oleh

Pertama Kali, Jaranan Buto Banyuwangi Tampil Secara Virtual

KabarBanyuwangi.co.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, memberi kesempatan tampilnya Kesenian Jaranan Buto Banyuwangi secara virtual. Dalam tajuk Parade Jaranan Virtual Jawa Timur, tari Jaranan Buto dari Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring tampil bersama ragam tari Jaranan se Jawa Timur, Mingu (26/7/2020) kemarin.

“Awalnya, saya mendapat telepon dari Mas Riom staf Disbudpar Provinsi Jawa Timur, untuk mengikuti kegiatan itu. Tempatnya di Taman Budaya Jawa Timur, jalan Gentengkali Surabaya. Namun situasi sekarang yang tidak memungkinkan, akhirnya dilakukan secara virtual dan pengambilan gambar di sanggar saya,” kata Suko Prayitno, pemilik Sanggar Tari Gandrung Arum, Selasa (28/7/2020).

Baca Juga: Pemain Jaranan Buto Rela Disabet Cemeti Asal Diberi Imbalan Rp 100 Ribu, Ini Alasannya

Baca Juga: Kesenian Tradisional Jaranan Buto Banyuwangi Eksis di Taiwan

Suko yang juga guru SDN 2 Tampo, Kecamatan Cluring ini mengaku, ada job maupun tidak selalu melakukan latihan rutin. Untuk tari Jaranan Buto, sengaja mengambil penari dan panjak yang masih muda. Namun mereka semua profesional, bahkan sarjana tari dan karawitan yang asli Banyuwangi.

“Saat latihan, memang agak tergangu dengan masker dan face shield. Bahkan sering lupa menjaga jarak, karena belum biasa dengan kondisi Normal Baru. Tapi mereka sangat antusias mengikuti kondisi kekinian, termasuk pentas secara virtual dengan protokol kesehatan dan tampil tanpa penonton langsung,” tambah Ketua Paguyuban Pelatih Seni Tari Banyuwangi (Patih Senawangi) ini.

Penampilan Panjak dan Sinden yang memamtuhi Protokol Kesehatan Covid-19. (Foto: Dok Tari Gandrung Arum)
Penampilan Panjak dan Sinden yang memamtuhi Protokol Kesehatan Covid-19. (Foto: Dok Sanggar Tari Gandrung Arum)

Penata musik Jaranan Buto Virtual Banyuwangi dipercayakan kepada Adlin Mustika Alam dari Pasinan Singojuruh, Penata Tari, Panji Prasetya dan Koordinator penari Jaranan Buto dipercayakan kepada Samsul asal Kemiren, Glagah. Meski mereka masih muda, namun sudah profesional dan hanya butuh waktu 3 hari untuk memadukan gerakan sebelum pentas virtual.

“Kita menggunakan pakem yang ada, tinggal memadatkan menjadi 10 menit. Apalagi Kang Samsul yang selama ini konsen terhadap tari Jaranan Buto, terlihat energik dalam pementasannya. Serta tempat memilih penari-penari Jaranan yang masih usia muda, mereka memang selama ini rindu proses sebelum tampil,” ujar Adlin yang juga Sarjana Kerawitan alumni Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Kru Jaranan Buto dari Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring, usai pentas virtual. (Foto: Dok Sanggar Tari Gandrung Arum)
Kru Jaranan Buto dari Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring, usai pentas virtual. (Foto: Dok Sanggar Tari Gandrung Arum)

Dalam pentas Virtual ini, Adlin mengaku banyak belajar prosesnya. Selama ini Adlin sukses mementaskan Tabuhan Soren di RTH Singojuruh yang tampil setiap Sabtu Sore. Berbekal pengalama pentas virtual Jaran Buto Banyuwangi, Adlin bertekad akan mencoba proses ke kesenian-kesenian lain di Banyuwangi.

“Meski saya sering tampil dengan diambil gambarnya, namun secara virtual dan langsung ditayangkan ini baru pertama kali. Tentu menjadi bekal tersendiri, untuk memenuhi kebutuhan pentas kesenian di era Normal Baru ini. Semoga kesenian-kesenian Banyuwangi tetap bisa tampil, dengan format baru ini,” pungkas Adlin. (sen)

_blank

Kabar Terkait