oleh

“Jaranan Buto Banyuwangi” Populer di Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat

KabarBanyuwangi.co.id – Jiwa seni warga Banyuwangi tidak perlu diragukan, sejak kecil hingga tua kebanyakan tahu tentang salah satu keseniannya dan bisa memainkan. Dalam suatu kesempatan, Rektor Untag Banyuwangi, Andang Subiyanto pernah mengatakan, jika orang Banyuwangi lahir procot diberi kendang pasti bisa berbunyi merdu. Ini untuk mengungkapkan, tingginya rasa berkesenian warga Banyuwangi.

Seperti halnya warga Banyuwangi yang tinggal di Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Kendati disibukan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun masih menyempatkan diri mendirikan kesenian asli dari tanah kelahirannya, Banyuwangi. Meski awalnya ada yang bukan pemain atau panjak kesenian, tetapi saat ditanah rantau mereka mau nguri-nguri kesenian asli daerah asalnya.

“Kabupaten Mamuju Tengah terdiri dari 5 Kecamatan, 54 Desa dan 3 (UPT). Ada kesenian pendatang sebanyak 8 Group Kuda Kumping beragam variasi dari berbagai daerah di pulau Jawa. Namun dari jumlah tiu, sebanyak 4 group adalah Jaran Buto Banyuwangi,” kata Panasehat Ikawangi Mamuju Tengah, Sujarno.

Baca Juga: Ikawangi Balikpapan, Selalu Dilibatkan Dalam Kegiatan Sosial Bersama Ormas Lain

Baca Juga: Ruwatan Jaranan dan Barong Banyuwangian Berumur 25 Tahun di Kampar Riau

Baca Juga: Disbudpar Terima Pendaftaran Kelompok Kesenian Banyuwangi di Luar Negeri

Menurut pria asli Sarongan Kecamatan Pesanggaran ini, Pemerintah Mamuju Selatan sangat apresiatif terhadap keberadaan Jaranan Buto Banyuwangi. Terbukti setiap perhelatan resmi, juga banyak mengundang Jaranan Buto Banyuwangi untuk tampil menghibur.

“Masyarakat Mamuju Tengah sangat senang dengan atraksi-atraksi Jaranan Buto Banyuwangi, demikian juga dengan Pemerintah Daerahnya. Jaranan Buto selalu diapreasisi, dengan mengisi acara-acara resmi dan diikutkan dalam sejumlaqh festival kesenian,” tambah Kang Jarno yang juga seorang penari jebolan Sanggar Jinga Putih, milik Pak Sumitro Hadi.

Kang Jarno yang sekarang menjabat Sekretaris Dinas (Sekdin) Pemberdayaan Masyarakaat dan Desa (PMD) Pemkab Mamuju Tengah, mengaku kerap dipercaya Pemkab Mamuju, untuk mendatangkan artis Nasional maupun Lokal, setiap hajatan Ulang Tahun Pemkab Mamuju Tengah.

“Saat menjabat Kabid Pariwisata, saya sering undang anak-anak Banyuwangi tampil di sini. Seperti Renny Farida, Dian Ratih bersama Adiknya (8 orang bersama musisinya) VEGA (Sebelum masuk BINTANG PANTURA), Denik Armelia tahun 2019 dan Pengendang anak Songgon, Sandi sudah tiga kali ke Mamuju Tengah,” ungkap Kang Jarno yang pernah manjadi guru sejak tahun 1991 hingga 2013 dan sekarang bergabung ke Pemkab Mamuju Tengah.

Group Kuda Lumping Campursari Banyuwangi di Mamuju Barat. (Foto: istimewa)
Group Kuda Lumping Campursari Banyuwangi di Mamuju Barat. (Foto: istimewa)

Jaranan Buto Banyuwangi yang tampil di Mamuju Tengah, tidak seperti Jaranan Buto di daerah asalnya. Ada kreasi-kreasi, namun tetap tidak merubah pakem yang ada.

“Setiap tampil, pasti ada selingan lagu-lagu Banyuwangi. Penyanyinya ada asli keturunan Banyuwangi dan ada pula Jawa Polmas (Keturunan Warga Transmigrasi Kolonial) dan ada Anak Asli Sulawesi. Lagu-lagu Banyuwangi, di Mamuju Tengah sudah masuk ke desa-desa,” ujar Bapak dari dua anak yang sudah mandiri, satu tinggal di Mamuju Tengah, satunya berkeluarga dan tinggal di Siliragung.

Sebanyak 4 group Jaranan Buto Banyuwangi tersebut, selain didukung warga keturunan Banyuwangi, ada juga keturunan dari daerah lain, bahkan asli Sulawesi. Rata-rata memang pemain baru, sehingga mereka perlu latihan dan pelatihnya mengambil dari tetangga desa yang sudah punya group Jaranan.

“Selain itu kita mengundang pamain Jaranan yang dianggap master, karena sudah pernah bergabung dengan Group Jaranan asal Cemetuk Cluring dan panjak Janger Bangorejo. Mereka itu dijadikan pelatih bagi anggota pemula, namun bila ada group yang mampu bisa mendatangkan langsung dari Banjyuwangi,” terang Kang Jarno. (sen)

_blank