
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Upaya Pemkab Banyuwangi dalam pengelolaan sampah secara sirkular telah diimplementasikan hingga ke level sekolah. Salah satunya SMP Negeri 3 Banyuwangi yang tidak berhasil mengolah sampah secara terstruktur dan berkelanjutan, namun juga memiliki bank sampah yang dikelola langsung oleh siswanya.
Memasuki SMPN 3 Banyuwangi kita akan merasa berada di tengah hutan kota. Pohon-pohon besar menjulang tinggi nan rimbun menaungi bangunan-bangunan sekolah.
Daun-daun dan ranting dari pohon
tersebut yang dulunya menjadi sampah justru kini menjadi aset ekonomis bagi
para pengelola sampah sekolah.
Para siswa dan pendidik telah
mampu mengelola daun dan ranting menjadi produk bernilai ekonomis. Tak hanya
itu, sisa makanan dari siswa juga dikumpulkan mereka untuk diolah
bersama.
Bertempat di belakang bangunan
utama sekolah, para “pejuang lingkungan” tersebut memproses sampah-sampah yang
berhasil kumpulkan mereka setiap harinya.
Prosesnya dilakukan secara
bertahap, mulai dari pengumpulan daun kering, kemudian diolah menjadi kompos
setengah matang, hingga menjadi kompos siap panen yang selanjutnya dikemas
sebagai pupuk organik berkualitas premium.
Pupuk hasil olahan siswa tersebut
bahkan telah dipasarkan dengan harga sekitar Rp7.500 per kemasan. Selain
kompos, siswa juga memproduksi eco enzyme dan pupuk organik cair (POC) yang
dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di lingkungan sekolah.
“Sisa makanan dari MBG juga kami
kelola sebagai pakan maggot. Hasilnya kemudian digunakan untuk pakan ikan nila
yang ada di kolam sekolah,” cerita M. Fadil siswa kelas 8 yang aktif mengelola
sampah kepada Bupati Ipuk yang mengunjungi sekolah tersebut, Selasa (9/4/2026).
Fadil mengatakan telah mengikuti
kegiatan pengelolaan sampah sejak kelas 7. Ia mengaku tertarik karena memiliki
minat pada kegiatan pertanian.
“Sejak kelas 7 sudah ikut
mengelola sampah. Di rumah juga suka tanam-tanam, jadi senang bisa praktik
langsung di sekolah,” ujarnya.
Bupati Ipuk mengaku sangat mengapresiasi
sekolah yang dipimpin Kepala Sekolah Holilik tersebut. Dia berharap program
serupa dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengelola sampah secara
berkelanjutan.
“Ini sangat bagus, anak-anak sudah belajar mengelola sampah dengan benar dan bisa menghasilkan produk yang bermanfaat. Tinggal terus dikembangkan agar lebih optimal dan berkelanjutan. Ini bisa menjadi role model. Sekolah lain bisa meniru dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing,” ungkap Ipuk.
SMPN 3 Banyuwangi dikenal sebagai
sekolah yang syarat prestasi. Salah satunya meraih penghargaan Adiwiyata
Mandiri, predikat tertinggi dalam program sekolah berbudaya lingkungan.
“Sekolah kami juga sebagai sekolah pelopor yang mengintegrasikan edukasi Geopark Ijen ke dalam kurikulum pembelajaran. Kami juga memiliki fasilitas "Geopark Corner," Duta Geopark, dan modul pembelajaran khusus, serta pernah dikunjungi asesor UNESCO dan Badan Geologi,” terang Holilik, Kepala Sekolah SMPN 3 Banyuwangi. (*)