
Jejak letusan Gunung Ijen di Banyuwangi yang menghanyutkan tiga wilayah pada tahun 1817. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Di balik lanskap eksotis Banyuwangi yang kini memanjakan mata wisatawan, tersimpan sebuah lembaran sejarah kelam yang nyaris terlupakan. Jauh sebelum era pariwisata modern, tanah Blambangan pernah menjadi saksi bisu amukan alam maha dahsyat dari dua raksasa vulkanik, yakni Gunung Ijen dan Gunung Raung.
Bencana kolosal yang terjadi sepanjang abad ke-17 hingga ke-19 ini bukan sekadar letusan gunung api biasa. Peristiwa tersebut terekam dalam arsip kolonial, laporan resmi Asisten Residen C. J. Bosch, hingga kesaksian warga lokal yang merangkum betapa rentannya peradaban manusia di hadapan kekuatan alam.
Peneliti Warisan Geologi Kabupaten Banyuwangi, Abdillah
Baraas, mengungkapkan bahwa memori kolektif masyarakat Banyuwangi terhadap
bencana masa lalu ini penting untuk dihidupkan kembali sebagai mitigasi modern.
Menurutnya, dalam kajian ilmiahnya, bencana vulkanik di masa lampau tidak
berdiri sendiri, melainkan sebuah rangkaian ekologis yang mengubah struktur
sosial secara masif.
"Kisah letusan Ijen dan Raung pada abad ke-18 hingga
ke-19 mengajarkan kita bahwa dampak bencana tidak berhenti saat dentuman
mereda, melainkan memicu krisis multidimensi yang merembet ke sektor pangan,
kesehatan, hingga tata ruang wilayah," ujar Abdillah Baraas dalam
keterangannya, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, puncak dari rangkaian bencana tersebut
terekam jelas pada Januari 1817. Kala itu, langit Banyuwangi mendadak berubah
menjadi gulita selama beberapa hari akibat letusan eksplosif Gunung Ijen yang
memuntahkan kolom-kolom api raksasa, abu tebal, serta material belerang yang
mencemari udara.
Ketakutan warga saat itu semakin menjadi-jadi karena
bayang-bayang kelam letusan Gunung Tambora pada 1815 masih membekas kuat di
ingatan kolektif Nusantara. Suara gemuruh mirip dentuman meriam terus terdengar
bersahut-sahutan, membuat warga panik dan mencari tempat perlindungan darurat.
Namun, ancaman mematikan sesungguhnya justru datang
setelah hujan deras mengguyur kawasan puncak. Dalam hasil penelitiannya, Abdillah
mencatat bahwa bahaya sekunder berupa lahar dingin atau banjir bandang lumpur
vulkanik menjadi aktor utama kehancuran permukiman di dataran rendah.
"Dalam catatan sejarah, material vulkanik yang
menumpuk di lereng gunung tersapu air hujan, berubah menjadi aliran lumpur
pekat yang menerjang desa-desa seperti Bakoengan (Bakungan), Balook (Baluk),
dan Patemon (tempuran kedua aliran sungai di wilayah Kebalenan) hingga
meratakan puluhan rumah," jelas Abdillah.
Dampak kehancuran tersebut terekam sangat luas, menjalar
dari kawasan hulu hingga mencemari aliran Sungai Tambong dan bermuara ke laut.
Aliran lumpur yang masif bahkan sempat menyumbat alur sungai secara permanen
dan membentuk kawasan rawa baru yang mengubah peta topografi Banyuwangi kala
itu.
Panik akibat terjangan banjir dan lumpur, warga setempat
mencari berbagai cara untuk menyelamatkan diri, mulai dari menaiki perahu di
pelabuhan hingga merakit batang-batang bambu demi menyeberang Laut Selat Bali
menuju Pulau Bali.
Tidak hanya manusia yang menjadi korban, ekosistem hutan
Ijen mengalami porak-poranda parah. Kesaksian seorang pemburu bernama Bapak
Kami, yang mendatangi kembali puncak gunung enam hari pasca-letusan mendapati
timbunan abu setinggi 20 kaki yang menimbun harimau, rusa, hingga ribuan burung.
Menanggapi fenomena matinya satwa secara massal ini,
Abdillah Baraas menegaskan bahwa letusan Ijen pada masa itu telah memicu
kepunahan ekologis lokal yang parah.
"Hilangnya satwa liar seperti harimau dan rusa
menunjukkan betapa cepatnya letusan vulkanik melumpuhkan rantai makanan dan
merusak habitat alami dalam hitungan jam," tambahnya.
Penderitaan rakyat Banyuwangi kian sempurna ketika fase
pasca-letusan menghadirkan gelombang kelaparan dan wabah penyakit. Gagal panen
massal terjadi akibat sawah dan ladang tertimbun abu beracun, sementara ternak
warga mati kelaparan atau teracuni air sungai yang tercemar belerang.
Krisis air bersih pun melanda, memicu keluhan kesehatan
seperti sakit perut akut dan batuk berat yang menyerang penduduk lokal. Pemerintah
kolonial yang dipimpin oleh Residen Roos bahkan kewalahan menghadapi krisis
kemanusiaan ini, hingga harus mengeluarkan kebijakan pembebasan pajak tanah
bagi wilayah yang terdampak parah.
Melalui lembaran sejarah dan telaah ilmiah Abdillah
Baraas, kita diingatkan bahwa ancaman bencana di bumi Blambangan adalah sebuah
keniscayaan sejarah. Relokasi muara sungai hingga pemulihan ekonomi yang
memakan waktu bertahun-tahun di masa lalu menjadi bukti nyata bahwa
kesiapsiagaan menghadapi ancaman Ijen dan Raung harus terus dijaga oleh
generasi masa kini. (anj/man)
