
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Setiap pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, Elok Susanti datang mengantarkan makanan ke rumah Sahani (67), seorang lansia yang tinggal sendirian di Kelurahan Kecamatan Banyuwangi.
Bagi Sahani, kedatangan Elok bukan sekadar mengantar makanan, tetapi juga menjadi bentuk perhatian yang menguatkan hari-harinya di usia senja. Sahani telah lama ditinggal suaminya dan tidak memiliki anak.
Di tengah keterbatasan, ia
bersyukur menjadi salah satu penerima manfaat program Rantang Kasih, program
pemberian makanan gratis bagi lansia dhuafa yang hidup sebatang kara di
Banyuwangi.
Hal yang sama juga dirasakan oleh
Samsiyah, warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi penerima Rantang Kasih.
Nenek berusia 69 tahun yang tinggal sendirian di rumahnya ini mengaku sangat
senang karena dia tidak perlu repot lagi memikirkan makanan harian.
“Alhamdulillah, saya setiap hari
diantar makanan. Semoga Ibu Bupati selalu sehat, yang memasak dan mengantar
makanan saya setiap hari juga saya doakan sehat dan banyak rezekinya,” ujar
Sahani haru saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (20/10/2026).
Kepedulian terhadap lansia
seperti Sahani dan Samsiyah menjadi alasan Pemkab Banyuwangi terus melanjutkan
program Rantang Kasih. Di tengah efisiensi anggaran, Bupati Ipuk tetap
memastikan program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat tersebut tetap
berjalan.
Ipuk mengatakan Rantang Kasih
bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga upaya memastikan
lansia yang hidup sendiri tetap mendapatkan perhatian.
“Di tengah efisiensi, kami terus
melanjutkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya
Rantang Kasih ini, yang memang sangat dibutuhkan oleh warga lansia kami,” kata
Ipuk.
Digulirkan sejak 2017, Rantang
Kasih telah menjangkau lebih dari 8.000 lansia miskin di Banyuwangi. Pada 2026,
Pemkab Banyuwangi mengalokasikan anggaran sekitar Rp 6,1 miliar untuk program
tersebut, dengan sasaran sekitar 839 lansia penerima manfaat.
Pelaksanaan program ini turut
didukung pemerintah desa, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Banyuwangi, serta
sejumlah pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kami tidak sendiri. pemerintah
desa, Baznas, maupun sejumlah korporasi melalui CSR ikut mendukung program ini
karena anggaran kami terbatas sementara masih ada lansia yang perlu dibantu.
Harapannya, dengan bergandengan tangan manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak
warga yang membutuhkan,” ujar Ipuk.
Elok yang mengantarkan makanan
setiap ke rumah Sahani adalah kader Dasawisma dan PKK yang mengusulkan Sahani
sebagai penerima Rantang Kasih. Ada dua lansia yang dikirimi makanan Elok
setiap hari
“Setiap hari saya yang mengantar.
Tak jarang mereka request makanan tertentu. Bagi saya ini adalah ladang amal,”
kata Elok.
Elok tak hanya mengantarkan
makanan, namun turut memperhatikan kondisi kesehatan lansia tersebut. “Kalau
sakit saya laporkan ke bidan posyandu untuk segera diperiksa ke rumah mereka,”
kata Elok.
Melalui Rantang Kasih, Pemkab
Banyuwangi berupaya memastikan lansia yang hidup dalam keterbatasan tetap
memperoleh makanan bergizi dan perhatian.
“Lebih dari sekadar bantuan pangan, program ini menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan warga untuk merawat sesama,” kata Ipuk. (*)
