oleh

“Sego Cawuk” Menu Sarapan Khas Banyuwangi, Murah Meriah, Lezat dan Bergizi

KabarBanyuwangi.co.id – Dari beragam kuliner khas Banyuwangi, sego cawuk merupakan pilihan tepat saat disantap sebagai menu sarapan, atau makan pagi. Diambil dari Bahasa Using, bahasa warga asli Banyuwangi, sego cawuk artinya nasi yang dimakan menggunakan tangan.

Hidangan nasi ini, identik disiram dengan dua macam kuah, yakni kuah ikan pindang dan kuah santan trancam. Lengkap dengan irisan timun, rebusan semanggi, sambal serai, lauk pelasan atau pepes ikan dan telur cit atau telur petis.

Penjual sego cawuk, mudah dijumpai di sejumlah sudut kota Banyuwangi, terutama di pagi hari. Seperti Warung Esuk Jl. Brawijaya No 1A, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi. Warung milik pasangan suami istri Suwantoro (64) dan Yayuk Asmianti (58), yang berjualan sejak tahun 2016 ini, menyediakan menu sarapan khas Banyuwangi sebagai menu unggulannya.

Warung Esuk yang berada di sebelah utara pintu masuk Perumahan Kebalenan 2. (Foto: man)
Seasana Warung Esuk yang berada di sebelah utara pintu masuk Perumahan Kebalenan 2. (Foto: man)

Selain sego cawuk, warung yang menempati halaman teras Yayasan Gendhog Nemu Sariro dengan hanya mendirikan tenda dan gerobak sederhana ini, juga menyediakan menu sarapan lain, yakni nasi pecel, nasi rawon, dan pecel rawon.

“Ya, karena hanya buka di pagi hari, waktu itu kami sepakat namai Warung Esuk,” ucap pasangan suami istri dengan kompak, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (20/9/2020) pagi.

Baca Juga: Darplok, Olahan Masa Kini Hasil Kreasi Khas Banyuwangi yang Banyak Digemari

Baca Juga: Jajanan Tradisional Banyuwangi Tak Kenal Pandemi, Selalu Ramai Pembeli

Sego cawuk di Warung Esuk harganya sangat terjangkau, yaitu Rp 6.000 sepiring. Meskipun murah, porsi yang disajikan tidak pelit, dengan kombinasi lauknya juga cukup komplit. Warung Esuk yang berada tepat di depan Sophie Paris ini, buka dari jam 05.30 sampai 09.30 pagi. Kecuali hari Senin libur.

“Sebelum warung tutup, sekitar jam 07.30 pagi, sego cawuk sering habis duluan,” jelas Suwartono pemilik Warung Esuk.

Dari cerita Adon (dalam bahasa Using) artinya nenek Yayuk Asmianti, bahwa sego cawuk itu memang makanan desa yang sejak dulu disajikan untuk hidangan sarapan.

“Dari nenek saya inilah, saya belajar bagaimana memasak sego cawuk yang enak,” imbuh Yayuk, istri Suwartono.

Menggunakan resep jaman dulu, membuat sego cawuk di warung milik Yayuk ini memiliki rasa yang lezat dan berbeda dengan sego cawuk lain. Yang unik, kuahnya dari parutan beserta air kelapa yang muda. Lauknya pun tidak pakai telur cit atau telur petis, melainkan telur pindang yang direbus dengan daun jambu biji.

Sego cawuk ala Warung Esuk. (Foto: man)
Sego cawuk ala Warung Esuk. (Foto: man)

“Ketika melihat menu sego cawuk yang memang kesukaan saya sejak kecil, saya pengen coba. Rasanya enak sih, bisa dibuat langganan,” kata Indra (40), setelah menikmati makan di Warung Esuk bersama buah hatinya.

Warung yang menjual sarapan dengan harga mulai dari Rp. 6.000 hingga Rp 15.000 per porsi ini, mampu menghabiskan hingga 8 kilogram beras. Namun sejak masa pandemi, sedikit terjadi penurunan penjualan.

Baca Juga: “Geseng Menthok”, Masakan Banyuwangi Kuno Peninggalan Kraton Wijenan

“Biasanya dalam sehari bisa terjual 90 porsi. Tapi sejak pandemi lakunya tidak sampai sebanyak itu. Kalau kondisi seperti ini, yang penting masih bisa jualan dan bisa laku aja sudah cukup,” kata Yayuk.

Sambil mengenakan masker dan sarung tangan untuk menjaga higienitas menu sarapan sego cawok yang akan dihidangkan kepada sejumlah pembeli, serta untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19, pasangan suami istri ini, terus menerus melayani para pembeli dengan kompak dan cekatan. (man)

_blank

Kabar Terkait