluh” Masuk 10 Besar Nasional

Panggagasnya adalah Akbar Pengestu, siswa salah satu SMP. Keinginan Akbar didukung penuh oleh orang tuanya. Bahkan orang tua Danil bernama Yuli, sangat mendukung kegiatan anaknya. Ditambah seorang Ibu berma Mariyan, juga total mendukung kreativitas anaknya di bidang seni. Keduanya beralasan, kalau memang kegiatan terbaik bagi anaknya, maka apapun akan dilakukan.

Secara umum, warga Pasinan Kulon juga mendukung dengan adanya janger cilik. Pembuatan tenda swadaya dilakukan anak-anak, lihat saja tulisan dan warna-warna yang dipilih. Pementasan pertama, hanya digelar kecil-kecilan, dengan pengeras, atau sound kecil dan lampu kecil. Namun kondisi ini, membuat para orang tua semangat mendukungnya.

Warna-warna yang dipilih anak-anak, hasil swadaya sendiri. (Foto: istimewa)
Warna-warna yang dipilih anak-anak, hasil swadaya sendiri. (Foto: istimewa)

Pada penampilan pertama, penoton secara sukarela diminta sumbangan, untuk keberlangsungan Janger Cilik ini ke depannya. Alahmdulillah, relatif banyak yang mau menyumbang. Bahkan ada yang mengundang tampil dari luar kampung, yaitu Desa Wonosobo, Kecamatan Srono.

Inilah kreativitas anak-anak kampung, dengan dukungan penuh orang tua dan masyarakat, mampu sebagai pelestari kesenian warisan nenek moyangnya. Penampilan pertama, membawakan lakon ‘Wulan Wisuda’. Semua property, juga hasil kreasi anak-anak.

Baca Juga: Kabar Gembira: Banyuwangi Wakili Jawa Timur Dalam Festival Musik Daring Nasional 2020

Agil, Salah satu kondakter pembuatan dekorasinya. Mengkomando teman-temannya untuk mewujudkan estetika panggung menurut presepsi mereka. Tohir, salah satu pembina serta melatih anak-anak agar punya keberanian membawakan perannya.

Bedanya dengan Janger Dewasa, Janger Cilik ini seluruh dialognya menggunakan bahasa sehari-hari, yaitu Bahasa Using. Padahal Janger Dewasa masih menggunakan Bahasa Jawa, kecuali saat selingan hiburan pelawak menggunakan Bahasa Using. Keberanian bereksperimen ini, perlu mendapatkan apresiasi. Saat anak-anak ini melestarikan kesenian, sekaligus juga melestarikan Bahasa Using.

Penampilan Pelawak Cilik 'Bungklek' yang membuat penoton betah. (Foto: istimewa)
Penampilan Pelawak Cilik ‘Bungklek’ yang membuat penoton betah. (Foto: istimewa)

Dari seluruh penampilan, ternyata yang paling disenangi penonton adalah penampilan pelawak cilik dengan nama panggung ‘Bungklek’. Bahkan penampilan Bungklek yang masih berumur 5 tahun ini, mampu membuat penonton rela berdiri hingga pertujukan usai.

Pasinan memang sumber inspirasi kesenian asli Banyuwangi, karena banyak seniman dan pelaku seni asal Pasinan. Jika 40 tahun lalu pernah jaya kelompok kesenian Banyuwangi di dusun ini, sekarang mulai terlihat bangkit kembali. Semoga Pasinan bisa mengispirasi daerah lain di Banyuwangi, bagaimana melesatrikan dan mengembangkan kesenian tradisionalnya.

(Penulis: Adlin Mustika Alam, Ketua Komunitas Seni ‘Jiwa Etnik Blambangan’, Singojuruh)

_blank

Kabar Terkait