oleh

Kerupuk Terkenal di Pekanbaru Riau, Ternyata Hasil Produksi Usaha Milik Orang Banyuwangi

KabarBanyuwangi.co.id – Tidak lengkap rasannya, jika sedang makan berat atau makan ringan, tanpa ditemani si kriuk kriuk “Kerupuk”. Jenis makanan pendamping satu ini, sangat digemari semua kalangan, mulai dari balita hingga manula.

Pada catatan sejarah Jawa, Kerupuk sudah dibuat sejak awal Abad 10 Masehi. Seperti yang tercatat pada prasasti Batu Pura, mulanya kerupuk dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, atau dikenal dengan nama Rambak.

Seiring berkembangnya jaman, kerupuk diolah dan dimodifikasi dari aneka ragam bahan dasar. Ada yang berbahan dasar ubi kayu, tepung kanji dengan campuran daging ikan dan udang, bahkan yang viral kerupuk berbahan dasar jengkol.

Kegemaran masyarakat menikmati lezatnya si kerupuk ini, tentu tak lepas dari pandangan kang Nurhamid, Anggota ISG Riau, sebagai peluang bisnis (business opportunity) yang patut dikembangkan dan sangat menjanjikan.

Berawal tahun 2001, Kang Nurhamid mulai merintis usaha rumahan, dengan mencoba memproduksi kerupuk dengan skala kecil. Produksi kerupuk saat itu, dipasarkan beberapa orang secara keliling. Lokasi produksinya masih terbatas di Jalan Garuda Sakti – KM.01, Kota Pekanbaru, Riau. Kawasan ini masih terbilang daerah pinggiran dan cukup sedikit penghuninya saat itu.

Baca Juga: ISG Riau Lakukan Pengobatan Gratis Saat Pertemuan Rutin Bulanan

Baca Juga: ISG Sumut, Merajut Silaturahmi Membangkitkan Kegiatan Roda Ekonomi

Baca Juga: Riuhnya Suasana, Bila ISG Pelalawan Riau Bertemu Sesama Dulur Banyuwangi

Situasi ini tak menyurutkan semangat beliau, untuk berusaha agar kerupuk buatannya bisa eksis diterima pasar di Riau. Seiring berjalannya waktu, usaha pembuatan kerupuk ini perlahan-lahan dikerjakan secara telaten, dengan berbagai cobaan dan persaingan usaha telah dilalui dengan sabar. Sekarang usaha ini semakin maju, berkembang pesat.

Usaha yang digeluti Kang Nurhamid asli Desa Kaligung, Rogojampi ini, sekarang menjadi sebuah Pabrik. Jumlah karyawan produksi  mencapai 100 orang lebih, sebagian besar berasal dari Banyuwangi.

Kapasitas produksi pabrik kerupuk ini, mampu menghasilkan 100 ribu bungkus kerupuk perhari. Jumlah produksi sebanyak itu, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan Kerupuk untuk 9 Kabupaten di Provinsi Riau. Bahkan Kerupuk dengan nama “Baru Muncul” ini, sudah banyak beredar di Provinsi Sumatera Barat.

Varian rasa kerupuk cukup beragam rasa dan bentuk, ini jadi penarik pilihan selera bagi para penggemar kerupuk. Kwalitas, rasa dan kemasan yang hieginis, selalu menjadi prioritas utama, agar kerupuk tetap unggul di pasaran.

Rudi dan Haris penggiat usaha kerupuk sekaligus pengurus ISG Riau. (Foto: istimewa)
Rudi dan Haris penggiat usaha kerupuk sekaligus pengurus ISG Riau. (Foto: istimewa)

Semakin hari Permintaan semakin besar, bahkan Kang Nurhamid mulai kewalahan memenuhinya. Sebagai antisipasi, Kang Nurhamid  mengkader putranya Kang Haris dan menantunya Kang Rudi Indrianto. Kedua generasi penerus ini, diberi tanggungjawab mengurus dan mengembangkan Pabrik, agar suplai dan distribusi ke daerah-daerah di wilayah Riau tetap  terpenuhi.

Di samping produksi kerupuk, kang Nur dan keluarganya juga mengembangkan bisnis retail dan perkebunan sawit. Lokasi Pabrik dan tempat usaha yang cukup dekat dengan tempat tinggalnya, memberikan akses mudah dalam pengawasannya.

Bahkan sejak awal bulan September 2020, Kang Nurhamid mengizinkan salah satu rukonya dijadikan sebagai fasilitas kantor Sekretariat Ikawangi Sumatera Group Provinsi Riau.  Putra beliau, Kang Haris duduk sebagai sekretaris memberikan sambutan positif. Begitu Kang Rudi, aktif menggawangi Bidang Ekonomi di jajaran pengurus ISG Provinsi Riau.

Satu lagi yang menarik dari pribadi dan keseharian Kang Nurhamid, hingga hari ini beliau masih konsisten menggunakan Bahasa Using dalam komunikasi di lingkungan keluarganya. Walaupun sudah puluhan tahun menetap di Riau, saat berkomunikasi dengan anggota keluarga masih menggunakan Bahasa Using deles. Kenyataan itu dilihat langsung penulis, saat bertandang ke rumahnya.

“Gedigi Lik, ihun demen ndak kecaruk ambi wong awake dhewek iki (sesame orang Banyuwangi.red) ring endhi bawin ring Riau iki isun goleti – Begini  Dik, saya senang kalau bertemu dengan orang sendiri, sesama orang Banyuwangi, di manapun di Riau ini akan saya cari,”

Kang Nurhamid bersama penulis dan kerupuk produksinya. (Foto: istimewa)
Kang Nurhamid bersama penulis dan kerupuk produksinya. (Foto: istimewa)

Begitu rasa persaudaraan Kang Nurhamid, memandang orang Banyuwangi di rantauan. Bagi penulis, sikap ini penting sekali. Sering bertemu dan berdialog, maka secara tidak sadar telah ikut melestarikan Bahasa Using, meski di tanah rantau. Sekaligus sikap semacam ini selalu mengingatkan dari mana asal-usul kita, serta tidak melupakan adat istiadat budaya Banyuwangi dengan nilai nilai asli milik kita sendiri.

Ke depan, Kantor Sekretariat Ikawangi Provinsi Riau yang telah beliau fasilitasi, diharapkan dapat digunakan secara maksimal untuk pengembangan organisasi sosial dan ekonomi serta budaya. ISG ini seharusnya sebagai sentra komunikasi yang sehat, untuk membangun taraf ekonomi bagi semua anggotanya. Bersama sama menjadi pelopor penggiat seni budaya Banyuwangi di Bumi Melayu Lancang kuning ini.

Salam Jenggirat tangi, seduluran saklawase.

(Penulis: Hery Susanto Sekjen ISG Pusat, asli Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi)

_blank

Kabar Terkait