
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id - Upaya Pemkab Banyuwangi memperkuat
pembangunan yang inklusif mendapat dukungan langsung dari Liliane Foundation
(LF), lembaga nonpemerintah asal Belanda yang fokus pada pemenuhan hak dan
pemberdayaan anak serta pemuda penyandang disabilitas.
Dukungan tersebut disampaikan Programme Manager Liliane
Foundation Belanda, Classina Nicole, saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk
Fiestiandani di Banyuwangi, Selasa (22/9/2026). Pertemuan tersebut juga
dihadiri tim pelaksana nasional dari NLR Indonesia serta tim pelaksana program
di Banyuwangi, Aura Lentera dan Rumah Literasi.
Classina mengatakan, Liliane Foundation selama ini
mendukung anak-anak dan pemuda penyandang disabilitas di berbagai negara,
termasuk Indonesia, lewat kerja sama dengan mitra lokal.
Di Indonesia, program tersebut dilaksanakan NLR Indonesia
melalui Building Effective Networking (BEN). Saat ini program BEN berjalan di
delapan kabupaten/kota di tiga provinsi.
"Karena komitmen tinggi dari pemerintah dan
stakeholder di sini, Banyuwangi menjadi satu-satunya daerah yang mendapatkan
tiga program sekaligus,” ujar Classina.
Tiga program tersebut meliputi dukungan untuk Community
Based Rehabilitation (CBR) atau rehabilitasi bersumber daya masyarakat,
Meaningful Youth Participation yang mendorong pemberdayaan dan partisipasi anak
serta remaja, serta Body Talk yang berfokus pada pencegahan kekerasan seksual
berbasis gender.
Program tersebut dilaksanakan dalam periode 2025-2028.
Menurut Classina, kolaborasi dengan pemerintah daerah
menjadi penting untuk memastikan program yang dijalankan dapat memberikan
manfaat lebih luas dan berkelanjutan.
“Karena dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, kita
dapat membuat program yang benar-benar berkelanjutan dan saling melengkapi,”
katanya.
Sementara itu, Indah Catur Cahyaningtyas dari Aura Lentera
mengatakan, program BEN di Banyuwangi saat ini telah menjangkau 155 anak
penyandang disabilitas di tujuh desa.
Setiap anak mendapatkan pendampingan dari Community Based
Rehabilitation (CBR) Worker. Pendampingan tersebut dilakukan secara individual
dengan menggunakan Individual Rehabilitation Plan (IRP) Logbook, yakni catatan
khusus yang memuat identitas, hasil identifikasi dan asesmen, hingga intervensi
yang dibutuhkan masing-masing anak.
“Contohnya ada salah satu anak di Klatak yang menyandang
cerebral palsy dan membutuhkan terapi. Namun karena berasal dari keluarga
kurang mampu, mereka kesulitan membiayai terapi. Maka langkah awal yang
dilakukan CBR Worker adalah memastikan anak memiliki administrasi kependudukan
yang lengkap, kemudian dibantu mengakses berbagai layanan, seperti administrasi
kependudukan, jaminan sosial, termasuk PBI, maupun layanan terapi gratis,”
terang Indah.
Bupati Ipuk mengapresiasi dukungan Liliane Foundation
bersama NLR Indonesia dan para mitra pelaksana di Banyuwangi. Menurutnya,
kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan untuk memperluas akses dan memastikan pembangunan
dapat dirasakan seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas.
“Pemkab terus berkomitmen menjadi daerah inklusi melalui
berbagai program. Namun, tentunya tangan pemerintah sangat terbatas. Karena
itu, adanya dukungan dari Liliane Foundation dan segenap tim sangat kami
apresiasi,” kata Bupati Ipuk.
Banyuwangi selama ini terus mengembangkan berbagai
kebijakan dan program untuk mewujudkan lingkungan yang semakin inklusif. Salah
satunya melalui Rembug Disabilitas yang digelar setiap tahun.
Selain itu, Pemkab juga mengembangkan berbagai program
inklusi, di antaranya penguatan sistem layanan pendidikan inklusif, pembukaan
kesempatan karier bagi penyandang disabilitas melalui formasi Aparatur Sipil
Negara (ASN), pelatihan kerja terapan seperti pertukangan, serta fasilitasi
legalitas usaha bagi UMKM penyandang disabilitas, seperti Nomor Induk Berusaha
(NIB), PIRT, dan sertifikasi halal.
“Semangatnya adalah setara,” pungkas Ipuk. (*)
