oleh

Kesenian Tradisional Jaranan Buto Banyuwangi Eksis di Taiwan

KabarBanyuwangi.co.id – Kesenian Banyuwangi ternyata banyak yang hidup dan berkembang di Manca Negara, meski tanpa peran dari pemerintah. Setelah Buruh Migran Indonesia (BMI) asal Banyuwangi yang bekerja di Hongkong, mendirikan Komunitas Gandrung dan sering tampil di acara resmi. Sekarang giliran BMI asal Banyuwangi yang bekerja di Taiwan juga mengembangkan kesenian Jaranan Buto.

“Kita awalnya nongkrong di pinggir jalan Kota Taiwan, bersama para pekerja Indonesia dari kota Lain. Secara spontan membentuk kelompok Kesenian Jaranan Buto. Saat itu langsung ‘saweran’, masing-masing nyumbang Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta,” kata Erick Sugianto yang meneruskan mengelola Jaranan Buto Banyuwangi di Negara Lembah Formosa tersebut.

Baca Juga: Pelawak Tradisional Bingung Cari Format Penampilan di Era New Normal

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Baca Juga: Mantan Penari Banyuwangi Eksis di Jember Sebagai Seniman Campursari

Menurut Erick, saat itu yang memberikan saweran bukan hanya BMI asal Banyuwangi, tidak sedikit mereka yang dari Sunda dan Tulungagung juga setuju dengan pembetukan kelompok Jaran Buto. Setelah mereka latihan dengan kostum seadanya, bahkan jaranan kepang dari kardus yang dipola dan dicat menyerupai Jaran Kepang.

“Musik pengiring, kita ambil dari Youtube. Awalnya kita tampil bersama Reog Ponorogo, karena lebih dulu ada. Dan yang terkumpul tadi, langsung dibelikan kostum Jaran Buto yang dipesan dari Banyuwangi. Setelah mendapatkan kostum, kita pertama Kaosing, selanjutkan Tainan, Taicung dan Taoyoan,” jelas Erick yang asli Selatan Pasar Tegaldlimo ini.

Komunitas Jaranan Buto bersama para BMI berfose bersama usai tampil di salah satu kota di Taiwan. (Foto: istimewa)
Komunitas Jaranan Buto foto bersama para BMI usai tampil di salah satu kota di Taiwan. (Foto: istimewa)

Erick menambah, dirinya hanya meneruskan perkumpulan yang sudah dibentuk oleh seniornya sejak tahun 2007. Kendala utama untuk mempertahankan Jaranan Buto di Taiwan, adalah saat para pendiri dan pelaku Jaranan Buto harus pindah kerja ke kota lain.

“Sejak awal basecamp sudah disepakati oleh senior-senior ada Kota Tainan. Kalau mereka pindah tempat kerja, maka harus mencari pengganti yang tinggal di Tainan. Meskipun undangan pentas hampir seluruh kota besar di Taiwan, terutama Buruh Migran Indonesia (BMI),” tambah Erick.

Selain Kesenian Jaranan Buto mencerminkan watak kemaskulinan, ternyata mereka yang kebetulan kerja di Taiwan di Kampung halamannya juga sudah pernah ikut menjadi pemain Jaranan.

“Di kampung saya Tapanrejo Kecamatan Muncar, memang ada kelompok kesenian Jaranan Buto. Jadi saya tidak kesulitan saat teman-teman mengajak latihan Jaranan,” kata Sugeng.

Mohammad Zamzam, salah satu pendiri asal Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono menyebutkan, sejak awal semangat ingin menghidupan kesenian asal tanah kelahiran sudah tidak bisa dibendhung. Gebrakan pertama di Taipie, membuat Buruh Mingran lainnya senang dan ikut bergabung. Formasi awal penarinya Zamzam, Minto, Suntoro dari Banyuwangi, Iwan Cilacap, Pak Agus dari Tulungagung dan Dedi dari Jawa Barat.

“Setelah masuknya Didik, pemain barong asli asal Cemethuk, Cluring, antraksi Jaranan Buto tambah disenangi banyak orang. Apalagi Didik tampil total sebagai Jaranan profesional, dengan mamakan pecahanan kaca dan bara api. Ini yang menjadikan nama Jaranan Buto Banyuwangi semakin terkenal di Taiwan,” ujar Zamzam yang sekarang sudah tinggal di Lampung.

Komunitas Jaranan Buto foto bersama para BMI usai tampil di salah satu kota di Taiwan. (Foto: istimewa)
Komunitas Jaranan Buto foto bersama para BMI usai tampil di salah satu kota di Taiwan. (Foto: istimewa)

Sekarang kondisi pementasan Jaranan Buto berhenti total, setelah ada pandemi Covid-19. Sebetulanya bulan Agustus 2020 mendatang ada rencana pentas besar dari Kelompok Jaranan Buto Banyuwangi. Sekarang Jaran Kepang yang digunakan pentas bukan dari kardus lagi, melainkan Jaran Kepang asli dari kulit, dan kostum saat ini juga mempunyai beberapa macam.

“Kelompok kami sekarang menggunakan kendang asli yang dipesan dari Banyuwangi. Kempul dan serulingnya, nanti akan diprogram melalui elekton. Jika ada rejeki, kami bertekad akan membeli perangkat musik asli. Mengingat semangat teman-teman cukup besar, untuk melestarikan kesenian tradisional asal Banyuwangi ini,” tambah Erick yang berusaha keras menjadikan penampil Jaranan Buto di Taiwan profesional seperti di Banyuwangi.

Sejak berdiri hingga sekarang, semua perlengakapan dan kebutuhan pentas Jaranan Buto dipenuhi sendiri secara swadaya oleh anggotanya. Belum sekalipun mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kendati mereka membawa misi besar dalam mengenalkan Banyuwangi lewat kesenian tradisionalnya.

“Kemandirian berkesenian ini sudah menajadi tekad kami, semua atas biaya sendiri. Misalnya untuk pentas di Kota Taipe, Ibu Kota Tiawan, memerlukan 4 jam perjalanan darat. Kami harus menyewa sound system dan Bus, dengan berangkat pagi banget dan sorenya sudah bisa kembali ke Tainan” pungkas Erick. (sen)

_blank

Kabar Terkait