oleh

Merajut Kembali Using dan Islam Lewat Media Tradisi Mocoan Lontar Yusup

KabarBanyuwangi.co.id -Tradisi Mocoan Lontar Yusup di Banyuwangi rupanya semakin menunjukkan gairah yang cukup menggembirakan belakangan ini. Sejak tiga tahun terakhir, usaha Mbok Wiwin tidak sia-sia. Salah satu intelektual muda Using “Utun” asal Cungking itu, bersama Kang Pur, Pak Hasan Basri dan muda-mudi para pegiat budaya, kini tradisi sastra Islam yang “melokal dan membumi” ini bisa dipelajari dengan mudah oleh anak muda. Asal ada niat dan kesungguhan tentunya.

Anak-anak muda yang belajar Mocoan itu berasal dari berbagai kalangan, pelajar SMA hingga Mahasiswa, para pemuda pegiat di desa-desanya, bahkan hingga lintas kultur, Using, Jawa dan Madura.

Saya sendiri salah satu peserta angkatan pertama dari kelas belajar Mocoan ini bersama Mbok Wiwin dan Sang Suami (Kang Anas) yang berasal dari Madiun, dan beberapa teman-teman lain yang kini menjadi senior di komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial (MLYM) itu. Di angkatan ketiga ini, terlihat makin bergairah dengan kedatangan anggota baru yang terlihat cukup antusias dengan semangat barunya.

Sesungguhnya dibalik perkembangan positif ini, tradisi membaca manuskrip kuno beraksara Arab pegon yang mengisahkan riwayat Nabi Yusuf AS ini, hampir berada diambang kepunahan. Para pelaku tradisi mayoritas berusia diatas 50 tahun. Bisa dibayangkan satu dua dekade kedepan jika tidak dilakukan upaya regenerasi.

Baca Juga: Kaum Milenial Banyuwangi Antusias Ikut Pelatihan Mocoan Lontar Yusup

Mungkin hanya tinggal manuskrip lusuh yang teronggok di lemari para pemiliknya. Kita pun mungkin tidak tahu menahu bagaimana cara melantunkan teks itu dengan ragam tembang khas cengkok Banyuwangiannya.

Kumpulan anak muda ini juga menjadi harapan baru bagi perkembangan tradisi sastra Islam khas Nusantara yang kini makin tergerus zaman di tengah pusaran budaya populer. Ditambah lagi dengan fenomena kegandrungan muda-mudi muslim kekinian pada trend hijrah yang penuh simbol religi namun miskin esensi.

Pusaran dua kutub ini, membuat agama kita semakin kering. Bagi anak muda yang pesimis dengan Islam, kehadirannya dianggap usang oleh zaman dan cenderung menghalangi kemajuan. Bagi yang memiliki semagat kebudayaan lokal menggebu, Islam dianggap anti pada tradisi lokal bahkan cenderung memberangusnya.

Di sisi lain, bagi yang optimis dengan agama, namun tidak dibarengi dengan pijakan dasar pemahaman agama yang mapan akan menimbulkan semangat puritanisasi. Akibatnya, bisa dilihat hari ini banyak sekali orang dengan mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan bagi yang menjalankan paham di luar golongannya. Keadaan ini menjadi masalah baru di tengah kehidupan sosial dalam konteks keragaman di negara ini yang sudah lama ditanam dan dipupuk oleh para pendiri bangsa.

Bac Jug: Milenial Banyuwangi Berharap, Pelestarian Seni-Tradisi Harus Terkonsep dan Inovatif

Kita pun merasa terombang-ambing dengan fenomena di atas, hingga jadi malas mikir hal-hal begini. Padahal, jika kita lihat kembali masa lalu, urusan di atas harusnya sudah final. Para pendahulu sudah selesai berdebat mengenai Islam dan “yang” lokal. Islam yang universal selalu menampilkan kekhasannya di masing-masing ragam lanscape ruang geografi dan budaya di berbagai wilayah belahan dunia tanpa harus menghilangkan esensi nilai teologis dan kemanusian dari Islam itu sendiri.

Banyuwangi memang menjadi hubungan menarik pertemuan berbagai budaya, sehingga terjadi melting pot seperti pada ekspresi kebudayan Using hari ini. Pertemuan arus budaya dari berbagai unsur direproduksi terus menerus oleh komunitasnya dengan mengikuti semangat zaman. Hasilnya bisa dilihat hari ini: bahasa, ritual, tari-tarian, musik dan kuliner tentunya, mencerminkan keterbukaan Wong Using akan konteks ruang dan waktu.

