oleh

Liburan Di Tengah Lockdown Hongkong Kedua

KabarBanyuwangi.co.id – Minggu hari ini, langit pekat sedari pagi. Hujan yang tak kunjung reda, menginjak bulan Agustus awal musim pancarobapun mulai merangkak. Badai angin nomor tiga disertai hujan deras, telah terjadi mulai tiga hari lalu.

Hongkong ditengah wabah penyakit dan hujan badai, kembali menyemarakkan suasana. Taman kota yang biasanya ramai saat para BMI libur, kini terlihat sangat sepi. Buruh Migran masih dilarang ke luar rumah, untuk libur oleh majikannya meskipun para BMI masih juga disuruh belanja ke pasar.

Hampir semua taman-taman dipasang penghalang, ditutup tempat duduk dengan tulisan berbahasa Cina atau bahasa Inggris. Berikut denda, ketika masyarakat melanggar peraturan. Larangan duduk, juga masih dibatasi hanya satu atau dua orang saja. Restoran semacam KFC, Mc-Donald dan restoran Cinapun, tempat duduknya berjarak satu setengah meter, itupun bisa dihitung dengan jari.

Hari minggu biasa, merupakan pemadangan penuh sesak kendaraan umum. Namun minggu hari ini, saya melihat MTR (Mass Transit Railway) nyaris tanpa penumpang. Biasanya para BMI, lalu lalang libur dengan dandanan cantik dan memenuhi taman-taman kota. Tawa canda mereka, seakan hilang ditelan wabah. Aktivitaspun seakan terkoyak, oleh keadaan yang tidak menentu sampai kapan berakhir.

Di sebuah taman kota, saya melihat satu dua orang BMI, duduk santai sambil menikmati bekal. Entahlah mungkin juga mereka sedang bertarung dengan keadaan. Saya yakin mereka juga tengah berjuang menghibur keluarga di rumah, sekaligus diri sendiri agar keluarga tidak khawatir berlebihan di tengah wabah penyakit ini, sama halnya dengan saya.

Baca Juga: Hongkong Lockdown Lagi, dan Larangan Sholat Idul Adha

Baca Juga: Ini Kisah Hidup BMI Asal Banyuwangi di Hongkong Saat Lockdown Kedua

Baca Juga: Wisata Pantai Ma On Shan Saat Lockdown

Mendung pekat yang bergelayut di atas sana masih meringkuk, saya dan seorang teman duduk di bawah jembatan layang Saiwanho, menunggu hujan reda. Tidak ketinggalan badai angin di level tiga, karena kami tidak mungkin melanjutkan jalan-jalan.

Payung yang kami pakai, sudah rusak terkena angin. Bekal buah jambu dan sebungkus kuaci bunga matahari yang kami beli di pasar tadi pagi, kue bakpia yang kata teman baru dapat kiriman dari keluarga di Indonesia, tidak lupa kopi panas yang sengaja kami taruh di termos, menemani kami ngobrol.

Kami membicarakan Corona, karena telah memaksa teman saya, tetap berada di Hongkong. Bahkan dengan terpaksa, dia renew kontrak kembali. Padahal dia sudah mendapatkan tiket pesawat, untuk bulan April lalu. Namun penerbangan ditunda, hingga akhirnya tiket hangus. Sementara di Hongkong, saat ini lockdown kembali dan tidak ada penerbangang entah sampai kapan.

Seseorang yang duduk di sebuah taman sendirian, padahal biasanya ramai dan mereka bersendai gurau. (Foto: istimewa)
Seseorang yang duduk di sebuah taman sendirian, padahal biasanya ramai dan mereka bersendai gurau. (Foto: istimewa)

Tatanan kehidupan berubah total, secara psikologis kondisi majikanpun berubah drastis. Mereka yang terbiasa berkutat dengan pekerjaan di kantor, terpaksa harus di rumahkan. Anak sekolah juga hanya lewat komputer, restoran pukul enam sore sudah ditutup. Semua aktivitas seakan mati dan lebih membosankan. Hongkong dan mungkin di manapun mengalami hal serupa, korban yang positif terinfeksi meningkat, dari hari kehari, korban meninggal dunia juga bertambah.

Ekonomi Hongkong kini lumpuh, banyak pedagang kecil terpaksa harus gulung tikar, karena mengandalkan pembeli yang mayoritas Buruh Migran dan turis-turis. Saya seringkali mendengar pedagang kecil mengeluh, mulai pagi hingga malam, dagangan mereka tidak laku.

Kalaupun laku, hanya cukup untuk membeli nasi bungkus. Lebih parah lagi, di rumah mereka juga harus menghidupi anak istri sekaligus BMI yang membantu mereka. Harapan kami para BMI, semoga kami dan keluarga di rumah selalu dalam lindungan Allah SWT, kami juga berharap semoga wabah ini segera berakhir.

(Penulis:  Tirto Arum, BMI asal Banyuwangi, di Sai Wanho, Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait