
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang memicu panas ekstrem tahun ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi kini tengah menyiapkan Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi Kemarau Panjang yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.
“Langkah ini menindaklanjuti
imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirilis
secara nasional terkait potensi kemarau panjang,” ujar Kalaksa BPBD Banyuwangi,
Partana, Senin (27/4/2026).
Ia mengatakan, meskipun pihaknya
berharap dampak El Nino tidak berakibat fatal, langkah antisipasi sejak dini
diperlukan. Strategi yang disiapkan mencakup mitigasi komprehensif terhadap
potensi kekeringan serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Satgas ini nantinya akan
melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah
(OPD) terkait di lingkungan Pemkab Banyuwangi, TNI-Polri, BMKG, Basarnas,
pengelola Taman Nasional Alas Purwo, hingga elemen masyarakat.
"Saat ini statusnya masih
kesiapsiagaan. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tim sudah siap," tegas
Partana.
Dalam proses mitigasi, BPBD telah
memetakan 11 kecamatan dengan tingkat kerawanan kekeringan tinggi. Wilayah tersebut
meliputi Wongsorejo, Tegaldlimo, Singojuruh, Blimbingsari, Kabat, Gambiran,
Purwoharjo, Siliragung, Muncar, Bangorejo, dan Pesanggaran.
Untuk wilayah dengan tingkat
kerawanan sedang, tercatat ada Kecamatan Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring.
Sementara itu, 10 kecamatan lainnya seperti Banyuwangi Kota, Rogojampi,
Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu masuk
dalam kategori kerawanan rendah.
"Selain pemetaan air bersih,
kami juga memberikan atensi khusus pada pemetaan titik-titik potensi kebakaran
hutan dan lahan di wilayah hutan produksi maupun taman nasional,"
imbuhnya.
Koordinasi telah dilakukan
melalui rapat awal dengan sejumlah stakeholder di Banyuwangi hingga tingkat
provinsi. Hal ini bertujuan agar setiap instansi dapat melakukan mitigasi
sesuai dengan wewenang dan kapasitas masing-masing.
Berdasarkan prediksi BMKG,
potensi kemarau panjang tahun ini dimulai sejak awal April dan diprediksi
mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September mendatang.
"Karena itulah kami
mengumpulkan seluruh stakeholders. Untuk OPD, tugas pokok dan fungsinya sudah
jelas. Peran utama ada di Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, dan PUDAM untuk
memastikan kecukupan debit air serta kelancaran suplai air bersih bagi warga,"
paparnya.
Meski tengah bersiap menghadapi
kemarau, BPBD juga tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi
lainnya seperti banjir dan angin kencang.
Pasalnya, dalam beberapa hari
terakhir, hujan dengan intensitas tinggi masih kerap mengguyur sejumlah wilayah
di Banyuwangi dan menyebabkan kenaikan debit air sungai.
"Salah satu dampaknya adalah amblesnya jembatan di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, akibat terjangan banjir beberapa hari lalu. Belum lama banjir juga terjadi di Kalibaru," terang dia. (*)