oleh

Kalau Hotman Paris Punya Kopi Johny, Banyuwangi Punya Es Pak Joni

KabarBanyuwangi.co.id – Es Campur & Es Degan Pak Joni, itulah nama warung es sederhana di timur Stadion Diponegoro Banyuwangi. Hanya dengan rombong sederhana dan tempat duduk dari bangku kayu, warung es ini tak pernah sepi pembeli.

Es Campur, merupakan salah satu minuman khas Indonesia. Terbuat dari campuran berbagai jenis bahan dan buah, serta sirup manis. Sedangkan Es Degan atau es kelapa muda, merupakan minuman es yang terbuat dari daging dan air kelapa muda. Es Campur dan Es Degan dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, dengan rasa dan bahan yang berbeda-beda.

Di Banyuwangi, Es Campur & Es Degan Pak Joni menjadi salah satu Warung Es Campur dan Es Degan yang dikenal enak dan memiliki pelanggan banyak. Berjualan es sejak tahun 1977 di tanah Jawa paling timur ini, membuat Joni (65) menjadi pelopor es yang cukup populer.

“Di tahun 1977 sampai 2004, awalnya saya menjual Es Combor. Lambat laun kok kurang diminati, kemudian melakukan inovasi tahun 2004 saya ganti jualan Es Campur,” kata Joni pemilik warung yang asli Solo, Jawa Tengah.

Baca Juga: “Sego Cawuk” Menu Sarapan Khas Banyuwangi, Murah Meriah, Lezat dan Bergizi

Baca Juga: Jajanan Tradisional Banyuwangi Tak Kenal Pandemi, Selalu Ramai Pembeli

Baca Juga: Darplok, Olahan Masa Kini Hasil Kreasi Khas Banyuwangi yang Banyak Digemari

Memiliki usaha yang dibilang berhasil, membuat Joni yang tinggal di Jl. Barito, Kelurahan Penganjuran memilih menjadi seorang warga ber-KTP Banyuwangi. Bahkan, saat ini dengan dibantu sang istri, ia sudah memiliki empat pegawai untuk membantu melayani ratusan pembeli.

Joni menceritakan, awalnya ia berjualan es combor  dengan mendorong gerobak. Mulai pagi hari berkeliling berjualan di SMPK Santo Yusuf Banyuwangi, kemudian siang saat anak sekolah pulang, memilih berpindah untuk menarik pembeli di halaman Stadion Diponegoro Banyuwangi yang belum dibangun hamparan ruko besar seperti sekarang.

“Waktu itu, karena Es Campur masih belum ada di Banyuwangi, kemudian saya ganti dari Es Combor menjadi Es Campur. Tapi, Es Campur saya, memiliki khas dicampuri daging kelapa muda. Di Banyuwangi saya yang pertama kali jualan Es Campur ada daging kelapa mudanya,” jelas Joni kepada kabarbanyuwangi.co.id , Minggu (28/9/2020).

Pak Joni bersama sang istri dan pegawai sedang menyiapkan sajian kepada para pemebeli. (Foto: man)
Pak Joni bersama sang istri dan pegawai sedang menyiapkan sajian kepada para pemebeli. (Foto: man)

Harga Es Campur Pak Joni, mulai Rp 3.500 sampai Rp 6.000 semangkok. Rasanya terkenal khas dengan berbagai isian komplit. Porsinya memuaskan dan rasa nikmat membuat pembeli dari berbagai kalangan, mulai dari anak kecil, pelajar, hingga pegawai selalu berdatangan di rombong pak Joni, untuk melepas dahaga. Bahkan tidak sedikit pula mereka membungkusnya, untuk dinikmati di rumah.

“Es Pak Joni ini memang terbaik, sya sudah langganan  sejak masih SMP. Dulu sepulang sekolah sering melipir kesini dulu. Setiap pulang kampung di Banyuwangi, pasti saya sempatkan untuk beli es campur nya,” kata Farah (28) yang sekarang bekerja di Luar Kota.

Bahan-bahan isian es  disiapkan sejak pagi hari, sebelum warung dibuka. Isian es  yang kebanyakan dari potongan buah, terlihat lebih segar untuk dinikmati. Oleh karena itu, warung es milik Joni ini dibuka sepagi mungkin setelah bahan-bahan sudah siap.

“Paling lambat itu saya buka jam 9 pagi, tapi ya kadang lebih pagi. Tutupnya ya sampai jam 5 sore. Kan rumah saya dekat dari sini, jadi kalau bahan habis tinggal ngambil dari rumah,” tegas Joni.

Rombong Es Campur & Es Degan Pak Joni yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 46, Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. (Foto: man)
Rombong Es Campur & Es Degan Pak Joni yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 46, Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. (Foto: man)

Meskipun masa sulit akibat pandemi Covid-19, namun Es Campur & Es Degan Pak Joni masih rame pembeli, terus berdatangan mulai pagi hingga sore menjelang tutup.

“Ya namanya juga jualan es, kalau lagi musim panas ya bisa rame. Tapi kalau lagi hujan, saya kadang memilih tutup lebih awal. Kalau lagi rame ya saya sampai nggak bisa ngitung berapa porsi yang terjual. Biasanya kalau kelapa muda itu, bisa menghabiskan lebih dari 60 buah,” tambah Joni.

Meski para pelajar yang menjadi pelanggan terbanyak, sejak pandemi Covid-19 ini agak berkurang. Kerena mereka harus melakukan proses belajar mengajar secara daring dari rumah. Namun Joni bersama sang istri, tetap semangat berjualan, dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19 yang dianjurkan pemerintah.

Berjualan menggunakan masker, menyediakan tempat cucian tangan dan hand sanitizer. Bahkan, memberi tanda batasan di setiap bangku kayu yang berada di rombong sederhannya, agar pelanggan tetap menjaga jarak guna memutus mata rantai penyebaran virus corona. (man)

_blank