
Slamet Santoso, PMI asal Desa Kalipait, Tegaldlimo, Banyuwangi kala mencicipi liburan di tengah kesibukannya di Polandia . (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Siapa sangka, niat awal mengadu
nasib menjadi buruh pabrik di Eropa justru membuka jalan bagi Slamet Santoso
untuk kembali mengenakan sepatu bola. Pemuda asal Desa Kalipait, Kecamatan
Tegaldlimo, Banyuwangi ini mendadak ramai diperbincangkan setelah sukses
menembus kompetisi sepak bola di Polandia.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Pekerja Migran Indonesia
(PMI), mantan pemain Liga 3 Jawa Timur ini resmi dikontrak oleh Sokół Pyrzyce,
klub yang berkompetisi di kasta kelima Liga Polandia (Klasa Okręgowa). Kisah
inspiratif pria berusia 28 tahun ini membuktikan bahwa pembatas negara dan
status pekerja migran bukanlah halangan untuk merajut mimpi di benua biru.
Menembus kompetisi Eropa tentu bukan perkara mudah bagi
seorang perantau. Tanpa peran agen pemain profesional, Slamet modal nekat dan
unjuk gigi secara langsung.
Kisah unik ini bermula saat ia mengisi waktu senggang
dengan menonton pertandingan sepak bola di sekitar tempat tinggalnya di Kota
Pyrzyce, Provinsi Pomerania Barat. Seusai laga, ia iseng mencicipi lapangan
bersama anak-anak setempat.
"Pas iseng main bola di sini, ada salah satu official
klub kota ini menawari saya untuk ikut latihan bersama. Setelah 2 bulan ikut
berlatih, akhirnya pelatih cocok dan saya resmi direkrut," ungkap Slamet
yang berposisi sebagai gelandang ini kepada KabarBanyuwangi.co.id, Kamis
(9/7/2026).

Slamet Santoso saat berlaga di kasta kelima
liga Polandia. (Foto: Istmewa)
Tantangan terbesar yang dihadapinya di awal karier adalah
administrasi yang panjang sebagai warga asing, kendala bahasa, serta cuaca
ekstrem yang silih berganti.
"Kalau bahasa saya tidak kursus, jadi ya otodidak saja
sambil berjalan di sini, berbekal bahasa Inggris dikit-dikit. Di sini cuacanya
kalau pas panas itu puanas sekali, tapi kalau pas musim dingin ya duingin,"
ucapnya dengan logat Jawa yang kental.
Status utamanya sebagai pekerja migran menuntut fisik prima
dan manajemen waktu yang sangat ketat. Beruntung, saat musim panas di Eropa,
waktu siang terasa lebih panjang sehingga mendukung jadwal latihannya yang
padat. Jam kerja pabrik selesai pukul 19.00, sedangkan jadwal latihan dimulai
pukul 19.00 waktu setempat.
"Begitu bel pulang kerja berbunyi, saya langsung
meluncur ke tempat latihan kalau pas ada jadwal," katanya.

Slamet mengais rezeki dengan menjadi buruh
pabrik di Polandia. (Foto: TikTok @slatem_16)
Demam Piala Dunia dan Panggilan 'Santi' di
Ruang Ganti
Kini, Slamet juga merasakan langsung atmosfer demam Piala
Dunia yang menjalar kuat di Polandia, mulai dari obrolan di pabrik hingga di
lingkungan klub.
"Di momen Piala Dunia ini, orang-orang di sini lumayan
fanatik sama sepak bola. Di pabrik atau di lingkungan sekitar klub, euforianya
terasa sangat kuat," cerita Slamet.
Saat ditanya tim jagoan, ia tertawa kecil karena tim
pilihannya sudah gugur. "Kebetulan saya menjagokan Portugal, dan kemarin
sudah kalah," ujar pengagum Cristiano Ronaldo ini.

Slamet saat resmi direkrut klub Sokół
Pyrzyce di kasta kelima Liga Polandia (Klasa Okręgowa). (Foto: Istimewa)
Meski begitu, sepak bola terbukti menjadi bahasa universal
yang mencairkan batasan budaya antara dirinya dan pemain lokal. Alih-alih
merasa terasing, Slamet justru kerap menjadi sasaran candaan ramah rekan
setimnya yang kesulitan melafalkan nama aslinya.
"Teman-teman setim itu suka panggil-panggil nama saya
tapi dibelokin. Nama saya kan Santoso, di lidah mereka berubah jadi 'Santi' atau apalah bahasa mereka.
Tapi dari candaan seperti itu kami malah makin akrab," tuturnya hangat.
Bagi Slamet, sepak bola di Polandia kini menjadi ruang
rekreasi sekaligus obat rindu paling mujarab pada kampung halaman tempat istri
dan anaknya menunggu.
"Saya di sepak bola mengalir saja. Hitung-hitung sepak
bola ini jadi pekerjaan sampingan sekaligus hiburan, biar lebih kerasan di
sini. Soalnya suka sepak bola memang dari kecil," pungkasnya. (man)
