oleh

Pelawak Tradisional Bingung Ccari Format Penampilan di Era New Normal

KabarBanyuwangi.co.id – Seni tari tradisional Banyuwangi ada wacana menggunakan format baru di eran New Normal. Namun demikin pelawak tradisional Banyuwangi, mengaku masih bingung untuk menentukan format penampilannya. Sebelumnya, sejak diberlakukan pembatasan sosial, dan physical distancing, praktis pentas seni dilarang, dan semua job dibatalkan, sejak Februari 2020 lalu.

“Kami harus terima kondisi ini, karena itu memang ketentuan dari pemerintah. Kalau dihitung-hitung secara kasat mata, kami sangat dirugikan oleh keadaan ini. Tapi semua saya serahkan kepada Allah, karena Allahlah yang maha mengatur semuanya, termasuk rejeki hambanya,” tegas Ali Kenthus, pelawak yang tinggal di Perumahan Sobo Permai Banyuwangi, saat dihubungi kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (14/6/2020).

Kenthus yang biasanya tampil bersama Memed lewat Group Pelos, selama diterapkan sosial dan physical distancing, dan larangan berkumpul, serta menggelar kegiatan, nyaris tidak beraktivitas lagi di dunia seni hiburan yang sudah lama ditekuni.

“Sebetulnya tidak hanya saya, semua seniman kebanyakan nasibnya seperti saya. Sekarang saya beralih menekuni dunia bisnis bidang marketing, alias dodolan,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Kenthus yang sering tampil sebagai pelawak Janger dask MC (Master Ceremonial) ini melanjutkan, selama di rumah dirinya banyak menghabiskan waktunya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan lah yang bisa mengatur semuanya, dengan menyerah penuh agar tidak stress.

“Ya untuk memenuhi hidup sehari-hari selama belum ada pemasukan, ada beberapa harga yang biasa dijual ya dijual dulu, nanti kalau sudah normal ada rejeki lagi bisa cari penggantinya. Seperti saya bilang tadi, saya sekarang menjadi penjual barang-barang di rumah,” ujarnya sambil nyengir.

Kentus menari dengan gayanya yang unik. (Foto: istimewa)

Meski dalam kondisi demikian, Kethus mengaku masih bisa bersyukur. Mengingat masih banyak orang yang nasibnya lebih parah dari dirinya.

“Saya tidak ada pemasukan, karena tidak ada undangan pentas dan job yang sudah ada dibatalkan. Teman saya sudah menerima uang muka, karena pentasnya batal uang muka disuruh mengembalikan. Ini kan tambah repot, padahal yang membatalkan bukan kita,” tegas seniman multi talent ini.

Saat ditanya tentang perhantian Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Kenthus tidak mau menjawab. Alasannya takut salah, dan dia masih berusaha mencari solusi sendiri bersama teman-temannya.

“Kalau masalah bantuan dan perhatian pemerintah, sampean tanya langsung saja ke Dinas Kebudayaan dan pariwsiata Banyuwangi. Saya tidak ada kapasitas untuk menjawab”, kata Kenthus doplomatis.

Baca Juga: Virgie Hassan Penuhi Request Penggemar, Jawab Lewat Channel Youtube

Mengenai bentuk format bari di era Normal Baru, Kenthus masih terus mencari solusinya. Ada sebagian yang beralih tampil di Chanel Youtube, namun tidak mudah bagi seniman-seniman tradisional.

“Apalagi pelawak seperti saya, penonton itu sangat penting. Lawakan kami tambah jadi, bisa setiap lontaran atau gerakan mendapat respon dari penonton. Lha ini ngomong sendiri di depan kamera, pasti persiapannya harus matang. Misalnya dengan skenario yang kuwat, dan tidak harus melibatkan seniman lain,” tambah Kenthus.

Mengenai format tampilan penari tradisional Banyuwangi, dengan mengenakan masker dan Face Sheild (mika penutup muka), Kenthus tidak mau berkomentar banyak.

“Yang jelas, kalau pelawak disuruh berpenampilan demikian, tentu akan mengalami kesulitan. Bagaimana bisa berhasil membuat penonton tertawa, jika artikulasi kita tidak jelas didengar karena terhalan masker, dan face shiled.  Apalagi dengan ketentuan penonton, jelas memerlukan kerja keras untuk memikirkannya hingga semua berjalan sesuai ketentuan yang ada agar seniman tetap bisa eksis dan penonton terhibur,” pungkas Kenthus. (sen)

_blank

Kabar Terkait