
Tim PkM Poliwangi mempraktikkan proses pengolahan limbah kotoran kambing perah menjadi kompos dengan bantuan mesin. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id - Politeknik Negeri Banyuwangi
(Poliwangi) kembali menghadirkan solusi teknologi terapan bagi sektor
peternakan daerah. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim
akademisi Poliwangi memberikan bantuan mesin pengolah kotoran hewan, sosialisasi
pembuatan kompos, serta pendampingan sertifikasi halal bagi peternak kambing
perah di Kulon Kali Farm, Desa Kalirejo, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.
Program PkM bertajuk "Peningkatan Kualitas Pengelolaan
Peternakan Kambing Perah di Kulon Kali Farm dengan Pemanfaatan Mesin Pengolah
Kotoran Hewan, Pendampingan Pengolahan Kotoran Hewan, dan Pendampingan
Sertifikasi Halal" ini diketuai oleh Indra Kurniawan, S.T., M.Eng. (Prodi
Teknologi Rekayasa Komputer).
Sinergi riset interdisipliner ini juga mengikutsertakan
dosen dari Jurusan Pertanian, yakni Dr. Harvey Febrianta, M.Si. (Prodi
Teknologi Pengolahan Hasil Ternak) dan Meireni Cahyowati, S.Pt., M.Sc. (Prodi
Teknologi Produksi Ternak).
Seluruh rangkaian PkM berlangsung sejak April hingga
Oktober 2026, dengan puncak acara pelatihan dan sosialisasi yang diikuti oleh
20 peserta peternak setempat pada 5 Agustus 2026.
Ubah Limbah Jadi Kompos Bernilai Jual Tinggi
Kegiatan pengabdian ini berangkat dari dua tantangan utama
yang dihadapi oleh peternak lokal, yakni pengelolaan limbah kotoran ternak
serta pentingnya legalitas halal untuk pemasaran produk susu.

Para peternak kambing di Desa Kalirejo, Kabat
antusias ikuti pelatihan dan sosialisasi dari tim PkM Poliwangi. (Foto:
Istimewa)
Ketua Tim PkM Poliwangi, Indra Kurniawan, S.T., M.Eng.,
menjelaskan bahwa penanganan limbah kotoran kambing selama ini belum
dimanfaatkan secara maksimal oleh para peternak.
"Selama ini kotoran ternak hanya dikeringkan dan
dijual dalam bentuk curah sederhana. Padahal, jika diolah secara fermentasi
menjadi pupuk kompos menggunakan mesin penghalus, nilai jualnya bisa meningkat
sepuluh hingga lima belas kali lipat dibanding sekadar kotoran kering
biasa," ujar Indra Kurniawan, dalam keterangannya yang diterima Senin
(26/10/2026).
Ia menambahkan bahwa selain inovasi alat, pendampingan
sertifikasi halal juga menjadi krusial untuk memperkuat branding dan
kepercayaan konsumen.
"Produk susu kambing kemasan dari mitra sebenarnya
sudah dipasarkan, namun belum mengantongi sertifikasi halal. Penjelas tata cara
dan pendaftaran halal ini sangat penting untuk meningkatkan nilai jual dan daya
saing produk di pasar Banyuwangi," jelasnya.
Pelatihan Lintas Sektor dan Pendampingan
Berkelanjutan
Pelaksanaan PkM mencakup tiga tahapan utama:

Usai kegiatan, tim PkM dan para peternak
berswafoto dengan menunjukkan mesin pengolahan kotoran hewan. (Foto: Istimewa)
Seluruh peserta mengikuti rangkaian acara secara
interaktif, mulai dari pengisian pre-test, praktik langsung pengoperasian alat,
hingga post-test.
Kehadiran program PkM Poliwangi ini mendapat sambutan amat
positif dari Ilza Fikri Kurniawan selaku pemilik Kulon Kali Farm beserta para
peternak Desa Kalirejo. Pihak mitra menilai bantuan mesin penghalus serta
edukasi pembuatan kompos sebagai solusi tepat sasaran yang langsung menjawab
masalah limbah harian peternakan, seraya berharap program pendampingan serupa
dapat terus berlanjut demi kemajuan peternak kambing perah secara luas.
Untuk memastikan dampak yang berkelanjutan, tim Poliwangi
juga melakukan evaluasi dan pendampingan berkala pasca-kegiatan agar manfaat
teknologi terapan ini dirasakan secara maksimal oleh masyarakat. (*)
