oleh

Milenial Banyuwangi, Mengisi Kemerdekaan RI dengan “Kemah Mocoan Lontar”

KabarBanyuwangi.co.id – Acara Kemah Mocoan Lontar, mungkin salah satu acara kreatif Kaum Milenial Banyuwangi dalam mengisi kemerdekaan RI ke-75. Acara yang berlangsung di Sawah Art Spance, milik Samsul seorang Penari Muda asal Desa Kemiren, juga diisi dengan Upacara Bendera dengan mengenakan Pakaian Adat Using.

“Kegiatan ini digagas, untuk mengakrabkan anggota Mocoan Lontar Yusuf Milenial (MLYM) lama dengan anggota baru, karena bulan Juli 2020 MLYM menjadi mitra Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat (TPPM) dari Universitas PGRI Banyuwangi,” ujar Wiwin Indiarti, Ketua TPPM Universitas PGRI Banyuwangi yang juga pembina MLYM.

Baca Juga: Warga Desa Kemiren Laksanakan Hormat Bendera Detik-Detik Proklamasi

BacaJuga: Warga Desa Jambewangi Gelar Upacara Agustusan di Tengah Hutan

Baca Juga: Kaum Milenial Banyuwangi Antusias Ikut Pelatihan Mocoan Lontar Yusup

Kemah Mocoan Lontar diadakan, untuk memberikan pengayaan materi kepada para anggota MLYM tentang Ritual Mocoan Lontar Yusup, Kajian Isi Buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon, Transliterasi, Terjemahan dan Serba-Serbi Mocoan Lontar Yusup.

“Selama ini kegiatan MLYM fokus berlatih mocoan, sementara pengetahuan lain seputar mocoan masih belum pernah dikaji secara serius. Pemberian 3 materi pada hari pertama kemah, menjadi penting agar anggota MLYM lebih menghayati bacaan Lontar Yusup di saat menembangkannya. Mereka juga diharapkan bisa lebih memahami konteks sosial budaya Lontar Yusup Banyuwangi, dari dulu hingga sekarang serta makna yang tersirat dalam Lontar Yusup Banyuwangi,“ tambah alumnus UGM yang juga dikenal sebagai penerjeman Buku Asing tersebut.

Hormat Kepada Sang Saka Merah Putih, dengan cara sederhana dan khidmat. (Foto: istimewa)
Hormat Kepada Sang Saka Merah Putih, dengan cara sederhana dan khidmat. (Foto: istimewa)

Kemah Mocoan Lontar diselenggarakan menjelang dan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Diharapkan kaum milenial mampu memaknai kegiatan pelestarian seni tradisi mocoan Lontar Yusup, sebagai upaya mengokohan kesadaran mereka, tentang jati diri dan identitas kebangsaan.

Pada tanggal 17 Agustus 2020 pagi sekitar pukul 07.30 pagi WIB, seluruh peserta yang berpakaian adat Using mengawali hari dengan menghadiri ritual pembacaan Lontar Ahmad atau yang dikenal masyarakat dengan Lontar Hadist Dagang sebagai ritual pengiring selamatan sawah.

“Pengalaman menghadiri ritual pembacaan Lontar Hadist Dagang merupakan hal langka, karena jarang sekali naskah kuno ini ditembangkan. Setelah pembacaan selesai, seluruh peserta dan pelaku mocoan berkumpul di tanah lapang, untuk mengadakan hening cipta proklamasi,” ucap Wiwin Indiarti.

“Tepat pukul 10.17 WIB, dengan dipimpin oleh Ketua MLYM, Naufal Anfal, seluruh hadirin berdoa untuk keselamatan, kedaulatan, persatuan, dan kemandirian bangsa Indonesia,” tambah istri Anas yang juga aktif dalam melesatriak Tradisi Mocoan Banyuwangi.

Rangkaian acara ditutup, dengan menikmati secara bersama-sama hidangan ritual selametan sawah, yaitu nasi dengan pethetheng atau satu ayam utuh yang dimasak olahan khas “pecel pitik”. Suasana ini penuh haru, karena merayakan kemerdekaan di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, mulai mengenakan masker, selalu cuci tangan dan menjaga jarak. (sen)

_blank