oleh

Kabar Gembira: Banyuwangi Wakili Jawa Timur Dalam Festival Musik Daring Nasional 2020

KabarBanyuwangi.co.id – Banyuwangi kembali lolos mewakili Jawa Timur, dalam Festival Musik Tradisional Indonesia (Daring) tahun 2020. Kegiatan yang digelar Direktorat Perfilman, Musk dan Media Baru, Dirjen Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan ini, pendaftarannya dibuka sejak 20–27 Juli 2020 lalu.

Sebanyak 34 peserta mewakili provinsi dipilih oleh Tim Kurator, dengan mengirimkan karya dalam format video (mp4) dikirim dalam bentuk soft file. Karya musik berbasis tradisi yang mewakil Jawa Timur berjudul “Suluk Tangkub” adalah dari Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring, Banyuwangi.

“Alhamdulillah, dengan waktu terbatas akhirnya bisa kirim video ke panitia dan diumumkan mewakili Jawa Timur dalam pentas Nasional. Anak-anak memang sudah siap, karena tidak ada eventpun sudah latihan. Begitu ada kesempatan, langsung bisa diproduksi dalam waktu singkat,” ujar Suko Prayitno, Pimpinan Sanggar Tari Gandrung Arum kepada kabarbanyuwangi.co.id, Sabtu (8/8/2020).

Baca Juga: Job Manggung Sepi, Seniman Tradisional Banyuwangi Kembali Bertani

Baca Juga: Pertama Kali, Jaranan Buto Banyuwangi Tampil Secara Virtual

Baca Juga: Koreografer Muda Banyuwangi Tertantang Berkarya di Era Normal Baru

Suko berharap, sanggarnya bisa lolos 10 besar tingkat nasional. Mengingat anak-anak muda yang menjadi krunya, juga banyak yang pernah menjadi juara karawitan tingkat nasional.

“Tim kami sangat siap, bahkan diminta panitia menyetor karya bentuk video dalam waktu singkat juga bisa dilakukan. Tim panjak sudah tidak ada masalah, tinggal mematangkan tim audio dan video agar karya yang ditampilkan secara virtual nanti bisa maksimal. Kepada warga Banyuwangi, kami mohon doanya agar apa yang diiktiarkan anak-anak muda membuahkan hasil,” tambah Suko.

Adlin Mustika Alam, sang komposer saat tampil membawakan "Suluk Tangkub" sebagai Tugas Akhir sebagai Calon Sarjana Kerawitan. (Foto: dok pribadi)
Adlin Mustika Alam, sang komposer saat tampil membawakan “Suluk Tangkub” sebagai Tugas Akhir sebagai Calon Sarjana Kerawitan. (Foto: dok pribadi)

Sementara itu, Adelin Mustika Alam, sang komposer dan penulis naskah yang menggarap “Suluk Tangkub” mengaku akan membenai di sana-sini. Mengingat karya Tugas Akhir saat menjadi Calon Sarjana Karawitan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, sebelumnya digarap bersama-sama mahasiswa dari STKW dan Unesa Jurusan tari.

“Saya akan mengoptimalkan anak-anak Sanggar Tari Gandrung Arum, agar mengikuti konsep seperti yang saya garap pada awal-awal. Malah saya yakin ini akan lebih baik, karena dukungan gamelan, sound dan video serta para penari sebanyak 15 orang,” tegas putra asli Pasinan, Singojuruh ini.

“Suluk Tangkub” sendiri mengangkat satu pragmen dalam pementasan Gandrung, yaitu saat menjelang subuh, atau dikenal Seblang Subuh. Sekarang banyak Gandrung yang melewatkan pragamen Seblang Subuh, dengan banyak faktor. Mulai ketidaksiapan mental, serta keditidakmampuan dari sang penari Gandrung untuk menampilkannya.

“Karya saya ini adalah karya musik, tentu nanti yang menggiring pemahaman tentang “Seblang Subuh” adalah dalam bentuk musik. Namun filosofi Seblang Subuh sebisa mungkin akan saya tampilkan. Karena ini penutup setiap pentas Gandrung yang sekarang sudah banyak ditinggalkan. Padahal “Seblang Subuh” itu sendiri mempunyai filosofi tinggi, dengan nembang atau menyanyi yang isinya nasehat. Tangan kanan sang Gandrung memengang sapu sambil membukuk, tangan kirinya disilang di atas punggung. Kesakralan Seblang Subuh ini, hanya bisa dilakukan gandrung-gandrung lama,” pungkas Adelin Mustika Alam. (sen)

_blank

Kabar Terkait