oleh

Tradisi Unik, Merias Hewan Qurban Layaknya Pengantin Baru

KabarBanyuwangi.co.id – Warga Lingkungan Papring, Kelurahan/ Kecamatan Kalipuro Banyuwangi, mempunyai tradisi unik saat akan menyembelih hewan qurban. Semua hewan, baik kambing atau sapi dirias layaknya pengantin baru, sebelum disembelih. Hewan qurban juga dirias bunga 7 rupa yang dikalungkan diantara kedua tanduknya, diberi gincu dan penebal pelipis mata, atau celak. Ini menandakan hewan qurban sudah siap dipotong.

Sebelum acara pemotongan, salah seorang warga yang diberi mandat menggelar pemotongan hewan, terlebih dahulu melakukan acara selamatan. Biasanya 1 hari sebelum hari H, pihak panitia mengundang beberapa perwakilan warga yang terdiri dari tokoh agama dan masyarakat, unsur pemuda dan RT/RW untuk melaksanakan kendurian. Dan diantara masakan yang di sediakan, ada satu nampan berisi kaca cermin, sisir, tali katun, bedak, bunga 7 rupa dan kain kafan.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Omzet Perajin Besek di Lingkungan Papring Meningkat 60 Persen

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Saat Anak Rimba Bikin Olahan Pancake Ala Cafe

Menurut Asnoto (47), sapi yang akan dijadikan qurban sengaja didandani supaya ternak tersebut merasa nyaman. Dasarnya tradisi merias hewan qurban, tidak lain sebagai upaya penghormatan pada hewan yang akan disembelih. Bagaimanapun, hewan qurban tetap mahluk Tuhan yang harus diperlakukan dengan baik. Tidak serta merta langsung dipotong.

“Ya, sesuai dengan adat disini, kalau ada hewan kurban memang harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Malamnya, kami siapkan bubur merah putih, lalu ada cermin, sisir, bedak dan kain kafan.” Kata Astono yang juga Ketua Penitia Penyembelihan Hewan Qurban Lingkungan Papring, Sabtu (1/8/2020).

Setelah Sholat idul Adha, tambah Astono, hewan qurban di mandikan lalu di bawa ke lokasi pemotongan, seperti di Mushollah, Masjid atau di halaman rumah RT/RW. Selesai sholat Id, hewan qurban mulai dipajang di depan umum. Oleh tukang potong atau jagalnya, sapi atau kambing mulai memasuki prosesi hias hewan qurban.

“Pertama adalah membungkus tubuh sapi yang akan di potong dengan kain kafan. Kemudian di ikat dengan tali benang tenun, biasa di sebut LAWE atau LABAY. Setelah itu, bunga 7 rupa yang telah disusun dengan benang menyerupai kalung, dikalungkan di antara kedua tanduk hewan qurban,” tutur Astono yang juga ketua RT ini.

Seorang Ibu warga Papring, sedang memberi menebal warna hitam di sekitar mata sapi qurban. (Foto: istimewa)
Seorang Ibu warga Papring, sedang memberi menebal warna hitam di sekitar mata sapi qurban. (Foto: istimewa)

Prosesi menghias hewan qurban dilanjutkan dengan menyisir bagian rambut yang ada di dahi sapi. Setelah itu, wajah sapi atau Kambing diberi bedak gintalan, diberi gincu dan penebal warna hitam, atau celak di lingkaran bawah bola mata. Kemduian disisir lagi. Setelah itu, kaca cermin dihadapkan pada wajah qurban.

Selesai melakukan prosesi merias atau dandanan terhadap hewan qurban, kemudian ternak yang sudah dihias dirobohkan dengan kain kafan sekaligus bunga 7 rupa, lalu dilakukan pemotongnan. Setelah dibersihkan, daging qurban diantarkan pada masyarakat sekitar lokasi pemotongan dengan nama-nama penerima yang telah didaftar panitia

Tradisi ini sudah ada sejak dulu, secara turun temurun. Merias hewan kurban, baik sapi maupun kambing yang diniatkan warga Papring sebagai qurban pada Hari Raya Idul Adha. Hewan qurban merupakan qurban dari pribadi-pribadi warga Papring, bukan hasil iuran perkumpulan maupun arisan.

(Pengirim: Novita – Lingkungan Papring RT.03 RW 04 Kelurahan/Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank