oleh

Panjak Muda Mengapresiasi Pendokumentasian Gending dan Musik Gandrung Klasik Banyuwangi

KabarBanyuuwangi.co.id – Langkah Sanggar Tari Gandrung Arum Cluring mendokumentasikan gendhing-gendng klasik Gandrung dan cara mengiringi, mendapat respon positif dari panjak muda yang kemarin terlihat suntuk mengawal proses tersebut. Mereka tanpak intens mengamati, bagaimana Gandrung senior menembang tanpa teks. Begitu juga para panjak senior, terlihat sudah di luar kepala saat mengiringi gending klasik tersebut.

“Saya sangat senang adanya acara ini, karena banyak hal-hal yang tidak saya ketahui tentang gending gandrung, akhirnya saya bisa tahu. Ke depan, dokumensi ini akan menjadi materi pembelajaran bagi saya dan teman-teman bila akan mengembangkan kesenian tradisional Banyuwangi,” kata Adlin Mustika Alam dari Jiwa Etnik Blambanan, Singojuruh, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (11/10/2020).

Proses rekaman dokumentasi sendiri,bermula dari keinginan para panjak muda yang merasa kesulitan mencari gending Gandrung dengan cengkok asli Banyuwangi, serta musik pengiring yang tidak terlalu banyak kembangan atau variasi.

Baca Juga: Dokumentasi Gending Klasik Banyuwangi, Gandrung Supinah Teringat Pengendang Adenan

Baca Juga: Tiga Sanggar Tari Bersatu Garap Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

Baca Juga: Disbudpar Gelar Simulasi Seni Pertujukan Sendratari Sritanjung Hidup Kembali

Keinginan itu disampakan kepada pemilik Sanggar Tari Gandrung Arum, Suko Prayitno, kemudian diwujudkan dengan mengundang para Gandrung dan panjak senior. Kegiatan ini, sekaligus memberi kegiatan para seniman senior yang tidak ada tanggapan selama pandemi Covid-19.

“Gending dan musik Gandrung klasik ini, sebagai pijakan awal, untuk memberikan ruang terhadap Gandrung kedepannya. Tidak semua generasi muda ngerti Gending Gandrung, oleh karena itu apabila sudah tahu dan mengerti maka kewajibannya adalah harus menjaga dan melestarikannya,” ujar Sarjana Seni alumni STKW Surabaya ini.

Penampilan Gandrung Temu saat rekeman dokomentasi gending gandrung klasik. (Foto: sen)
Penampilan Gandrung Temu saat rekeman dokomentasi gending gandrung klasik. (Foto: sen)

Rekaman dokumentasi tersebut meliputi gendhing-gendhing yang dibawakan saat pementasan Gandrung, mulai gending wajib Pada Nonton hingga gending penutup Seblang Subuh. Begitu juga pemain kendang, diusahakan tidak banyak variasi dan lebih menonjolkan ciri khas pukulan kendang Banyuwangian.

“Saya dan teman-teman panjak yunior, berharap acara begini bisa berkelanjutan. Tidak hanya Gandrung, tetapi juga Angklung Caruk, Jaranan, Kuntulan dan lain sebagainya. Acara semacam ini juga bisa menjadi media pembelaran kaum milenial, agar mereka tidak meninggalkan pakem yang sudah ada pada masing-masing kesenian tradisional Banyuwangi,” pungkas Adlin. (sen)

_blank

Kabar Terkait