oleh

Pemain Jaranan Buto Rela Disabet Cemeti Asal Diberi Imbalan Rp 100 Ribu, Ini Alasannya

KabarBanyuwangi.co.id – Seorang pemain Jaran Buto Banyuwangi di Taiwan, Sugeng atau yang akrab dipanggil Jambrong, rela disabet dengan cemeti besar oleh penoton, asal diberi imbalan Rp 100 ribu sekali sabet.  Atraksi pemain Jaranan Buto Banyuwangi yang bermarkas di Kota Tainan, memang sangat populer di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI) Taiwan.

“Memang di Group Jaranan Buto yang melakukan atraksi keras tidak semua, paling saya dan Kang Sis. Selain kru, jika ada yang ingin menyabet saya rela, asal mau membayar di depan Rp 100 ribu sekali sabetan cemeti besar. Ini bukan komersial, tetapi sebagai bentuk apresiasi. Kami setiap tampil tidak menentukan honor. Nah dari saweran dan imbalan sabetan inilah, sedikit bisa mengganti ongkos lelah kru,” ujar Sugeng asal Desa Tapanrejo, Kecamatam Muncar, kepada kabarbanyuwangi.co.id beberapa waktu lalu.

Sugeng di Cemeti dalam atraksi di Taiwani. (Foto: dok istmewa)
Sugeng di Cemeti dalam atraksi di Taiwani. (Foto: dok istmewa)

Sugeng  atau Jambrong, sejak tahun 2013 merantau ke Taiwan. Bahkan saat anak keduanya lahir, umur tiga bulan sudah ditinggal pergi kerja ke Taiwan. Saat masih bujang, Jambrong ikut kelompok Jaranan Buto di desanya selama 4 tahun. Bagi Jambrong, tampil sebagai pemain Jaran Buto di Taiwan adalah mengulang masa lalu yang pernah dijalani di tanah kelahiran.

“Saya dan Erick Sugianto memang sudah setelan, saat trans Ericlah yang bisa menggendalikan. Bahkan Erick itu, saat main bersama Reog Ponorogo, justru tampil sebagai pawang, atau tukang kambuh pemain yang trans. Sekarang kita sudah mengurangi main bersama Reog Ponorogo di Taiwan. Karena bisa bersaing tidak sehat akibat atraksi dari Jarinan Buto bisa memalingkan penonton yang ada,” tegas Bapak dua anak perempuan yang masih kelas 5 Sekolah Dasar dan TK ini.

Baca Juga: Kesenian Tradisional Jaranan Buto Banyuwangi Eksis di Taiwan

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Jamprong yang bekerja di sebuah Pabrik Besi dikawasan Pekang, Taiwan, selama ini aktif dikomunitas Trotoar Tainan tempat awal berdirinya Jaranan Buto. Rencananya bulan Agustus akan tampil besar-besaran  di dua tempat, namun sekarang masih Lockdown.

“Rencana sebelum Agustus pentas, saya akan mengambil cuti dan pulang ke Banyuwangi. Tujuannya akan mendafatrakan Kelompok Jaran Buto Tainan, ke Dinas Kebudayaa dan Pariwisita Kabupaten Banyuwangi. Harapannya, dengan mempunya legalitas sebagai kelompok pelestari kesenian tradisional Banyuwangi, langkah ke depannya supaya enak. Kami tidak meminta bantuan meterial dari pemerintah, hanya minta dicatat dan diakui keberadaanya,” pungkas Bapak darii Sovi Atul Mubarokah (10 tahun) dan Lailatul Qibtiyah (3 tahun) ini. (sen)

_blank

Kabar Terkait