Lontar Yusuf yang ditulis ulang oleh Kaum Milenial Banyuwangi. (Foto: istimewa)
Lontar Yusuf yang ditulis ulang oleh Kaum Milenial Banyuwangi. (Foto: istimewa)

Tradisi Mocoan Lontar Yusup bisa menjadi preseden menarik yang mencerminkan hubungan antara Islam dan kebudayaan lokal. Islam yang dibawa penyebarnya dari budaya Jawa kulonan bersanding dengan kultur khas kerakyatan orang Blambangan. Misalnya, Bahasa Jawa Kuno pada teks Lontar Yusup tetap diterima, namun dilantunkan dengan gaya tembang dan logat khas Banyuwangian.

Jejak Islam masa lalu yang tersisa pada Mocoan Lontar Yusuf mengingatkan kita bahwa orang-orang dahulu “sangat waras” menjalankan agamanya. Menjalankan ajaran agama dengan suka-cita, rianggembira dan super slow anti ngegas penuh dengan selera estetik yang tinggi.

Buktinya Surat Yusuf pada Al-Qur’an saja “dibabar” menjadi bait-bait puisi sastra memiliki pola permainan bahasa sastra Jawa Kuno yang tidak bisa dikerjakan dengan waktu instan tentunya. Pemilihan kata yang disandingkan dengan jumlah suku kata sesuai dengan pola tembang/gending, bagi saya ini menjadi mahakarya seni religi yang istimewa.

Baca Juga: Milenial Banyuwangi, Mengisi Kemerdekaan RI dengan “Kemah Mocoan Lontar”

Rupanya, tradisi Mocoan Lontar Yusup ini juga sedikit menjawab ketidakpuasan saya akan Islam hari ini yang makin miskin selera estetik. Bukan untuk romantisme dan glorifikasi masa lalu, tapi realitas yang terjadi di masyarakat bahkan di tingkat akar rumput pun demikian.

Tradisi inipun tak sepenuhnya diterima baik oleh masyarakat muslim di Banyuwangi. Beberapa kalangan bahkan santri berbasis Nahdliyyin pun tak sepenuhnya aware dengan Mocoan Lontar Yusup. Faktanya, tradisi ini justru hidup di kalangan masyarakat yang tidak berbasis kultur santri.

Mereka tidak hanya merawat teks manuskrip kuno itu, namun juga menghidupinya dengan tradisi membaca yang disakralkan. Dengan kata lain, manuskrip itu tidak hanya terawat dalam bentuk lembaran kertas namun juga dihidupi dengan laku lampah melalui medium seni olah suara yang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Terbersit dalam pikiran, mungkinkah Mocoan Lontar Yusup ini digelar di serambi Masjid? Bagaimana respon para ulama dan masyarakat Banyuwangi? Sejauh keterbatasan pengamatan saya, peristiwa itu belum pernah terjadi. Sangat jarang sekali tokoh ulama ketika hajatan mengundang Mocoan untuk melekan.

Digitalisasi Lontar Yusup yang dilakukan Kaum Milenial. (Foto: istimewa)
Digitalisasi Lontar Yusup yang dilakukan Kaum Milenial. (Foto: istimewa)

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Sejauh pengamatan penulis, ruang-ruang estetik religi kita hari ini khususnya di Banyuwangi, seakan antipati dengan unsur ke-Usingan/kebanyuwangian. Unsur Using dalam ranah religi terkesan dipandang miring dan sebelah mata. Walaupun hari ini ada berapa gerakan kesenian yang berusaha mengawinkan Islam dan unsur-unsur kesenian Using namun dinamikanya tidak semasif kesenian Islam mainstream yang sangat minim semangat lokalitas itu.

Membangun Citra Positif Using dari kalangan agamawan itu sangat dibutuhkan, karena sepanjang sejarah, sejak era pra-kolonial, era kolonial, hingga pasca-kolonial keberadaan komunitas yang diyakini pewaris tradisi Blambangan ini selalu menjadi objek dan korban politik oleh para penguasa.

Tradisi Mocoan Lontar Yusup bisa menjadi medium kesenian yang bersifat sakral, sekaligus profan dalam membangun citra positif tentang Using yang selama ini hanya menjadi objek yang inferior di mata superior. Secara demografi, masyarakat Using yang merupakan penganut Islam ini, setidaknya bisa mulai membangun kepercayaan diri dan mendapat legitimasi positif melalui institusi sosial masyarakat yang berbasis keagamaan.

Jika rekonsialiasi ini terbangun, memungkinkan bisa menghapus gap yang selama ini terjadi pada hubungan antara Using dan Islam. Melalui Mocoan Lontar Yusup yang mulai populer di kalangan Lare Using Milenial, diharapkan akan bisa membuka ruang dialogis yang harmonis antara Islam rahmatan Lil’alamin dengan Kultur Using itu sendiri.

Narasi besarnya, kita bisa menyuarakan pesan-pesan religi tentang keseteraan, keadilan dan keragaman sebagai Wong Using sekaligus Muslim yang berbudaya.

Denpasar, 1 Muharram 1442 H/20 Agustus 2020

(Penulis: Arif Wibowo, asal Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank