oleh

Kaum Milenial Banyuwangi Antusias Ikut Pelatihan Mocoan Lontar Yusup

KabarBanyuwangi.co.id – Mendengar kata “Mocoan”, atau daerah lain disebut “Macapat”, pasti akan terbayang sosok orang tua di kampung-kampung yang sedang melestarikan seni tradisi membaca kitab kuno. Bayangan itu salah seratus persen, apabila melihat aktivias kaum milenial Banyuwangi yang tergabung dalam Mocoan Lontar Yusup Milenial.

“Pelatihan mocoan Lontar Yusup ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, diikuti oleh kaum muda lintas etnis, wilayah, dan gender. Hal ini secara tidak langsung mengukuhkan bahwa mocoan Lontar Yusup bukan hanya milik wong Using semata, namun juga warisan budaya yang menjadi milik masyarakat Banyuwangi,” ujar Wiwin Indiarti, Ketua Tim PKM Universitas PGRI yang juga pembina Mocoan Lontar Yusup Milenial kepada kabarbanyuwangi.co.id,  Kamis (30/7/2020).

Acara Pelatihan Mocoan Lontar Yusup ini merupakan salah satu upaya preservasi seni tradisi Mocoan Lontar Yusup yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Acara digelar selama 5 kali pertemuan, mulai tanggal 19,  21, 24, 26, dan  28 Juli 2020, bertempat di Rumah Budaya Osing, Desa Kemiren, Banyuwangi.

Suasana Pelatihan Mocoan Lontar Yusup untuk Kamu Milenial. (Foto; istimewa)
Suasana Pelatihan Mocoan Lontar Yusup untuk Kamu Milenial. (Foto; istimewa)

Sebanyak 16 peserta terpilih lintas gender dari berbagai komunitas dan wilayah di Banyuwangi. Peserta kegiatan ini tidak dipungut biaya. Seluruh peserta mendapatkan buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon – Transliterasi – Terjemahan, modul pelatihan mocoan, T-shirt, dan konsumsi selama pelatihan berlangsung. Kegiatan Pelatihan ini, salah satu program kemitraan masyarakat.

“Selain itu, pengadaan kostum ritual mocoan, biola, naskah Lontar Yusup beraksara Pegon, buku Lontar Yusup yang transliterasi serta terjemahan, modul pelatihan, dan kaos Lontar Yusup. Diharapkan program ini berkontribusi terhadap preservasi mocoan Lontar Yusup sebagai warisan budaya tak benda nasional,” tambah peneliti tradisi Lisan Banyuwangi yang produktif ini.

Saat menggelar pelatihan di era Normal Baru, memang dirasa lebih ekstra dalam mempersiapkan sarana sesuai protokol kesehatan. Namun, Wiwin mengaku salut kepada peserta yang mempunyai semangat luar biasa. Padahal, saat itu cuaca kurang bersahabat. Bahkan beberapa diantaranya sempat demam, meski akhirnya bisa mengikuti secara tuntas.

“Kesulitan sebetulnya tidak ada, meski dengan ketentuan Normal Baru. Namun yang paling sibuk saat harus mengingatkan pemakaian masker kepada peserta yang sering lupa. Serta tidak berbagi makanan dan minuman antar peserta di lokasi latihan,” terang alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM ini.

Anak-Anak Muda Banyuwangi yang tergabung dalam Mocoan Milenial, bersemangat mengukti Pelathian Mocoal Lontar Yusuf dengan protokol kesehatan. (Foto: istimewa)
Anak-Anak Muda Banyuwangi yang tergabung dalam Mocoan Milenial, bersemangat mengukti Pelathian Mocoal Lontar Yusup dengan protokol kesehatan. (Foto: istimewa)

Pelestariannya Seni Mocoan Lontar Yusup ini tidak mungkin dibebankan kepada pemerintah dan lembaga tertentu, tetapi keterlibatan masyarakat sangat penting.

“Keberadaan kelompok mocoan Lontar Yusup yang digawangi kaum muda ini, menjadi angin segar bagi proses pewarisan dan pengembangan seni tradisi mocoan di Banyuwangi. Bukan saja karena dimotori anak muda, lebih dari itu MLYM juga memelopori keikutsertaan perempuan dalam olah seni mocoan yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki. Sekarang anggotanya sudah mencapai belasan anak muda, rata-rata berusia di bawah 30 tahun,” tambah Wiwin yang juga anggota Himpunan Penerjemah Indonesia ini.

Pelatihan Mocoan Lontar Yusup ini diharapkan mampu membangun karakter bangsa, dengan merintis kesadaran tentang jati diri dan identitas kebangsaan bagi generasi muda.

“Harapkannya bisa menggugah apresiasi kaum muda dan masyarakat luas di Banyuwangi, untuk lebih memahami tradisi-sastra-budaya Mocoan Lontar Yusup sebagai warisan kebudayaan, yang bisa dijadikan sumber inspirasi dalam kemajuan kebudayaan dan penciptaan karya seni,” pungkas Wiwin. (sen)

_blank