
(Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Saya mengikuti Persewangi bukan dari kemarin sore. Sudah bertahun-tahun, dari masa lapangan Diponegoro yang becek masih ditutupi pagar gedeg, sampai sekarang punya tim yang gajinya sudah jauh di atas U Em Ka (UMK).
Dan jujur saja, baru kali ini saya menulis dengan rasa kecewa yang benar-benar penuh. Bukan kecewa karena kalah—itu biasa dalam sepak bola. Tapi kecewa karena kalah tanpa perlawanan yang pantas dikenang. Rasanya seperti datang jauh-jauh ke hajatan, tapi pulang cuma bawa plastik kresek kosong.
Gugurnya Persewangi Banyuwangi di babak 32 besar tingkat
provinsi musim ini terasa seperti tamparan keras. Bukan cuma ke pemain atau
pelatih, tapi ke ingatan kolektif kita semua. Persewangi yang biasanya nyaman
melangkah sampai fase nasional, kini harus berhenti sebelum cerita benar-benar
dimulai. Ironis, mengingat musim lalu mereka masih berdiri gagah sebagai juara
Jawa Timur. Dari singgasana ke ruang tunggu, dalam waktu yang singkat.
Persewangi berangkat dari start yang hampir sama dari
musim kemarin. Rahmat Darmawan menjadi pembuka "Wah" sebelum
kompetisi. Lalu pemain-pemain dengan asal klub yang mentereng, tidak jauh beda
dari musim lalu. Meski nyatanya di lapangan, Permainanya belum bisa dikatakan
sama.
Ada narasi bahwa Persewangi musim ini kembali bermain
“polos”. Jujur, bersih, tanpa cara bawah tangan. Secara etika itu terpuji,
secara realita sepak bola Indonesia itu berisiko tinggi. Bermain bersih boleh,
tapi jangan sampai bermain lugu. Karena di kompetisi kita, kadang yang bertahan
bukan yang paling suci, tapi yang paling siap. Sayangnya, Persewangi musim ini
bukan hanya bersih—mereka juga mudah dibaca. Seperti buku terbuka yang isinya
tak lagi menarik.
Sejak babak 64 besar, sinyal bahaya sudah jelas.
Permainan Persewangi tak meyakinkan, jauh dari kata solid. Komposisi pemain
yang dibawa pelatih Francis Wawengkang terbukti gagal menghadirkan kemenangan
pasti. Jika dibandingkan dengan tim musim lalu, perbedaannya terasa
menyakitkan. Dulu lapar, sekarang kenyang sebelum makan. Dulu berani, sekarang
ragu bahkan untuk menyerang.
Yang lebih menyedihkan, performa buruk pemain luar
Banyuwangi memberi dampak panjang. Bukan hanya merugikan tim, tapi juga
menyeret pemain lokal ke pusaran cemoohan publik. Anak-anak Banyuwangi harus
menunduk di tanah sendiri, sementara mereka yang bukan orang Banyuwangi bisa
dengan mudah pergi dan mencari pelabuhan baru setelah kapal ini karam. Beban
moralnya tidak dibagi rata.
Di titik inilah isu Persewangi 9370 tak lagi terdengar
sebagai wacana emosional. Awalnya saya menolak. Terlalu dini, terlalu reaktif.
Tapi melihat performa Persewangi saat ini dan cara bakat lokal dipinggirkan,
saya mulai berpikir ulang. Mungkin Persewangi 9370 justru menjadi jawaban.
Sebuah tim yang tidak sekadar membawa nama Banyuwangi, tapi juga menghargai
denyut nadinya. Tim yang menjadikan putra daerah bukan cadangan abadi,
melainkan pusat cerita.
Persewangi musim ini boleh gugur di 32 besar. Tapi
kekecewaan ini jangan ikut gugur tanpa makna. Karena sepak bola Banyuwangi
terlalu besar untuk diperlakukan seadanya. Dan bagi saya pribadi, setelah
bertahun-tahun mendukung, inilah kali pertama rasa kecewa itu benar-benar
sampai ke tulang. Tajam, dingin, dan sulit dilupakan.
(Penullis: Hibbul Hadi (Bang Hibbul), Pemerhati Sepak Bola Banyuwangi)