oleh

Mamet Ndut: “Mak Pon Itu Keras Kepala, Tapi Nurut ke Saya”

KabarBanyuwangi.co.id – Seniman muda, Slamet Suwito, atau akrab dipanggil, Mamet Ndut adalah salah satu orang yang intens mendampingi almarhumah Gandrung Poniti sebelum ajal menjeput. Bahkan Mametlah yang mengawal, saat almarhumah dari Pusekemas Singojuruh ke RSUD Blambangan Banyuwangi.

“Saya memang nunggui semalaman, saat dirawat di Puskesmas Singojuruh. Setelah ada kepastian mau berangkat ke RSUD Blambangan, saya dapat amanah dari teman yang peduli kepada Mak Pon membantu bila berkaitan dengan pesyaratan administrasi Rumah Sakit. Mengingat dari keluarga almarhumah hanya cucunya yang mendampingi, maka saya juga ikut dalam mobil ambulance,” kata Mamet yang juga menjdi icon Kebo-Keboan Desa Alasmalang ini, saat dihubungi kabarbanyuwangi.co.id, Kamis (11/6/2020) siang.

Pria bertubuh subur ini mengaku, meski baru dua tahun dekat dengan almarhumah, tetapi kedekatannya bak seperti anak dan orang tua kandungnya. Sekaligus seperti teman sesama seniman, karena sering tukar pendapat tentang pementasan.

“Mak Pon itu orangnya keras kepala, kata orang Using ‘wangkod’. Kalau sudah menjadi pendapatnya, sulit ditaklukan. Namun kalau dengan saya mau menerima, karena pendekatan saya lebih dari hati ke hati,” kata pria yang juga pandai memasak dan punya usaha Catering Koki Ndut ini.

Saat di rumah sakit, Mamet langsung bergerak cepat memenuhi persyaratan administrasi. Sesekali juga menghubungi pejabat yang menjadi koleganya, juga  teman yang selama ini selalu perhatian terhadap keseharian Mak Pon. Setelah  dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), segera mendapatkan kamar untuk rawat inap.

“Sabtu sore, Mak Pon langsung ditangani untuk operasi ringan pada tenggorokan. Setelah operasi itu, saya dan teman yang menjaga, tidak bisa menahan air mata. Mak Pon membolak-balik badan, mungkin merasakan sakit di tenggorokan pasca operasi,” kata Mamet yang juga sering memerankan Mbok Gemi dalam panggung.

Baca Juga: Pelukis S Yadi K: “Gandrung Poniti itu Penguasa Panggung Pertunjukan dan Kehidupan”

Aktivitas Mamet sendiri setiap jam 3 pagi harus memasak, menyiapkan pesanan Rantang Kasih untuk lansia di sekitaran Singojuruh. Oleh karena itu, setiap tengah malam, Mamet harus pulang meninggalkan RSUD Blambangan setelah menunggui Mak Pon.

“Kebetulan, ada keponakan Mak Pon yang bisa saya ajak gantian menjaga. Senin pagi setelah saya menyelesaikan pekerjaan di Singojuruh, langsung ke Rumah Sakit. Tapi setelah tiba di Rumah Sakit, setengah jam kemudian Mak Pon sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Innalillahi wainnalillahi rojian, semoga husnul khotimah,” ucap Mamet sambi berlinang air mata.

Baca Juga: Semangat Seniman Muda Antar Maestro Gandrung Poniti  Hingga ke Liang Lahat

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

Tugas Mamet belum berakhir saat itu, dia harus menghubungi ke sana kemari. Karena pihak rumah sakit mau melepaskan jenazah, bila sudah menyelesaikan administrasi ambulance.

“Saya menghubungi teman yang selama ini memperhatikan Mak Pon, menceritakan kondisi terakhir. Posisi teman itu tidak ada di Banyuwangi, tetapi beliau yang menghubungi temannya di Banyuwangi untuk menyelesaikan biaya ambulance. Dalam waktu singkat, masalah terselesaikan,” kata Mamet yang ikut mendampingi jenazah dari rumah sakit hingga ke tempat tinggal almarhumah.

Tidak seperti pemberitaan saat Mak Pon dinyatakan meninggal dunia, seolah banyak orang yang peduli dan perhatian dengan almarhumah. Namun faktanya saat mobil ambulance meluncur membawa jenazah almarhumah, tidak ada yang mengiringi sebagaimana tokoh-tokoh besar pada umumnya.

Memet Ndut menari Gandrung di RTH Singojuruh. (Foto: doc Artevac Channel)

Hanya beberapa orang dari Sanggar Ki Ageng Joyokaryo Sawahan yang mengiringi mobil ambulance hingga ke rumah duka. Mereka mengaku sangat terpukul dan kehilangan, karena sedang menggarap sejumlah komposisi yang rencananya akan dinyayikan almarhumah.

“Alhamdulillah respon seniman muda ini sangat cepat, mereka bahu membahu meski baru kenal. Saat itu mereka ikut mengusung keranda, dan memakamkan. Orang-orang tua warga setempat, sempat tercengang melihat gerak cepat anak-anak tanpa canggung. Mereka semua mengaku murid Mak Pon, karena akhir-akhir ini memang banyak terlibat dalam pementasan, seperti anak-anak Tabuhan Soren Singojuruh,” jelas Mamet yang mengaku cocok dengan almarhum dengan karya-karya tata rias selama almarhumah tampil di muka umum.

Meski hanya dua tahun intens komunikasi, namun seperti sudah puluhan tahun berkomunikasi dengan almarhumah, dan tampak akrab sekali. Saat lebaran 7 hari, almarhumah masih sehat naik sepeda motor sendiri menemui Mamet.

Selain itu, saat ada masalah pribadi, pasti Mamet yang diajak curhat kemudian dilanjutkan ke orang lain yang mungkin bisa mencarikan solusi. Bahkan saat Mak Pon dapat undangan dari Pemprov Jatim, untuk menerima penghargaan, almarhumah bingung harus naik apa ke Surabaya, hingga akhirnya Mak Pon meminta Mamet untuk menyewakan mobil.

“Oleh teman saya, Mak Pon langsung disewakan mobil yang masih baru dengan sopirnya. Kita berangkat bersama rombongan kecil, dengan keluguan orang kampung yang tidak mau pakai AC (air Conditioner) sepanjang perjalanan. Mak Pon itu orang lugu dan jujur. Setelah menerima penghargaan, dia membisiki saya dengan menyodorkan amplop supaya diberikan ke teman saya itu sebagai pengganti sewa mobil. Tentu saja keinginan Mak itu ditolak, karena sejak awal teman saya itu niatnya membantu setiap kesulitan Mak Pon,” pungkas Mamet sambil mengingat-ingat peristiwa yang menggelikan itu. (sen)

_blank

Kabar Terkait