
Pasar Wit-Witan, Alasmalang, Singojuruh mendapat aset gapura bambu berteknologi modern dari tim PkM Poliwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Politeknik Negeri Banyuwangi
(Poliwangi) melalui Jurusan Teknik Sipil kembali membuktikan kontribusi
nyatanya dalam memajukan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Mengandalkan inovasi teknologi konstruksi, tim pengabdian
Poliwangi resmi menyerahkan aset berupa gapura bambu berteknologi modern untuk
mempercantik kawasan wisata Pasar Wit-Witan di Desa Alasmalang, Kecamatan
Singojuruh, Banyuwangi, Selasa (13/10/2026).
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diketuai
oleh Eva Olivia Hutasoit, S.T., M.T. dari Jurusan Teknik Sipil, dengan anggota
tim dosen Mohamad Galuh Khomari, S.Pd., M.T. dan Kanom, S.Pd., M.Par.
Sinergi riset vokasi ini juga melibatkan empat mahasiswa
dari Program Studi Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan (TRKJJ),
yaitu Devi Listiana Saputri, Karisha Ayu Agata, Endra Dwi Andika, dan Dika
Ardiansyah.
Acara sosialisasi dan penyerahan aset tersebut disambut
antusias oleh Kepala Desa Alasmalang H. Munir, Ketua Kelompok Sadar Wisata
(Pokdarwis) Slamet, pengelola pasar, serta masyarakat setempat yang siap
mendukung keberlanjutan pemanfaatan infrastruktur baru tersebut.

Ketua Tim PkM Poliwangi, Eva Olivia Hutasoit
tunjukkan dokumen penyerahan ke perangkat desa. (Foto: Istimewa)
Teknologi Sambungan Modern untuk Destinasi
Budaya
Gapura bambu yang berdiri kokoh di pintu masuk Pasar
Wit-Witan dirancang secara khusus menggunakan teknik sambungan Double Butt Bent
Joint. Inovasi ini menjadikan struktur bambu jauh lebih kuat, stabil, tahan
lama, dan berestetika tinggi tanpa merusak nuansa alami kawasan.
Ketua Tim Pengabdian Poliwangi, Eva Olivia Hutasoit, S.T.,
M.T., menjelaskan bahwa penerapan teknologi terapan ini bertujuan untuk
memperkuat struktur fisik sekaligus mengedukasi mahasiswa di lapangan.
"Penerapan teknologi sambungan Double Butt Bent Joint
ini bertujuan untuk memberikan kekuatan ekstra dan stabilitas pada struktur
bambu, sehingga usia pakai gapura menjadi lebih optimal tanpa mengabaikan nilai
estetika kawasan," terangnya dalam keterangan tertulis.
"Keterlibatan mahasiswa TRKJJ juga memberikan
pengalaman langsung dalam mengaplikasikan ilmu teknologi material untuk
menjawab kebutuhan nyata masyarakat," imbuh Eva Olivia Hutasoit.

Usai sosialisasi, tim PkM Poliwangi dari
Jurusan Teknik Sipil berwafoto dengan tokoh masyarakat Desa Alasmalang,
Singojuruh, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
Sinergi Positif Peningkatan Pariwisata Desa
Kehadiran gapura ikonik ini mendapat apresiasi hangat dari
pemerintah desa dan pengelola destinasi wisata. Pihak Desa Alasmalang menilai sentuhan
inovasi dari Poliwangi mampu mempertegas identitas Pasar Wit-Witan sebagai
destinasi berbasis budaya dan kearifan lokal.
Sementara itu, pihak Pokdarwis bersama pengelola pasar
berkomitmen penuh untuk merawat dan menjaga kelestarian aset gapura bambu ini
agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh para pelaku
UMKM dan masyarakat sekitar.
Selain penyerahan unit bangunan, tim Poliwangi juga
memberikan edukasi teknis mengenai pemeriksaan kondisi struktur dan tata cara
pemeliharaan bambu secara berkala agar kondisi bangunan tetap aman dan kokoh.
Langkah ini makin mempertegas komitmen Poliwangi dalam melahirkan riset terapan
yang mendorong terwujudnya desa wisata yang kreatif, mandiri, dan berdaya
saing. (adv/man)
