
Ilustrasi. (Foto: AI)
KabarBanyuwangi.co.id – Ada pesan penting yang terucap dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam momentum pengukuhan dan pelantikan pejabat eselon II, III dan IV Senin kemarin (18/5). Pesannya sangat sederhana dan padat namun syarat makna. “Bekerjalah dengan hati dan hati-hati”.
Kalimat ini bukan sekadar seruan biasa. Sebab itu bisa menjadi peringatan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Artinya sangat gamblang, ASN dituntut bekerja maksimal bukan sekadar di atas meja kerja, tetapi juga bisa memahami situasi di lapangan sebagai bentuk tanggung jawab etik dan menjaga kehormatan institusi pemerintahan.
Era
kepemimpinan Ipuk memang sangat getol membangun citra dan reputasi. Selama ini,
capaian demi capaian telah diraih oleh Banyuwangi. Penghargaan demi penghargaan
berhasil ditorehkan. Dan ini sangat jelas bahwa segala poin itu atas hasil
kerja kerja dan kolaborasi semua pihak.
Sangat mustahil
jika capaian prestasi itu tanpa kerja tepat sasaran. Birokrat memiliki posisi
strategis untuk mengamankan kebijakan. Sebab, mereka adalah pelaksana langsung
gagasan dan kebijakan pimpinan. Ingat, program sehebat apapun tidak akan sukses
tanpa kemampuan birokrat menerjemahkan dan mengeksekusi kebijakan secara tepat
di lapangan.
Yang menarik,
Bupati Ipuk memilih jalur damai dalam menghadapi dinamika politik maupun kritik
publik. Ia tidak menggunakan kekuatan “pasukan” atau pola konfrontatif untuk
membungkam pihak-pihak yang berseberangan. Padahal, tentunya, sebagai penguasa,
ia sangat mungkin menggunakan cara cara itu.
Sejauh ini,
Bupati Ipuk memilih jalan kerja nyata demi menjaga stabilitas pemerintahan.
Buktinya; Banyuwangi tetap diposisikan sebagai kabupaten dengan narasi positif
dan menarik perhatian publik Nasional.
Berkaca pada
peristiwa fenomena nasional, ketika elite politik mendapatkan tekanan, partai
maupun relawan biasanya bergerak total melakukan pembelaan secara terbuka.
Contoh adalah
ketika Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang menghadapi persoalan
hukum. Struktur partai bergerak masif melakukan konsolidasi demi membela.
Begitu pula saat Presiden Joko Widodo mendapatkan tekanan politik, kelompok
relawan bermama Projo pasang badan dan tampil menjadi tameng pertahanan.
Sementara
itu, rangkuman peristiwa di Banyuwangi selama ini tergolong landai. Gejolak
terkait kebijakan dianggap hal yang lumrah. Sekali lagi, Bupati Ipuk tidak
menggunakan mobilitas masa pendukung secara terbuka. Walaupun itu sangat bisa.
Karena itu,
pesan “bekerja dengan hati dan hati-hati” memang seharusnya dipahami lebih
dalam oleh birokrasi. ASN tidak boleh lengah terhadap isu liar, stigma miring
maupun persepsi publik yang berpotensi merusak citra dan kepercayaan pemerintahan.
Jika gagal menjalankan fungsi pengamanan, berarti pasukan di lingkup birokrasi
telah kecolongan. Dan, ini sangat tidak diharapkan oleh seorang bupati bernama
Ipuk Fiestiandani.
Coba
ditengok, jajaran pejabat terkini yang dirotasi. Dwi Handayani kini mengemban
amanah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga dari sebelumnya mengisi Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), RR Nanin Oktaviantie diplot sebagai Kepala Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) dari sebelumnya di Dinas Koperasi,
Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskop-UMP). Alfian akhirnya diangkat sebagai
pejabat definitif eselon II meskipun cuma mengisi "job” kepala Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan, dari sebelumnya hanya sebagai sekretaris sekaligus
Pelaksana Tugas (Plt) di Dinas Pendidikan (Dispendik).
Riza Al
Fahroby digeser dari sekretaris Dinas PU Pengairan (DPU Pengairan) menjadi
Sekretaris Dinas Perikanan. Ada juga camat yang bergeser dari level kecamatan
grid A turun ke grid B dan seterusnya.
Dengan
demikian, maka posisi DLH, Diskop-UMP dan Dispendik serta DPU Pengairan
dibiarkan kosong tanpa pejabat definitif dan tentunya akan diisi seorang
pelaksana tugas.
So, mutasi
memang dianggap umum bagi semua institusi. Meskipun lumrah, tetapi ada catatan
serius atas keputusan rotasi. Bisa naik level vertikal, bisa berpindah posisi
horizontal. Tapi, perlu diingat, bahwa mutasi juga dianggap sebagai teguran
untuk dijadikan pengingat. Bupati Ipuk benar-benar ingin mewujudkan
pemerintahan dengan loyalitas, penuh integritas, semangat kerja penuh dedikasi
dan profesional semata-mata untuk kebaikan rakyatnya.
(Penulis: ALI NURFATONI)