
Kepala Bapenda Banyuwangi, Samsudin. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggali potensi pajak dari sektor usaha homestay dan rumah kos guna mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Tahun ini kita akan fokus pada Homestay, karena penerimaan pajak dari Hotel terjadi pelandaian, tidak ada peningkatan. Dan kita cermati yang ramai justru Homestay, tapi kontribusinya masih rendah," kata Kepala Bapenda Banyuwangi, Samsudin.
Meski demikian, Samsudin menegaskan pihaknya masih
melakukan pemetaan dan formalisasi objek pajak, mengingat adanya perbedaan
karakter antara usaha homestay dan rumah kos.
"Rumah kos itu ada levelnya, untuk pekerja, level
pelajar dan lainnya. Ini yang masih kita pikirkan, mana yang akan kita beri
insentif dan tidak," ucap Samsudin saat dikonfirmasi usai mengikuti rapat
kerja DPRD, Selasa (13/1/2026).
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Banyuwangi juga akan
menaruh perhatian pada potensi pajak usaha Homestay eksklusif yang kini kian
menjamur, utamanya yang memiliki fasilitas setara hotel.
"Setelah kita terlusuri banyak pengusaha Homestay
bukan milik warga lokal, justru pemiliknya orang luar daerah, ini yang akan
kita gali," ungkapnya.
Selain Homestay, Bapenda juga akan menyisir kembali
potensi obyek pajak lainnya, seperti pajak air tanah, pajak hiburan, pajak
reklame, termasuk pemanfaatan aset daerah yang salah satunya terminal
pariwisata terpadu di Kelurahan Sobo dan dormitori.
"Mau tidak mau memang upayanya harus itu. Karena
pajak daerah selama ini landai saja, pada 2025 kemarin ada kenaikan pada obyek
pajak resto sampai 150 persen, ini jadi benchmark," imbuhnya.
Sekadar diketahui, Pendapatan daerah pada 2026 diproyeksi
sebesar Rp 2,905 triliun, yang bersumber dari PAD diproyeksi sebesar Rp 800
miliar, pendapatan transfer Rp 2,054 triliun, serta lain-lain pendapatan daerah
yang sah sekitar Rp 51,248 miliar.
Sedangkan proyeksi belanja daerah tahun anggaran 2026
sebesar Rp 2,917 triliun. Adapun komposisi pembiayaan pada APBD 2026 meliputi
penerimaan pembiayaan direncanakan diterima sebesar Rp 12,598 miliar dengan
asumsi penerimaan pembiayaan APBD 2026 sebesar 57,369 miliar, dan pengeluaran
pembiayaan sebesar Rp 44,771 miliar. (fat)