oleh

“Kampoeng Batara” Bersama Perhutani Inventarisir Jenis Bambu, Sebagai Langkah Konservasi

KabarBanyuwangi.co.id – Ragam bambu yang tumbuh di hutan dan kebun masyarakat, ternyata perlu diketahui karateristiknya sebagai upaya pelestarian. Kekayaan ragam bambu di Kabupaten Banyuwangi, tidak hanya tersimpan di Hutan Alaspurwo. Namun di kebun-kebun masyarakat, juga lahan milik Perhutani banyak ragam bambu yang memperlukan perhatian agar tidak punah.

Perhutani KPH Banyuwangi Utara, LMDH Rukun Makmur, Kasi Lingkungan serta masyarakat Papring, Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi, melakukan inventarisir jenis-jenis bambu yang ada disekitar Sumber Mata Air “Sumber Dilem”, Senin (5/10/2020).

Inventarisir bambu, merupakan ikhtiar bersama untuk mengenal, mengetahui, menata serta membuat label pada rumpun-rumpun bambu, mulai area hulu hingga hilir.

“Saatnya setiap lintas elemen masyarakat, untuk saling mendukung kegiatan ini. Karena tujuan utamanya adalah untuk konservasi. Jika tidak kita yang melakukan aksi, siapa lagi dan kapan lagi,” ujar Suwandi, Asper Perhutani KPH Banyuwangi Utara.

Baca Juga: Saat Anak Rimba Bikin Olahan Pancake Ala Cafe

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Omzet Perajin Besek di Lingkungan Papring Meningkat 60 Persen

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Sementara itu, Kasi Lingkungan Perhutani, Agus menegaskan, Perhutani mempunyai tanggungjawab terhadap lingkungan, terutama air yang digunakan oleh masyarakat. Pihaknya berharap, agar di setiap sumber mata air, ada tempat sampah. Supaya air yang mengalir tidak terkena bahan kimia.

“Nanti, kami akan support, jika warga Papring ingin mengetahui berapa debit air yang ada di Sumber Dilem ini. Sehingga bisa diketahui juga, untuk berapa orang nantinya, air yang dikeluarkan dari hulu tersebut,” kata Agus.

Acara bersama ini mendapat sambupan positif dari pendamping LMDH, Edy Chandra. Menurutnya, setiap diskusi perlu langkah nyata, untuk melakukan aksi. Setelah inventarisir bambu hari ini, pihaknya ingin terus berkelanjutan melabeling jenis bambu yang ada.

“Persoalan air menjadi sangat penting, karena air adalah sumber kehidupan kita. Saya lihat banyak paralon liar yang perlu dibenahi lagi. Agar kemanfaatan kegiatan yang dimulai hari ini juga bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” ujar Candra.

Rembuk Warga bersama Perhutani, membahas keberadaan Bambu dan Sumber Air. (Foto: istimewa)
Rembuk Warga bersama Perhutani, membahas keberadaan Bambu dan Sumber Air. (Foto: istimewa)

Ketua LMDH Rukun Makmur, Muhamat Tali berharap, kegiatan seperti ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan.

“Tentu saja, dengan support dari masyarakat sekitar hutan dan Perhutani, bisa menjadi kolaborasi yang berkelanjutan nantinya,” tambah Muhamat.

Menurut Koordinator Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, sejak tahun 2015, sudah dilakukan kampanye terkait bambu. Mulai membuat pembibitan bambu bersama perguruan tinggi, kampanye hasil pemanfaatan bambu, kampanye penanaman bambu setiap tahunnya.

“Kolaborasi kami bersama pihak Perhutani kali ini, tentu dengan tujuan utama, agar bambu terus ditanam, bukan hanya ditebang. Ada regulasi khusus yang bisa disepakati Perhutani dan Masyarakat, saat penebangan hutan bambu di lokasi sumber mata air,” pinta Widie Nurmahmudy.

“Juga harus sering melakukan sosialisasi terkait bambu. Agar persoalan bambu tidak hanya persoalan bentuk, manfaat dan transaksional. Namun lebih dari itu, bahwa bambu adalah urat nadi kehidupan masyarakat Papring,” pungkas Jurnalis yang juga aktivis lingkungan. (sen)

_blank

Kabar Terkait