oleh

Koreografer yang Ingin Mendirikan Akademi Seni Banyuwangi itu Telah Pergi

KabarBanyuwangi.co.id – Innallillahi wa innalillahi rojiun, telah berpulang ke haribaan Allah SWT, Bapak Sahuni, seniman tari Banyuwangi, Minggu, (18/10/2020) sekitar pukul 05.00 WIB di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu. Almarhum seniman besar Banyuwangi, terakhir menjabat Kepala Desa Singojuruh, setelah pensiun dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.

Menurut Seniman Muda Singojuruh, Adlin Mustika Alam, sebetulnya almarhum sudah lama sakit. Bahkan saat ikut pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Kamis (15/10/20202) lalu di Pendopo Kabupaten Banyuwangi, Alamarhum sudah sakit.

“Saya diberitahu keluarga dan tetangga di Singojuruh, Pak Unik itu sebetulnya sakit. Tetapi tanggungjawab sebagai penasehat DKB, almarhum nekat datang,” kata Adlin kepada kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (18/10/2020) siang.

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

Baca Juga: Semangat Seniman Muda Antar Maestro Gandrung Poniti Hingga ke Liang Lahat

Kabar meninggalnya almarhum Sahuni, sejak Minggu pagi sudah menyebar lewat Group WhatApps (WA). Selain mengabarkan berita duka, banyak juga seniman yang pernah kerjasama dengan almarhum menyampaikan kesan mendalam atas sikap dan kesenimannya di akun medsosnya.

“Selamat Jalan Bpk. Sahuni tercinta, kami warga Banyuwangi sangat kehilangan. Salah satu prilaku yang patut dicontoh dari Beliau adalah Beliau tidak pernah mengusik kehidupan orang lain, membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain,” tulis Kang Ju, Pemilik Kelompok Angklung Larasati, Sukorejo, Singojuruh.

Almarhum Sahuni dimakamkan di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu (Foto: Sekdes Singojuruh)
Almarhum Sahuni dimakamkan di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu (Foto: Sekdes Singojuruh)

Pemilik Sanggar Tari ‘Sayuwiwit’ Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi, Kang Joel, mengaku tidak bisa menulis kesan-kesan baik dari almarhum terhadap proses berkesenianya.

“Itu karena ada di rasa, jadi sulit saya harus menguraikannya dalam bentuk verbal. Kalau saya jelas kehilangan figure, seorang tokoh yang mau memberi motivasi, serta rindu dengan tutur katanya kepada kami-kami yang masih muda. Pokoknya banyak sekali,” kata Kang Joel kepada kabarbanyuwangi.co.id.

Sahuni yang lahir 22 Agustus 1945, mengawali aktif dalam kesenian tradisional Banyuwangi sejak umur 9 tahun. Putra pasangan Asri dan Supyaton. Ayahnya termasuk seniman kendang di berbagai macam kesenian Banyuwangi, statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kecamatan Singojuruh pada waktu itu.

Alamarhum Sahuni saat bertermu dengan Budayawan Hasnan Singodimayan dan Perlukis S. Yadi K di RTH Singojurh tahun 2019 (Foto: Dok Artevac)
Alamarhum Sahuni saat bertermu dengan Budayawan Hasnan Singodimayan dan Perlukis S. Yadi K di RTH Singojurh tahun 2019 (Foto: Dok Artevac)

Almarhum sejak anak-anak sudah sering diajak ayahnya tanggapan. Bahkan pernah menjadi penari. Setelah besar bergabung dengan kesenian Janger dari Dusun Juruh, Desa Singojuruh. Selain menjadi penari, juga pelakon dan ayahnya tetap menjadi pengendang di kesenian yang sama.

Tahun 1966, almarhum bekerja di Kantor Kecamatan Singojuruh, mengikuti jejak ayahnya. Tahun 1970 mulai ditarik ke Kantor Pemkab Banyuwangi, atas bakat di bidang kesenian yang dimiliki. Bahkan almarhum yang saat itu ditempatkan di Bagian, Kesehjahteraan Rakyat (Kesra), langsung disekolahkan ke Sekolah Menengah Kerawitan Wilwatikta Surabaya, untuk menambah pengetahuan di bidang seni tari.

Baca Juga: Pelukis S Yadi K: “Gandrung Poniti itu Penguasa Panggung Pertunjukan dan Kehidupan”

Kemudian melanjutkan ke Solo, di Konservatori Karawitan Indonesia (KKI), ambil Diploma-3 pada tahun 1975. Pada tahun 1996 transfer ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) hingga lulus tahun 1989. Saat menempuh jenjang pendidikan, almarhum masih aktif bekerja. Bahkan sering ditugaskan mengikuti berbagai perlombaan, serta menjadi coordinator tim kesenian Banyuwangi.

Sejumlah pengahargaan atas prestasinya sudah tidak terhitung. Hanya satu keingginan almarhum yang belum terpenuhi, yaitu mendirikan Akademi Kesenian Banyuwangi. Tanah sudah dibeli di daerah Singojuruh, Kurikulum dan staf pengajar sudah disiapkan, tinggal realisiasi yang masih tersendat. Semoga ada yang meneruskan cita-cita almarhum. (sen)

_blank

Kabar Terkait