
Analis Maxco Futures, Andrew Fischer prediksi penguatan Dolar AS dan volatilitas tinggi di Selat Hormuz usai gencatan senjata Amerika Serikat-Iran gagal. (Foto: Maxco Futures)
KabarBanyuwangi.co.id – Ketidakpastian geopolitik kembali mengguncang pasar finansial global setelah upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu. Amerika Serikat (AS) dan Iran saling menuding pelanggaran gencatan senjata setelah kedua negara sepakat untuk menghentikan sementara peperangan yang terjadi sejak akhir Februari.
Iran menuduh AS mencederai perjanjian dengan membiarkan Israel menyerang Lebanon, sementara Teheran juga menghadapi tuduhan serupa karena dilaporkan mengenakan biaya pada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Serta pada kenyataannya, jalur ini memang belum sepenuhnya terbuka dan bahkan dikontrol ketat oleh Iran, menyebabkan ratusan kapal tertahan dan meningkatkan ketegangan global. Di tengah situasi ini, upaya diplomasi terus berjalan dengan rencana perundingan lanjutan di Pakistan pada Jumat.
Dalam analisa harian di Maxco Futures mencatat, bahwa kegagalan diplomasi ini telah memicu kembalinya penguatan Dolar AS (USD) seiring dengan meningkatnya status aset tersebut sebagai safe haven di tengah situasi yang kian rapuh.
Analis Maxco Futures, Andrew Fischer, menjelaskan bahwa retaknya kesepakatan ini dipicu oleh perbedaan kepentingan strategis yang mendalam. Iran menilai kesepakatan telah dilanggar akibat aktivitas militer di Lebanon, sementara AS terus menekan Teheran terkait pembukaan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia yang hingga kini masih dikontrol ketat oleh Iran, menyebabkan ratusan kapal pengangkut tertahan.
"Situasi saat ini menunjukkan adanya fragile ceasefire atau gencatan senjata yang sangat rapuh. Kepercayaan antara kedua belah pihak hampir tidak ada, dan ini berdampak langsung pada volatilitas pasar yang ekstrem. Bagi trader, kondisi ini menciptakan peluang sekaligus risiko yang harus dikelola dengan rencana trading yang sangat disiplin," ujar Andrew Fischer saat diwawancarai, Jumat (10 April 2026).
