
Aksi rider menaklukkan trek BIG Downhill 2026. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id – Banyuwangi Ijen Geopark (BIG) Downhill 2026 berlangsung selama dua hari pada 19-20 September. Event bertaraf internasional ini menyajikan aksi-aksi ekstrem dan persaingan keras dari ratusan downhiller.
Sebanyak 214 pembalap dari 20 kelas bersaing ketat menaklukkan lintasan sepanjang 2,3 kilometer dengan elevasi lebih dari 350 meter di Gantasan Bike Park di lereng Gunung Ijen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin.
Gantasan Bike Park menyajikan trek ekstrem dan beragam
obstacle. Selain karakter line yang keras dan licin, terdapat pula berbagai
rintangan seperti drop, big drop, rock garden, berm, hingga table top.
Di kelas Men Elite, Agung Prio Apriliano dari Astrindo
Racing Team menampilkan performa impresif dan keluar sebagai juara setelah yang
menjadi tercepat dengan catatan waktu 3 menit 18,249 detik.
Disusul Pahraz Salman Alparisi dari Underdog PSA harus
puas di peringkat kedua dengan torehan waktu 3 menit 20,414 detik. Sementara
peringkat ketiga diraih Yosi Saputro dari YETI Tribe dengan catatan waktu 3
menit 22,120 detik.
Agung mengaku bersyukur bisa menjadi jawara di kelas Men
Elite BIG Downhill 2026, setelah sebelumnya di sesi seeding run sempat
mengalami mechanical trouble yaitu pecah ban depan di rock garden.
"Tidak bisa maksimal saat seeding run tentu
memengaruhi mental dan ada tekanan lebih besar. Tapi, kunci kemenangan saya
adalah berusaha untuk tetap percaya diri dan lebih antisipatif menambah tekanan
angin agar tidak pecah ban lagi,” ujar Agung.
Kelas Women Elite juga menyuguhkan kompetisi yang tak
kalah sengit dari para srikandi downhill Indonesia. Kombinasi trek yang
menantang dengan cuaca yang panas dan kering mampu dilahap Nilna Murni Ningtyas
yang akhirnya berdiri di podium tertinggi.
Atlet andalan Spartan Racing Team itu mencatatkan waktu 3
menit 48,214 detik. Ia unggul atas Milatul Khaqimah dari Nukeproof Axxes Racing
Team di urutan kedua yang menorehkan waktu 3 menit 49,567 detik. Sedangkan
peringkat ketiga ditempati Ayu Triya Andriana dari Alaska Squad dengan 3 menit
53,159 detik.
“Sempat gugup saat final run karena saya start terakhir
dan rider-rider lain juga kencang. Tapi, saya sanggup mengendalikan emosi dan
fokus dengan strategi sendiri,” kata Nilna.
Lintasan di Gantasan Bike Park tahun ini panjang, jadi
tidak hanya mengandalkan skill, tapi juga menuntut fisik dan settingan sepeda
yang tepat. Dari awal target saya memang menjadi juara di sini, alhamdulillah
sanggup memenuhinya,” imbuhnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi
terselenggaranya BIG Downhill 2026. Ia juga mengucapkan selamat bagi para
pemenang dan menyampaikan terima kasih atas kelancaran event ini.
"Event ini luar biasa. Kehadiran para atlet dan
wisatawan turut menggerakkan ekonomi lokal, khususnya bagi para pelaku UMKM,”
ujar Ipuk.
Menurut Ipuk, Banyuwangi terus mengembangkan sport
tourism sebagai bagian dari sektor pariwisata daerah. Sejumlah event sepeda
telah rutin digelar, mulai dari Push Bike, BMX, BIG Downhill, hingga agenda
Gravel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Ketua Panitia Penyelenggara BIG Downhill, Munif
mengatakan, ajang ini telah memasuki penyelenggaraan ke-7 dan konsisten menjadi
agenda resmi UCI. Dalam tiga tahun terakhir, tingkatan kompetisi ini bahkan
sudah berstatus UCI Class 1 (C1).
"Dampak ekonominya sangat terasa. Homestay di
kawasan sekitar perhelatan hingga ke wilayah Glagah terisi penuh. Kebutuhan
konsumsi dan oleh-oleh peserta juga memutar roda ekonomi warga lokal. Semoga ke
depan acaranya makin besar dan meriah,” ucap Munif.
Munif menilai penyelenggaraan tahun ini memenuhi
ekspektasi sebagai kejuaraan downhill yang lebih kompetitif, tidak hanya bagi
atlet di kelas prestasi, namun juga di kelas hobi dan pemula.
"Beragam tantangan dan obstacle di Gantasan Bike
Park, menghadirkan challenge besar yang menuntut peningkatan skill dan performa
yang nyata dari para peserta. Terima kasih kepada para rider dan semua yang
terlibat," imbuhnya.
Perwakilan 76Rider, Agnes C. Wuisan, mengatakan BIG
Downhill tidak hanya jadi wadah kompetitif bagi para downhiller nasional,
kejuaraan ini punya daya tarik yang besar dari sisi kemasan sportainment berkat
keunikan bentang alam kawasan Ijen Geopark Banyuwangi serta karakteristik
lintasan yang sangat menantang.
“Dengan kemasan sportainment event yang semakin
meningkat, kami berharap BIG Downhill akan memberi kontribusi yang makin
signifikan bagi perkembangan ekosistem dan prestasi downhill di Indonesia,”
sebut Agnes. (*)
