
Siswa kelas 2 SD di Banyuwangi, Azril bakal ikut mengawal kemeriahan panggung Gandrung Sewu 2026. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Ada yang berbeda dan terasa jauh lebih spesial dalam perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu tahun ini. Jika pada edisi-edisi sebelumnya dominasi pengiring musik diisi oleh musisi dewasa, Gandrung Sewu 2026 justru memberikan panggung luas bagi talenta-talenta muda dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) untuk ambil bagian.
Langkah berani ini diambil oleh panitia pelaksana guna melakukan regenerasi seniman tradisi sejak dini. Suara tabuhan dan ritme musik tradisional yang rancak kini tidak hanya digelorakan oleh para senior, melainkan dipadukan dengan semangat membara dari generasi penerus bangsa di tanah Blambangan.
Salah satu anak muda berbakat yang berhasil mencuri
perhatian publik adalah Azril Fadhil Alfarizqi. Siswa SDN 2 Tampo, Kecamatan
Cluring, Kabupaten Banyuwangi ini didapuk untuk ikut ambil bagian mengawal
kemeriahan musik tradisional dalam pergelaran kolosal tersebut.
Kepiawaian Azril dalam mengolah nada dan memainkan alat
musik tradisional sebenarnya sudah terpupuk sejak usianya masih sangat belia,
yakni 2 tahun. Berkat ketekunannya berlatih secara mandiri, kematangannya dalam
membawakan irama kuntulan kini sudah tidak perlu diragukan lagi di atas
panggung.
Di sela-sela latihan intensif di Stadion Diponegoro,
bocah berprestasi ini tak bisa menyembunyikan rasa bangga bercampur bahagianya.
Ia mengaku sangat antusias bisa menjadi bagian dari sejarah besar Festival
Gandrung Sewu yang telah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut.
"Saya senang memainkan alat musik tradisional
khususnya kuntulan ini. Apalagi diberikan kesempatan bermain di Gandrung Sewu
2026 saya sangat senang," ungkap Azril dengan senyum ceria, Sabtu
(10/9/2026).
Di balik ketukan yang mantap dari tangan mungilnya,
tersimpan cerita unik dari sang ayah, Rio Ardian Fadilillah. Rio mengungkapkan
bahwa buah hatinya sama sekali tidak pernah mendapatkan bimbingan formal atau
kursus musik secara khusus sejak kecil.
Bakat besar yang dimiliki Azril terungkap begitu saja
secara tidak sengaja di lingkungan rumah mereka. Sang ayah yang juga seorang
penggiat seni dibuat terkejut saat melihat bagaimana bocah tersebut mampu
menguasai instrumen musik tradisional dengan sangat cepat dan natural.
"Dulu pas masih kecil, Azril tiba-tiba memainkan
alat musik rebana milik saya. Di rumah saya ada sanggar kuntulan, ternyata
diam-diam dia memperhatikan saya saat sedang berlatih di rumah," kenang
Rio sembari memandang sang anak penuh bangga.
Keterlibatan para musisi cilik seperti Azril tentu
memberikan warna tersendiri di balik layar persiapan festival. Penata musik
Gandrung Sewu 2026, Adlin Mustika Alam, mengaku merasakan kebanggaan mendalam
sekaligus tantangan tersendiri dalam meramu aransemen musik kolosal bersama
anak-anak.
Menurut Adlin, melatih anak-anak seusia SD dan SMP
memerlukan pendekatan psikologis khusus serta kesabaran yang luar biasa. Namun,
di balik tantangan tersebut, tersimpan potensi besar yang siap meledak di atas
panggung utama Pantai Boom Marina nanti.
"Dalam tahapan bermusik khususnya anak-anak itu
tahapannya berawal dari bakat, dasar, insting, hafalan lalu rasa. Nah tantangan
saya sendiri melatih anak-anak yang sudah memiliki insting yang bagus ini naik
lagi untuk bisa merasakan," jelas Adlin mengenai proses kreatif yang
sedang ia jalani.
Antusiasme tinggi masyarakat kini tertuju pada puncak
acara Gandrung Sewu 2026 yang dijadwalkan bakal mengguncang kawasan pesisir
Pantai Boom Marina pada 24 Oktober mendatang. Pagelaran tari kolosal yang megah
ini dipastikan akan menyedot puluhan ribu pasang mata dari berbagai penjuru
daerah.
Tahun ini, festival megah tersebut mengusung tema utama
yang sarat akan nilai historis dan kultural, yakni Kembang Dermo. Melalui tema
ini, Gandrung Sewu 2026 siap menyuguhkan kesakralan sebuah adat istiadat
leluhur yang mengakar kuat di bumi Banyuwangi.
Rangkaian agenda panjang Gandrung Sewu 2026 sendiri
dirancang sangat meriah dan akan dimulai lebih awal, yakni sejak tanggal 22
Oktober. Pada hari pertama pembukaan, penonton akan disuguhkan penampilan merdu
Keroncong Banyuwangi serta atraksi budaya Hadrah Kuntulan Caruk.
Kemeriahan berlanjut pada 23 Oktober dengan sajian
kreatif berupa Musik Jalanan serta pementasan autentik Gandrung Terob. Seluruh
rangkaian acara tersebut dirancang untuk memanjakan wisatawan sebelum menyambut
puncak perhelatan akbar pada keesokan harinya.
Puncak acara pada 24 Oktober dipastikan akan menjadi
malam yang paling ditunggu-tunggu. Berbagai atraksi spektakuler mulai dari
Jaranan Show, prosesi sakral Meras Gandrung, Atraksi Drone modern, Pesta
Kembang Api yang memukau, pementasan inti Gandrung Sewu, hingga ditutup lewat
Konser Musik yang semarak siap mengukir kenangan indah bagi siapa saja yang
hadir. (anj/man)
