
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar
Parawansa didampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melepas ekspor 270 ton
ikan sarden produksi Banyuwangi ke berbagai negara dengan total nilai mencapai
Rp10 miliar, Jumat (3/7/2026).
Produk tersebut dikirim menggunakan 10 kontainer menuju
pasar Eropa, Afrika, Uni Emirat Arab (UAE), Tanzania, Lebanon, hingga Kamboja.
Produk ikan sarden itu diproduksi oleh PT Pasific Harvest Indonesia, perusahaan
yang memfokuskan pada olahan makanan laut di Kecamatan Muncar, Banyuwangi.
Turut hadir pada pelepasan ekspor tersebut Wakil Bupati
Banyuwangi Mujiono, owner Pacific Harvest Aminoto dan Direktur Marketing
Pacifik Harvest Sherly Indrawati Aminoto.
Khofifah mengatakan ekspor tersebut menjadi bukti industri
pengolahan hasil perikanan di Banyuwangi terus berkembang. Meningkatnya
permintaan ikan siap saji di pasar global menjadi peluang yang harus
dimanfaatkan pelaku industri nasional.
"Ketika terjadi dinamika global di berbagai negara,
kebutuhan ikan siap saji justru meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi
Pacific Harvest untuk terus memperluas pasar ekspornya," kata Khofifah.
Direktur Marketing PT Pacific Harvest Indonesia, Sherly
Indrawati Aminoto, menjelaskan ekspor kali ini terdiri atas 10 kontainer, masing-masing
berisi 27 ton sarden. Perusahaannya selama ini telah mengekspor produk ke
berbagai kawasan, mulai Eropa, Afrika, Asia hingga Timur Tengah.
Meski biaya logistik ekspor, khususnya ke kawasan Timur
Tengah, meningkat tajam yang semula 700 dolar AS per kontainer menjadi 5.000
dolar AS akibat situasi geopolitik, Sherly mengatakan perusahaan tetap mampu
menjaga kinerja ekspor karena memiliki pasar yang tersebar di banyak negara.
"Pasar kami tidak hanya Timur Tengah, tetapi juga
Eropa, Afrika, Jepang, Australia, hingga negara-negara lain. Diversifikasi
pasar membuat kami tetap bisa bertumbuh meski ada tantangan global,"
ujarnya.
Sherly menambahkan perusahaan terus membuka pasar baru, di
antaranya Meksiko, Korea Selatan, Portugal, Spanyol, hingga sejumlah negara
Amerika Latin, sebagai bagian dari strategi memperluas ekspor produk olahan
hasil laut asal Banyuwangi.
Sebelum melepas ekspor itu, Gubernur Jatim juga meresmikan
pabrik kemasan kaleng PT Sunrise Masami Internasional, Muncar yang menjadi pemasok
kaleng bagi industri pengolahan hasil laut di Muncar dan tujuan ekspor.
Pabrik PT Sunrise Masami Internasional sendiri memiliki
kapasitas produksi sekitar 50 juta kaleng per bulan atau sekitar 600 juta
kaleng per tahun. Nilai investasi fasilitas tersebut mencapai sekitar Rp200
miliar dengan menyerap sekitar 200 tenaga kerja.
Kehadiran pabrik tersebut, kata Gubernur, sebagai langkah
strategis mengurangi ketergantungan impor bahan baku kemasan.
Keberadaan pabrik kaleng di Banyuwangi, kata Sherly,
membuat biaya produksi menjadi lebih efisien karena sebelumnya hampir seluruh
kebutuhan kemasan masih diimpor. Sebab, biaya kemasan tiap kaleng saja mencapai
sekitar 35 persen dari total biaya produksi produk kalengan.
"Dulu hampir 90 sampai 100 persen kaleng kami masih impor. Sekarang kami bekerja sama dengan perusahaan dari Tiongkok untuk memproduksi bodi dan tutup kaleng di Banyuwangi sehingga biaya bisa lebih efisien sekitar 10 hingga 15 persen," kata Sherly. (*)
