
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor mendorong anak-anak muda Banyuwangi memanfaatkan potensi besar dari bonus demografi dengan peluang magang dan bekerja di luar negeri.
Hal itu disampaikan Wamenaker saat membuka Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Batch IV, Magang Hub Nasional, serta Magang ke Jepang hasil kerja sama dengan IM Japan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Banyuwangi, Selasa (22/9/2026).
"Di Indonesia sekarang bonus
demografinya besar sekali. Bagi mereka yang berminat ke luar negeri kita didik,
kita latih, kita berikan kompetensi dan skill yang memadai," ujar
Wamenaker.
Ia menjelaskan, Kemenaker saat
ini tengah gencar menggalakkan program bagi tenaga kerja profesional yang
menguasai keahlian khusus untuk ditempatkan di negara-negara mitra, salah
satunya Jepang.
Di Negeri Sakura tersebut, para
peserta magang dan tenaga kerja Indonesia ditempatkan di berbagai sektor
strategis seperti otomotif, pabrik, pertanian, hingga pengemudi (driver),
sesuai dengan kompetensi masing-masing serta perjanjian resmi antar-lembaga dan
pemerintah.
Banyak kisah sukses alumni tenaga
kerja Indonesia yang pernah menyelesaikan kontrak kerja tiga tahun di Jepang.
Selain mendapatkan pengalaman kerja internasional, mereka juga memperoleh
penghasilan yang sangat memadai.
"Sebagai gambaran, di sektor
otomotif ringan seperti teknisi bengkel ban, montir ganti oli, hingga perbaikan
ringan, itu mampu mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp21 juta per
bulan," ucapnya.
Ia juga mengapresiasi posisi
Kabupaten Banyuwangi yang menjadi salah satu daerah penyumbang tenaga kerja
terbanyak untuk penempatan di Jepang.
"Banyuwangi salah satu
terbesar untuk penempatan anak-anak kita ke negara Jepang. Keberadaan BPVP di
Banyuwangi ini bentuk komitmen kami untuk menciptakan anak-anak kita yang punya
kompetensi dan skill hebat-hebat, termasuk skill bahasa," sambungnya.
Lebih lanjut, Wamenaker menyebut kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Banyuwangi relatif sangat baik. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi mencatat kisaran 10.000 orang. "Ini luar biasa rendah, persentasenya kecil. Oleh karena itu harus kita dukung," ucap dia.
Ia pun mengajak masyarakat
memanfaatkan fasilitas vokasi secara optimal. Apalagi Presiden Prabowo Subianto
menaruh perhatian besar pada pengembangan SDM melalui alokasi kuota Pelatihan
Vokasi Nasional yang mencapai sekitar 220.000 orang khusus lulusan SMA/SMK, di
mana seluruh pembiayaannya ditanggung penuh oleh negara.
Sementara itu, Wakil Bupati
Banyuwangi, Mujiono membeberkan, tingkat pengangguran terbuka Banyuwangi
berhasil ditekan dari 4,03 persen menjadi 3,94 persen di tahun 2025.
Meski demikian, Wabup Mujiono
menekankan bahwa indikator pencapaian tersebut harus disikapi secara holistik
dan tidak hanya sekadar melihat penurunan angka statistik semata.
"Penurunan pengangguran itu
tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan penciptaan pekerjaan saja. Akan tetapi,
kita juga harus memperhatikan partisipasi angkatan kerja, kualitas pekerjaan,
produktivitas, tingkat pendapatan, dan jumlah penduduk usia kerja yang tidak
aktif dalam pasar kerja," tutur Mujiono.
Di tempat yang sama, Kepala BPVP
Banyuwangi, Susanto, memaparkan, pelatihan vokasi diikuti sebanyak 284 peserta.
Program yang dibuka cukup beragam mulai dari bidang pariwisata, bidang
pengelasan, pelatihan barista, hingga sektor pengolahan pangan dan pertanian
hidroponik.
"Sementara alumni dari BPVP
Banyuwangi yang sudah terserap di dunia kerja di tahun 2026 ini mencapai 1.720
orang, baik yang bekerja di industri maupun yang memilih jalur wirausaha
mandiri," terang dia.
Adapun untuk program Magang
Jepang kerja sama IM Japan telah memasuki tahun kedua. Pada tahun 2025 lalu,
terdapat sekitar 100 orang pendaftar dengan 95 orang diantaranya berhasil lolos
ke tahap seleksi awal. Sedangkan tahun 2026 ini setelah dilakukan penyaringan,
tersisa 84 peserta dari total 250 orang.
"Banyuwangi ini menjadi
pusat diklat fase pertama, sebelum nantinya para peserta melanjutkan ke diklat
fase kedua di pusat pelatihan IM Japan di Bekasi. Jadi, dua bulan mereka kita
godok di sini. Dua bulan berikutnya di Bekasi. Setelahnya dikirim ke
Jepang," beber Susanto.
Salah satu peserta program magang
IM Japan asal Banyuwangi, Mohammad Yahya Kamelasan mengaku sudah satu bulan menerima
pelatihan di BPVP Muncar bersama puluhan peserta lainnya.
"Jadi kurang satu bulan lagi sebelum lanjut diklat di pusat. Disini kami belajar penguasaan bahasa Jepang, tentang budayanya, hingga kedisiplinan," kata Yahya. (*)
