Menggali Filosofi Kembang Dermo, Simbol Leluhur Seblang Olehsari yang Diangkat Gandrung Sewu 2026Disbudpar Banyuwangi

Menggali Filosofi Kembang Dermo, Simbol Leluhur Seblang Olehsari yang Diangkat Gandrung Sewu 2026

Kembang Dermo di panggung Seblang Olehsari. (Foto: Istimewa/dok)

KabarBanyuwangi.co.id – Gelaran Festival Gandrung Sewu 2026 kembali menghadirkan daya tarik magis dan kultural yang kental dengan tradisi masyarakat Blambangan.

Tahun ini, sorotan utama tertuju pada tema Kembang Dermo, sebuah simbol sakral yang tidak hanya menjadi estetika busana atau properti tari, melainkan merangkum nilai-nilai spiritual yang sangat luhur.

Di balik kemegahan ribuan penari Gandrung yang memadati pesisir pantai Boom Banyuwangi, terdapat akar tradisi yang bersemi dari tanah Desa Olehsari, salah satu pusat pelestarian budaya Suku Using yang autentik.

Baca Juga :

Kembang Dermo ternyata memiliki makna yang sangat mendalam dalam rangkaian ritual Seblang, sebuah tradisi bersih desa yang sakral dan penuh makna. Ritual Seblang di Kecamatan Glagah ini menjadi fondasi spiritual lahirnya berbagai koreografi kolosal Gandrung Sewu dari tahun ke tahun.

Melalui tema ini, para seniman dan budayawan Banyuwangi ingin mengajak masyarakat untuk meresapi kembali esensi dari laku hidup para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis, mengungkapkan makna filosofis yang terkandung di dalam Kembang Dermo secara mendalam. Dalam pandangannya, Kembang Dermo bukan sekadar hiasan fisik, melainkan wujud nyata dari keberkahan serta ketulusan hati yang murni.

Simbol ini mengajarkan manusia pentingnya keikhlasan dalam menjalani setiap jengkal dinamika kehidupan yang penuh dengan ujian dan ketidakpastian.

"Kembang Dermo memiliki kemiripan makna dengan filosofi 'Mung Sak Dermo'. Ungkapan tradisional masyarakat Jawa dan Using ini menyiratkan arti sekadar kewajiban, sikap pasrah kepada Sang Pencipta, atau sebatas menjalankan peran kemanusiaan tanpa beban yang berlebihan,” kata Joko.

“Hal ini mengajarkan agar manusia tidak terlalu ambisius hingga menghalalkan segala cara, melainkan berbuat sesuatu dengan tulus tanpa dibuat-buat atau tanpa pamrih," tambah Joko.

Secara visual dan material, Kembang Dermo tersusun dari perpaduan elemen flora yang memiliki makna simbolik tersendiri. Rangkaian tersebut terdiri dari 4 kuntum bunga kenanga dan 1 kuntum bunga kantil yang dirangkai dengan cermat pada sebilah bambu.

Komposisi bunga ini menyimpan pesan moral yang sarat akan nilai-nilai ketuhanan, penghormatan kepada leluhur, serta ikatan batin antargenerasi.

Konon, dalam memaknai komponen bunga kenanga, masyarakat Using mengaitkannya dengan kata "mengenang". Empat bunga kenanga tersebut menyimbolkan kewajiban moral untuk senantiasa mengenang jasa-jasa para leluhur zaman dahulu.

Para pendahulu telah membuka alas, merintis peradaban, dan mewariskan kebudayaan luhur yang masih dinikmati oleh anak cucu hingga hari ini.

Sementara itu, 1 kuntum bunga kantil yang menjadi bagian dari rangkaian tersebut memiliki makna filosofis yang tidak kalah penting.

Bunga kantil dimaknai sebagai pengingat untuk bisa "nginthil", yang dalam bahasa lokal berarti mengikuti, menyertai, atau senantiasa ingat kepada Sang Pencipta dan pihak-pihak yang telah berjasa membuat kita hidup. Bunga ini menjadi simbol konektivitas spiritual yang erat antara manusia, alam semesta, dan Sang Maha Kuasa.

Pemilihan tema Kembang Dermo untuk Gandrung Sewu 2026 dinilai sangat relevan di tengah arus modernisasi yang serba cepat dan kompetitif. Di saat masyarakat sering kali merasa lelah akibat tuntutan duniawi yang berlebihan, filosofi "Mung Sak Dermo" menawarkan ketenangan batin.

Nilai ini mengingatkan manusia untuk kembali pada kesederhanaan, bekerja keras dengan ikhlas, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada ketentuan Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi para penari Gandrung Sewu, mendalami filosofi Kembang Dermo memberikan penghayatan jiwa yang berbeda saat membawakan tarian di atas pasir pantai.

Gerakan gemulai yang dipaduan dengan senyum khas Gandrung kini bukan lagi sekadar teknik tari konvensional. Setiap penari membawa energi spiritual, menjadikan pementasan kolosal tersebut sebagai sebuah medium doa dan rasa syukur massal.

Sajian Kemeriahan Rangkaian Acara

Rangkaian agenda panjang Gandrung Sewu 2026 sendiri dirancang sangat meriah oleh panitia penyelenggara. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perhelatan akbar ini akan dimulai lebih awal, yakni sejak tanggal 22 Oktober mendatang.

Pada hari pertama pembukaan tanggal 22 Oktober, penonton dan wisatawan yang datang akan disuguhkan penampilan merdu Keroncong Banyuwangi. Tak hanya itu, atraksi budaya khas seperti Hadrah Kuntulan Caruk juga siap memukau para pengunjung yang memadati lokasi.

Kemeriahan festival tidak berhenti sampai di situ saja karena rangkaian acara berlanjut pada tanggal 23 Oktober. Pada hari kedua ini, panitia menyajikan sajian kreatif berupa Musik Jalanan serta pementasan autentik Gandrung Terob yang sarat nuansa tradisional.

Seluruh rangkaian acara pendahuluan tersebut dirancang secara matang untuk memanjakan wisatawan domestik maupun mancanegara. Agenda ini sekaligus menjadi pemanasan sebelum menyambut puncak perhelatan akbar Gandrung Sewu pada keesokan harinya.

Puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober dipastikan akan menjadi momen paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Berbagai atraksi spektakuler telah disiapkan untuk memberikan pengalaman hiburan berkelas dunia di bumi Blambangan.

Deretan atraksi memukau mulai dari Jaranan Show, prosesi sakral Meras Gandrung, Atraksi Drone modern di udara, Pesta Kembang Api yang meriah, pementasan inti Gandrung Sewu, hingga ditutup lewat Konser Musik yang semarak siap mengukir kenangan indah bagi siapa saja yang hadir di Pantai Boom Marina. (anj/man)