oleh

Saat Pendemi Covid-19, Omzet Aneka Jenang Khas Banyuwangi Turun 50 Persen

KabarBanyuwangi.co.id – Berawal dari hoby memasak, sekarang ditekuni menjadi usaha rumahan mandiri sebagai penghasil makanan, atau camilan khas Banyuwangi. Itu yang dijalani sejak dua tahun lalu oleh Siti Sundari, warga Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

“Saya didorong oleh saudara, dan tamu-tamu yang datang ke rumah setelah mencipi masakan saya. Mereka umumnya menyarankan saya agar buka usaha dari olahan saya ini, alhamdulillah bisa saya laksanakan sejak dua tahun lalu,” ujar Siti Sundari.

Sebagai istri seorang sopir Tronton, Bunda Sundari, begitu akrab dipanggil di Komunitasnya, mempunyai banyak waktu untuk menyalurkan hobynya. Apalagi dari keempat putra-putrinya, dua diantaranya sudah berkeluarga.

“Saya dibantu beberapa orang tetangga, untuk memasak kue khas Banyuwangi. Mulai dari aneka jenang atau dodol, ketan hitam wijen, jenang selo atau waluh, manisan tomat. manisan pala dan lain-lainnya,” Kata ibu kelahiran tahun 1961 ini kepada kabarbanyuwangi.co.id, Selasa (8/9/2020).

Baca Juga: Pertama, Bilik Kuliner Steril Hadir di Kampung Mandar

Baca Juga: Libur Panjang, Rebound Banyuwangi Ramai Wisatawan, Sektor Kuliner Meningkat

Baca Juga: Banyuwangi Simulasi New Normal Sentra Kuliner, Pantau Pelayan sampai Juru Masak

Sebetulnya usaha yang dirintis Bunda Sundari ini, mulai menampakan respon positif dari pelanggan baru pada saat ikut dalam “Pasar Wit-Witan” di Desa Alasmalang, Singojuruh. Pasar Rakyat yang digelar seminggu sekali tersebut, pengunjungnya berasal dari mana-mana. Bahkan tidak sedikit yang datang dari luar Kabupaten Banyuwangi, karena uniknya pasar tersebut.

“Saat masih ada Pasar Wit-Witan, omzet saya meningkat tajam. Banyak pengunjung luar kota Banyuwangi, setelah membeli dan cocok, kemudian dilanjutkan pesan dalam jumlah besar liwat online. Apalagi di Pasar Wit-Witan, saya bisa berjualan aneka masakan khas Using, seperi Ayam Kesrut, Gule Menthok dan lain-lain. Tetapi setelah tutup sementara akibat pandemi Covid-19, omzet menurun tajam, hanya mengandalakan jualan online”, tambah Ibu yang mengaku tidak bisa diam dalam kesehariannya ini.

Jenang Selo atau Waluh, juga menjadi olahan khas Banyuwangi yang banyak digemari. (Foto: istimewa)
Jenang Selo atau Waluh, juga menjadi olahan khas Banyuwangi yang banyak digemari. (Foto: istimewa)

Produk olah Bunda Sundari, sudah terkirim ke Jakarta, Bandung, Bondowoso, Jakarta, Malang, Situbondo dan Bali. Selain itu, produk olahan Bunda Sundari ini juga dikulak oleh pedagang lain, untuk dikemas lebih kecil dan jangkau pasarnya lebih luas.

“Ya kita berbagi rejekilah, untuk mereka yang mempunyai kemampuan marketing. Saya juga demikian, dulu manisa pala memproduksi sendiri. Sekarang saya kolakan ke tetangga desa yang banyak memproduksi manisa pala, bila ada pesanan khusus,” tambah pengusaha rumahan yang mengaku belum pernah mendapatkan pendampingan dari Dinas terkiat di Banyuwangi.

Istri dari Ikhwan ini berkeinginan keras untuk mengembangkan usahanya, namun alasan klasik keterbatasan modal untuk membeli bahan baku masih sering terjadi. Bahkan untuk mengikuti perkembangan jaman, mulai kemasan dan pemasaran online, dilakukan secara ikut-ikutan.

“Saya kepinginnya ada yang membina memberi palatihan, bagaimana olahan yang hegenis serta kemasan yang bagus. Namun sampai saat ini belum ada yang memperhatikan, selain saya harus pro aktif mendatangi komunitas-kumonitas. Bila ada pelatihan khusus, saya yakin usaha ini bisa tambah besar dan diterima masyarakat sesuai selera kekinian,” harap Bunda Sundari yang mampu memproduksi aneka jenang 20 kilogram sehari.

Jenang Ketan Hitam Tabur Wijen, banyak digemari pelanggan. (Foto: istimewa)
Jenang Ketan Hitam Tabur Wijen, banyak digemari pelanggan. (Foto: istimewa)

Selama ini orang-orang luar kota yang menjadi pelanggan tetap, memesan lewat WhatsApp +62 853-3005-9907. Mereka umumnya orang-orang Banyuwangi yang merantau, namun tidak sedikit sebagai oleh-oleh kepada teman-teman dan saudaranya yang bukan orang Banyuwangi.

“Umumnya para pemesan luar kota, sering mengulangi pesanannya. Kalau jualan online lokalan, hanya berkisar di Kecamatan Singojuruh dan Kecamatan Genteng. Mereka umumnya dari komunitas yang saya ikuti sejak awal menekuni usaha ini,” pungkas Bunda Sundari. (sen)

_blank

Kabar Terkait