oleh

Semangat Seniman Muda Antar Maestro Gandrung Poniti Hingga ke Liang Lahat

KabarBanyuwangi.co.id – Ada pemadangan menarik, saat jenazah maestro Gandrung Poniti dibawah ke pemakaman di Dusun Tegalmojo, Desa Kemiri Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Senin (8/6/2020)  kemarin.

Selain ratusan pelayat masyarakat sekitar, para seniman muda dari Tabuhan Soren, Singojuruh, dan Sanggar Ki Ageng Joyokaryo, Sawahan, Banyuwangi juga turut hadir sebagai bentuk penghargaan terakhir kepada almarhumah.

Mereka dengan bersemangat memanggul keranda, hingga menghantarkan almarhumah ke liang lahat dan mengumburkanya.

“Kami sengaja datang dari Banyuwangi, sebagai wujud penghargaan kepada almarhumah dalam menjaga kesenian di Banyuwangi. Kami sangat terkejut, mendengar kabar Mak Poniti meninggal dunia. Karena saat ini kami sedang menggarap gendhing yang akan dikolaborasikan dengan almarhumah. Namun kenyataan lain, almarhum pergi lebih dulu”, ujar Nuno Sutejo, Ketua Sanggar Ki Ageng Joyokaryo.

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

Nuno jauh-jauh datang dari kota Banyuwangi dengan bersepeda motor, ditemani anak didiknya di Sanggar Ki Ageng Joyokaryo yang masih belia. Menurutnya kehadiranya suatu bentuk pembelajaran dalam menghargai seniman hingga titik darah penghabisan.

“Ini juga menggambarkan kedekatan kami dengan Mak Pon, sebagai pembina kami. Pak Elvin Hendratha yang membawa atmorsfir Mak Pon ke Joyokaryo. Sehingga teman-teman bersemangat dalam berkesenian. Bahkan mereka awalnya mau ikut berangkat ke tempat peristirahatan Mak Pon terakhir, tapi akhirnya diwakilkan,” tutur Nuno yang juga anak kadung dari Soetedjo Hadi, Seniman Angklung asal Sawahan Banyuwangi.

Selain seniman muda dari sanggar seni Ki Ageng Joyokaryo, juga terlihat belasan seniman muda lainya dari Tabuhan Soren, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Singojuruh. Mereka tampak bersemangat, dan bahkan saling berebut untuk memanggul keranda sebagai bentuk kecintaanya terhadap almarhumah Mak Poniti.

“Tidak hanya memanggul keranda, anak-anak juga mengambil alih seluruh proses pemakaman. Mulai memasukan ke liang lahat, sampai mengurug tanah makam. Padahal kejadian ini, merupakan pengalaman pertama. Anak-anak terlibat langsung proses pemakaman, menandu hingga mengubur”, ucap Adlin Mustika, Ketua Tabuhan Soren, Singojuruh ini.

Kolaborasi anak-anak Ki Ageng Joyokaryo dalam menghantar Gandrung Poniti bukan tanpa sebab. Karena kedua kelompok ini mengangku selalu disemangati oleh sosok Gandrung Poniti dalam berkesenian.

Almarhumah semasa hidup melatih menari di RTH Singojuruh. (Foto: dok/sen)

Bahkan, mereka selalu bersemangat menghidupkan lagi kesenian yang sempat mati suri di daerahnya, setelah mengetahui sejarah perjalanan Gandrung Poniti dalam berkesenian di masa lalu.

“Saya dan teman-teman, sejak awal 2019 menghidupkan Tabuhan Soren dan menjadikan Mak Pon sebagai simbol. Kegiatan mandiri anak-anak muda ini, langsung mendapat respon dari masyarakat. Terbukti setiap Sabtu sore, RTH Singojuruh selalu dipadati masyarakat yang ingin melihat aktivitas kami, atau sekedar ingin tahu kondisi Mak Pon terakhir”, pinta Adlin.

Menurut Sarjana Karawitan alumni Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta (STKW) Surabaya ini, semangat teman-temannya di Tabuhan Soren terus bertambah, saat mengetahui kegiatannya banyak didatangi pejabat dan tokoh-tokoh kesenian.

“Ini juga berkat nama Mak Pon sebagai magnit. Banyak diantara tokoh yang datang itu, hanya ingin memastikan keberadaan Mak Pon sebagai Gandrung tertua di Banyuwangi, dan guru dari sejumlah penari Gandrung”, tegas Adlin.

Saat ini, Kelompok Tambuhan Soren sedang menggarap reportoar untuk Mak Pon. Rencana ini sebetulnya sudah lama dicetuskan saat Mak Pon masih sehat, dan sering manggung di RTH.

“Bahkan awalnya, Mak Pon saat itu rencanaya yang mengisi vokalnya. Setelah Mak Pon pergi, kami lebih semangat untuk merampungkan garapan ini. Meski vokalnya bukan Mak Pon lagi, namun esensinya tidak banyak berubah. Semogga karya kami ini, bisa menyenangkan Mak Pon di alam sana”, pungkas Adlin yang asli warga Desa Pasinan, Singojuruh ini. (sen)

_blank