Konsisten Berdayakan UMKM, BRI Dukung Klaster Usaha Bambu di Gintangan Tetap EksisBRI Banyuwangi


Konsisten Berdayakan UMKM, BRI Dukung Klaster Usaha Bambu di Gintangan Tetap Eksis

Keterangan Gambar : Salah satu UMKM Kerajinan Bambu binaan BRI Banyuwangi di Desa Gintangan. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Sebagai bank terbesar di Indonesia yang fokus memberdayakan segmen ultra mikro dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendorong agar segmen tersebut bisa bangkit dan tetap eksis di tengah pandemi.

Komitmen nyata dalam mendorong terwujudnya hal tersebut ditunjukkan melalui pendampingan, edukasi, serta pelatihan untuk pengembangan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM, maupum klaster usaha produktif.

Salah satu peran aktif tersebut ditunjukkan oleh BRI Banyuwangi dengan pemberdayaan klaster usaha produktif bambu di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

Baca Juga :

Perlu diketahui, Desa Gintangan ini telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu, seperti kukusan, saringan irig, tenong, kipas, tempat tisu, wayang, serta berbagai jenis kerajinan lainnya.

Terdapat sekitar 70 pengrajin bambu yang dibantu oleh 5–15 orang karyawan, dengan kapasitas produksi 20 buah produk setiap harinya. Melihat potensi ini, BRI Banyuwangi hadir melakukan pendampingan kepada pengrajin bambu untuk berkembang dan tetap eksis.

”BRI Banyuwangi tetap berkomitmen selalu hadir di tengah masyarakat Desa Gintangan dengan memberikan dukungan, pendampingan, edukasi, serta pelatihan untuk pengembangan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM. Khususnya pengembangan Desa Gintangan untuk go digital," ujar Sari Wahono, Pemimpin Cabang BRI Banyuwangi.


Tugu penguat ikon Desa Gintangan bantuan dari BRI Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

Langkah nyata tersebut ditunjukkan dengan jumlah nasabah simpanan yang mencapai 2.010 orang, dengan jumlah simpanan sebanyak Rp. 2 miliar, serta 610 nasabah pinjaman dengan outstanding Rp. 14 miliar.

Selain dari sisi bisnis, BRI Banyuwangi juga memberikan edukasi kepada pengrajin bambu untuk merubah pola pemasaran usaha kerajinan anyaman bambu yang sebelumnya.

"Dari yang awalnya mereka memasarkan secara konvensional, kita arahkan untuk beralih menjadi digital melalui marketplace, serta pemanfaatan media sosial yang sedang populer saat ini," ungkap pria yang akrab dipanggil Sarwo tersebut.

Syukron Makmur, salah satu Owner UMKM Klaster Kerajinan Anyaman Bambu dari Desa Gintangan mengaku senang menjadi UMKM binaan BRI. ”BRI mensupport kami mulai dari pendampingan, pemasaran, hingga permodalan," akunya.

Selain itu, masih kata Syukron, BRI Banyuwangi juga memberikan bantuan berupa pembangunan tugu dan papan nama sebagai identitas dan penguatan ikon desanya sebagai desa pengrajin bambu.

”Adanya tugu Desa Gintangan ini memperkuat identitas kami agar semakin dikenal. Tidak hanya di Banyuwangi, namun di Indonesia," tutupnya. (man)