Eko Bece: Terinspirasi Ingin Menciptakan Lagu Tentang Angklung CarukANGKLUNG: TABUNG MUSIK BLAMBANGAN (4)


Eko Bece: Terinspirasi Ingin Menciptakan Lagu Tentang Angklung Caruk

Keterangan Gambar : Eko Bece dan istri, Adistya Mayasari diterima Elvin Hendrata, Penulis Buku Angkung: Tabung Musik Blambangan. (Foto: Dok. Artevac)

KabarBanyuwangi.co.id – Komposer dan pencipta lagu-lagu Banyuwangi, Eko Bece mengaku terinspirasi ingin menciptakan lagu tentang Angklung Caruk.

Eko bersama istrinya Adistya Mayasari yang juga seorang Penyanyi lagu-lagu Banyuwangi, terlihat serius menyimak pertunjukan Angklung Caruk saat peluncuran Buku Angklung: Tabung Musik Blambangan di Rumah Keboan Alasmalang, Singojuruh (10/4/2021) lalu.

“Usai menonton pertunjukan Angklung Caruk antara Group Sekar Tanjung Alasmalang dan Sekar Wangi Pasinan, saya mulai menata kata-kata. Insya`allah saya garap pelan-pelan, agar hasilnya lebih baik dan bisa menginformasikan tentang Angklung Caruk,” ujar Eko kepada KabarBanyuwangi.co.id






Baca Juga :

Eko mengaku terkesan Peluncuran Buku ‘Angklung: Tabung Musik Blambangan’ yang dibarengi dengan penampilan Angklung Caruk. Apalagi penampilan Angklung Caruk yang bisa dinikmati dengan bagus, jarang sekali terjadi di masyarakat.

“Acaranya menarik dan sangat menggugah kekayaan seni budaya Banyuwangi, karna banyak yang belum mengenal secara detail angklung Banyuwangi. Tentang buku, saya sangat suport untuk dijadikan salah satu kurikulum pelajaran kesenian di sekolah, bukan hanya Gandrung saja atau Basa Using,” harap Eko.

Eko Bece mengakui, Buku Angklung: Tabung Musik Blambangan dari daftar isi yang dibahas cukup bagus. Memuat secara runut tentang definisi angklung, hingga pekembangan kelompok-kelompok kesenian Angklung yang ada di Banyuwangi.


Keterangan Gambar : Penyanyi Adistya Mayasari bersama Suami dan pengurus SKB saat melihat Angklung Caruk. (Foto: Eko Bece)

“Hanya saja, saya belum menemukan analisis, kenapa justru angklung non Banyuwangi yang diminati oleh wisatawan luar. Telaah tentang tantangan kekinian, juga belum terbahas tuntas,” jelas Eko.

“Kami para seniman berpacu dengan perkembangan tekhnologi kekinian. Mudah-mudahan, buku kedua nanti dari Pak Elvin bisa membahas dan analisis tantangan saat ini,” imbuh Bapak dua anak ini.

Masalah kekhasan laras Angklung Banyuwangi yang beda jauh dengan daerah lain, diakui Eko setelah bergelut lama di dunia masik modern. Para seniman music modern Banyuwangi banyak yang membikin Angklung sendiri dan di-tune dengan alat music sendiri.

“Angklung Banyuwangi larasnya unik dan tune-nya beda dengan daerah lainnya. Juga beda dengan tune notasi alat musik modern dan sejenisnya. Kalau dikolaborasi dengan musik modern, ya harus notasi pakem Banyuwangi, notasi, fa, dan si tidak terpakai,” ucapnya. 

“Makanya lagu sekarang beda dengan lagu dulu, karna saat ini hampir semya notasi terpakai, seperti dangdut, pop dan lainnya,” pungkas Eko yang juga berharap ada diskusi khusus membahas musik Banyuwangi. (sen)